Unduh Aplikasi

Harga Beli CPO Terus Anjlok, Pengusaha Pabrik Kelapa Sawit Menjerit

Harga Beli CPO Terus Anjlok, Pengusaha Pabrik Kelapa Sawit Menjerit
Ilustrasi. Foto: Net

ACEH BARAT - Harga beli minyak kelapa sawit mentah atau CPO (Crude Palm Oil) saat ini terus mengalami tren negatif di pasaran. Akibatnya Perusahaan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) yang selama ini mengolah CPO terancam gulung tikar, lantaran harga beli yang tidak sesuai dengan biaya produksi yang dikeluarkan para pengusaha CPO.

Harga beli CPO saat ini hanya Rp 6.300 per kilogram, untuk harga kernel atau bahan inti minyak kelapa sawit saat ini hanya berkisar 3,350 per kilogramnya.

Salah satu pengusaha PKS asal Nagan Raya, Jamalulddin berharap agar harga beli CPO yang saat ini terus merosot di pasaran dapat distabilkan oleh pemerintah dibawah kendali Kementerian Perdagangan.

Baca: Harga Sawit Anjlok, Omset Penampung Sawit Turun 40 Persen

Menurut pemilik PKS Ujong Neubok Dalam, Kabupaten Nagan Raya ini, murahnya harga beli PKS saat ini tidak hanya mengancam pengusaha PKS yang ada di Aceh, namun juga para petani atau pekebun sawit, lantaran harga Tandan Buah Segar (TBS) di tingkat petani terpaksa ditampung Rp 800 per kilogramnya.

"Murahnya CPO berdampak mulai dari pengusaha PKS hingga para petani. Harga beli memang berubah-rubah. Dia menurut harga KPB untuk saat ini Rp 6.300 per kilogramnya," kata Jamaluddin, saat dihubungi AJNN, melalui telepon selularnya.

Menurut Jamaluddin, harga akan menguntungkan pengusaha KTS maupun petani apabila mampu distabilkan pemerintah, dengan minimal Rp 7.300 per kilogramnya. Untuk itu ia berharap adanya upaya pemerintah menstabilkan harga beli CPO maupun kernel.

Jika harga terus anjlok, kata dia, tidak tertutup kemungkinan satu per satu PKS tutup lantaran tidak mampu lagi menanggung biaya produksi, dan tanggung jawab pemerintahlah menurutnya melindungi para petani sawit serta pengusaha PKS terutama pengusaha lokal.

Terkait hasil rapat Kelompok Kerja Teknis Tim Rumus Harga TBS kelapa sawit produksi petani di Provinsi Aceh yang ditetapkan setiap bulan sebagai acuan, menurut Jamaluddin sangat sulit untuk dipenuhi oleh PKS. Sebab, standard harga yang ditetapkan setiap bulan tidak sejalan dengan fluktuasi harga sawit internasional yang sangat dinamis dan berubah setiap waktu.

"Demi keberpihakan kepada petani, kami belum pernah memikirkan untuk menghentikan produksi. Meski dalam situasi sulit, kami akan berupaya maksimal menjalankan produksi guna menampung sawit petani. Sembari berharap harga minyak sawit dunia segera membaik," ucapnya.

Penetapan harga standard Pemerintah Provinsi, kata dia, menempatkan PKS dalam posisi dilematis. Jamaluddin yakin jika PKS dipaksakan menampung sawit sesuai harga penetapan pemerintah, Dapat dipastikan pabrik pengolahan akan berhenti berproduksi dan tutup.

Komentar

Loading...