Unduh Aplikasi

Harga Anjlok, Petani Sawit di Aceh Timur Merugi

Harga Anjlok, Petani Sawit di Aceh Timur Merugi
Foto: Ist

LHOKSEUMAWE - Sebulan terakhir ini petani sawit di Kabupaten Aceh Timur meradang. Pasalnya, harga Tandan Buah Segar (TBS) di tingkat petani terjun bebas alias anjlok. Sebelumnya harga sawit mencapai Rp1,2 ribu hingga Rp1,5 ribu, kini turun menjadi Rp600 hingga Rp450.

Salah seorang petani sawit di Gampong Bayeun, Kecamatan Rantau Selamat, Kabupaten Aceh Timur, Teuku Razali mengatakan, biasanya harga komoditi sawit ditetapkan oleh Kementerian. Yang menjadi masalah saat ini sebelum meugang lebaran Idul Fitri 1440 Hijriah harganya anjlok dan turun drastic.

“Mulai dari sebelum lebaran agen membeli Rp600 bahkan kadang ada yang Rp450 saja,” kata Teuku Razali kepada AJNN, rabu (19/6).

Sambungnya lagi, dengan kondisi harga yang anjlok total saat ini, petani tidak bisa memanenkan TBS tersebut, pasalnya ongkos saja sudah Rp300 belum lagi ongkos angkut. Sehingga jika panen para petani harus nombok, alias malah merugi tidak ada keuntungannya.

“Kalau sawit ini tidak bisa kami simpan, apalagi sekarang lagi tiba musim panen, jadi mau tidak mau harus dipetik setiap 15 hari sekali, kalau tidak buahnya akan membusuk. Disini petani malah merugi, karena pupuk mahal, ongkos perawatan dan ongkos angkut tidak sesuai dengan hasil,” keluhnya lagi.

Harga normal sawit biasa menurut Razali mencapai Rp1.9 ribu, namun beberapa waktu lalu turun menjadi Rp1,5 ribu hingga Rp1,2 ribu per kilogram, dan sekarang malah anjlok menjadi Rp600 hingga Rp450 per kilogram.

“Jika enggak ada hasil kebun harga naik, jika sekarang lagi musim panen malah anjlok, dan kami menduga disini ada permainan dari Pabrik Kelapa Sawit (PKS), karena setelah kita telusuri di Medan harga tetap Rp1,5 ribu per kilogram,” ungkapnya.

Menurutnya, dalam menentukan harga sawit ini punya peran dari pemerintah, baik itu di daerah maupun provinsi, mereka punya hak untuk mengawal hal tersebut. Namun, hingga hari ini intansi terkait tersebut hanya diam saja melihat para petani kelapa sawit menjerit karena merugi.

“Disini kami lihat harga CPO turun, minyak makan naik, sementara harga limbah sawit mereka lebih tinggi mencapai seribuan lebih, jadi apa yang menyebabkan TBS di tingkat petani anjlok. Kami berharap kepada pemerintah supaya memberikan solusi atas hal ini, selain itu kita meminta mereka mengawal dan mengusut atas kejanggalan ini, karena kami masyarakat sekarang hanya bisa menjerit karena merugi,” imbuhnya.

Ucapan Selamat Pelantikan DPRA - Aceh Barat
iPustakaAceh
Ucapan Selamat Pelantikan DPRA - Pemerintah Aceh

Komentar

Loading...