Unduh Aplikasi

Harapan masyarakat pasca 10 tahun tsunami

BANDA ACEH-Tragedi mengerikan terjadi 2004 lalu. Gelombang tsunami memporak-porandakan tanah Aceh. Sebanyak 168.000 orang meninggal dan ribuan masyarakat Aceh belum ditemukan hingga kini.

Sepuluh tahun berlalu, namun hingga kini masih menyisakan perih bagi para korban. Seperti yang dialami Jamaliah.

Meski sudah bertemu kembali dengan putranya, Arif Pratama (16), yang terpisah sejak peristiwa itu, Jamiliah masih diselimuti kesedihan.

Dua adik kandungnya dan empat anggota keluarga dari kakaknya, serta puluhan saudara dari ayahnya, hingga kini masih belum ditemukan. "Masih banyak keluarga ibu yang hilang," ujar Jamiliah saat berbincang dengan tvOne, Jumat 26 Desember 2014.

Meski begitu, Jamiliah pasrahkan kepada Tuhan. Semua itu, katanya, cobaan kepada manusia. Kepada Pemerintah, dia berharap agar mengupayakan untuk mempertemukan anak yang terpisah dari keluarganya paska tsunami 2004.

"Ibu berharap Aceh lebih maju, taat beragama. Keluarga masyarakat Aceh kehilangan. Mungkin masih ada anak-anak jalanan korban tsunami, ibu minta pemerintah supaya anak-anak jalanan itu diperhatikan. Mungkin sebagian dari mereka adalah korban tsunami. Karena semua orangtua berharap anak-anak mereka kembali. Seperti ibu," ujar Jamiliah.

Jamiliah dan Septi Rangkuti bertemu kembali dengan putra mereka, Arif Pratama, setelah 10 tahun terpisah akibat tsunami.

Jamiliah bertemu Arif di Kota Payakumbuh, Sumatera Barat, Senin 18 Agustus 2014. Seorang perempuan setempat, Lana Bestari (30), yang menemukan Arif kali pertama. Di kota itu, Arif hidup sebagai gelandangan. Warga di sana sering memanggilnya Ucok.

"Saat bertemu dia masih ingat, dia bilang, itu amakku, itu ayahku, itu adikku, itu abang, itu paman. Ingat dia. Dari situ itulah kurangkul dia, lalu dia bilang, mak aku mau pulang, aku rindu pulang ke Aceh. Saya bilang, iya kita pulang ke Aceh," ujar Jamiliah.

Jamiliah begitu sedih melihat anaknya berkeliaran di jalanan Payakumbuh. Sembari menceritakan keseharian anaknya selama terpisah dari dirinya, ia tak kuasa menitikkan air mata.

VIVA

Komentar

Loading...