Unduh Aplikasi

Opini

Hapuskan UN untuk kesuksesan pendidikan karakter

Hapuskan UN untuk kesuksesan pendidikan karakter
UN, Penulis

OLEH : SUHELAYANTI, M.PD.I




Penulis

20 Mei 2014 telah diumumkan hasil Ujian Nasional (UN) tingkat menengah atas yang mana tes sudah dilakukan pada tanggal 14 – 16 April 2014. Direspons oleh para pelajar dengan keceriaan yang mendalam dan perayaan yang beragam. Beragamnya versi penambutan pengumuman hasil ujian nasional ini jelas tampak kita liat di sekitar kita melalui media massa dan elektronik baik dengan coret-coretan baju, pesta minuman keras, konvoi di jalan dan yang paling meresahkan masyarakat yakni memicu bentrokkan antara pelajar sekolah satu dengan yang lainnya.


Dari sekian banyak hal negatif tersebut bukan kebahagiaan saja namun disambut dengan penilangan sepeda motor, pengamanan di ruang sel karena mabuk-mabukkan bahkan ada pelajar perempuan dan pelajar laki-laki melakukan hubungan intim disaat dinyatakan lulus sebagai aksi dari perayaan tersebu, meskipun tidak dipungkiri ada sebagian pelajar yang tidak melakukan coret-coret baju akan tetapi bajunya menjadi sangat bernilai disumbangkan dan ada juga sujud syukur menyambut pengumuman dengan rasa bahagia dan haru.

Tidak hanya peserta didik yang benar – benar belajar dan menantikan pengumuman kelulusan akan tetapi para pendidik, orang tua bahkan kepala daerah sendiri mampu memusatkan perhatiannya kepada UN ini mengingat jika tidak lulus UN siswa tidak bisa melanjutkan ke jenjang berikutnya.
Carut –marut kualitas pendidikan Indonesia mulai dari peserta didik, orang tua, praktisi pendidikan dan seluruh dunia membidik mata ke Indonesia terkait kualitas pendidikannya. Berbicara tentang kualitas pendidikan tentunya berbicara kurikulum. Sudah menjadi hal yang biasa di pendengaran ini bahwa kurikulum yang ada di indonesia selama ini merupakan ajang coba-coba dimana implementasi secara merata dan pengawasan yang kuat belum maksimal sudah mengubah kurikulum lagi. Tidak di pungkiri tercapainya tujuan pendidikan melalui kurikulum tentunya di ukur dengan penilaian atau evaluasi.

Ujian Akhir Nasional (UAN) dulu merupakan momok dalam pendidikan pada masa KBK dan KTSP dimana penentuan kecerdasan seseorang di tentukan hanya dalam waktu 4 hari, padahal proses pembelajaran yang panjang selama 3 tahun tidak menjadi sebuah pertimbangan mutlak hanya dari 3 mata pelajaran inti saja versi UN.

Banyak kasus yang sudah di ketahui dan tercium, sedikit mere-play kembali dampak negatif UN dimana siswa bekerja sama, siswa membeli jawaban dari orang yang tidak bertanggung jawab, kepala sekolah juga bermain memberikan ruang kepada guru untuk memberi jawaban kepada siswanya, kepala dinas pendidikan merasa malu apabila wilayah yang di pimpinnya terdapat sekolah banyak siswa yang tidak lulus.

Para pelajar yang sedang ujian ibarat tahanan pendidikan lihat saja pada proses menjawab soal yang di perlukan relaksasi agar bisa menjawab dengan baik, malah siswa di hadapkan dengan sesosok polisi tegap lengkap dengan senjata yang membuat psikologisnya tidak nyaman. Paling ironisnya dilapangan pada proses pendidikan bagi adik kelas yang tidak sehat, mengapa tidak sehat? siswa yang malas sekolah menganggap tidak perlu sekolah setiap hari yang penting waktu UN kita ikut saja cendrung terjadi di sekolah-sekolah swasta ,penulis menemukan salah satu pelajar SMA dia mengungkapkan tidak perlu sekolah yang penting ikut UN dapat ijazah cukup kita bayar aja ke pihak sekolah kita sudah bisa ikut ujian. Yang lebih mengerikan pelajar ada yang mati bunuh diri karena tidak lulus UN.

Seperti yang ditampilkan dalam salah satu program Metro TV (Sudut Pandang: 17 Mei 2014) UN yang berari Ujian Nasional di plesetkan maknanya menjadi “Ujian Nasib” sungguh sangat memilukan pasalnya banyak dikalangan eknomi menengah keatas yang persentase kelulusannya lebih tinggi bagaimana dengan pelajar miskin? Bagaimana menjawab soal yang luar biasa sulitnya dalam waktu yang sangat sempit? Mengapa tidak ada sosialisasi tingkat kesulitan soal yang akan di Ujiankan? Mengapa jawaban yang salah tidak di berikan pemahaman akan jawaban yang benar agar kedepan jika ada soal yang serumpun bisa di jawab ? mengapa level kesulitan soal tidak di sosialisasikan? Itulah pertanyaan yang belum terjawab pada acara ini ? dan siapa yang harus menjawabnya?.

Tentunya anda pembaca mempunyai jawaban yang sama dengan saya. Hal yang memilukan yang diungkapkan oleh peserta ujian adalah terjadinya kecurangan yang terstruktur, dan tidak ada kejujuran hingga level atas. Hal ini sungguh pembunuhan karakter. Siswa atau peserta didik akan menyimpan memory dalam durasi lama adalah disaat dia mengalami dan melihat secara langsung. Dari kejadian ini seorang siswa muncul rasa keberanian yang tinggi mengirim surat kepada menteri pendidikan dan kebudayaan M. Nuh yang menantang mengerjakan soal matematika yang super sulit, namun itu tak terjawab juga.

Dari kejadian diatas harus kita apresiasiakan bahwa penerus generasi bangsa Indonesia adalah cerdas- cerdas.. hanya saja bangaimana sistempendidikan indonesia mampu membuat pemilik bangsa indonesia raya ini nantinya tidak hanya cerdas namun juga berakhlak mulia.

Dampak negatif diatas tadi tentunya tanpa disadari sebuah kebijakan dan peraturan menjadi pembentuk karakter pendidikan negatif pula dimana pelajar, guru, kepala sekolah bahkan orang tua tidak jujur dalam pelaksanaan UN. Disamping itu pelajar seakan sinis dengan mata pelajaran yang tidak diujiaankan dan diskriminasi terhadap multiple intelegensi atau 8 kecerdasan yang cendrung dimiliki setiap anak didik. Maka siswa tidak bebas dalam mengekspresikan kecerdasannya mentok hanya kepada mata pelajaran yang di ujiaankan saja.

Pasalnya jika di tinjau dari psikologi belajar anak dimana siswa memiliki kecendrungan yang berbeda-beda contoh mata pelajaran matematika ini tepat dengan tes melalui secarik kertas dan pinsil dapat terjawab tingkat kemampuannya namun jika pada mata pelajaran agama, pendidikan kewarganegaraan dan olah raga, kesenian dan mata pelajaran lainnya yang cendrung menuntut keranah psikomotor dan afektif tentunya tidak bisa didiagnostik dengan hanya secarik kertas dan alat tulis dalam beberapa hari saja.

Tahun 2013 merupakan tahun paling membingungkan bagi para guru- guru yang ada di berbagai wilayah apalagi didesa terpencil dimana para guru dituntut untuk mengimplementasikan kurikulum 2013 ini walau dengan bertahap transisi peralihan dari kurikulum KTSP menjadi kurikulum 2013, masih minimnya pengetahuan guru terkait kurikulum 2013, apalagi bagi guru ditingkat SD/MI yang mengubah total kurikulumnya.

Pada standar proses dan standar kelulusan hingga standar penilaian terinternalisasi pendidikan yang di canangkan berbasis karakter dan penilaian yang tidak hanya pada akhir saja namun juga pada perencaan dan proses yakni di point pertama peraturan pemerintah terkait standar penilaian nasional nomor 66 tahun 2013 dimana penilaian pendidikan sebagai proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik diantaranya melalui penilaian otentik, penilaian diri, penilaian portofolio.

Peraturan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 54 tahun 2013 kompetensi lulusan yang di harapkan dalam 3 dimensi yakni di mensi sikap, dimensi pengethuan dan keterampilan dari ketiga dimensi ini sangat jelas hanya dimensi pengetahuan saja yang mampu diukur dengan jawaban di kertas atau tes tertulis apa lagi dalam bentuk multiple coise dengan durasi waktu yang sangat sedikit dan materi ujian yang sangat komplesk tentu ini memicu ketegangan syaraf bagi para siswa. sedangkan dimensi sikap dan keterampilan tidak bisa di ukur dengan hanya menggunakan kertas dan alat tulis.

Gaung pendidikan karakter telah terdengar sebelum kurikulum 2013 di resmikan akan tetapi realisasinya masih sangat kecil, salah satu yang dapat dilihat dari karakter yang secara tidak langsung dibentuk oleh UN dimana setelah UN di rayakan dengan negatif yang berdampak pada moral pemuda Indonesia yang hancur.

Para pelajar atau peserta didik sekolah atau belajar tidak lagi bertujuan untuk mendapatkan nilai-nilai moral dan akhlak atau religiusitas tetapi mengincar nilai berbentuk angka yang dituliskan pada secarik kertas, dengan nilai angka yang bagus di kertas kiranya sekolah lanjutan berikutnya akan mendapatkan tempat disekolah tersebut, dan sangat menyedihkan sebuah sekolah menerima siswa hanya dengan ujian masuk sekolah atau PT dengan berbasis kepada tes objektif saja yang tentunnya tidak mampu mendoagnostik karakter pelajar tersebut.

Sehingga hal yang wajar apabila terjadinya pergeseran nilai-nilai moral, akhlak dan etika serta estetika, mengingat siswa dicekoki materi yang harus mampu di hafal saja bukan untuk memahami yang mampu diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Mata pelajaran yang berbasis kepada intelegtual bisa dengan penilaian objektif tapi beda halnya dengan mata pelajaran yang menginternalisasikan pendidikan karakter, karena karakter ini tidak bisa di jawab dengan selembar kertas tapi dengan gerakan anggota badan sehingganya perlunya pengamatan baik pada proses maupun hasil dari pada penginternalisasian karakter ini.

Sebagai contoh hasil dari pada penilaian objektif selama ini, koruptor ini adalah orang-orang cerdas secara intelegtual, perekrutan PNS dengan tes secarik kertas banyaknya PNS yang dituntut pada kemampuan kepribadian yang handal tapi tidak mampu dideteksi, sehingga aparatur negara tidak menjalankan kebijakan sebagaimana mestinya, jika lebih luas lagi pelecehan seksual di sekolah di lakukan oleh para guru dan orang –orang yang mempunyai jabatan dan pendidikan tinggi ini disebabkan perkrutan tes atau penilaian hanya dengan selembar kertas.

Penilaian dalam pembelajaran sebuah keniscayaan yang tidak terpisahkan untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan dari pembelajaran namun teknik penilaian yang tidak mampu secara tepat mengukur atau menilai sesuatu tentunya persepsi atau kesimpulan dalam hasil sebuah penilaian juga akan keliru. Oleh karena itu diperlukan suatu terobosan baru yakni “Hapuskan UAN Jika Ingin Sukses Pendidikan Karakter Dalam Kurikulum 2013”.

Dimana sebuah penilaian yang mampu mendiagnostik kepribadian seseorang tepat kiranya dalam kurikulum 2013 menggunakan penilaian otentik atau Authentic Asessment. Walau Indonesia telat 11 tahun meleknya akan penilaian otentik yang di gagas oleh Wiggins pada tahun 1993. Menurut Wiggins “Assessment is authentic when we directly examine student performance on worthy intellectual tasks” ia juga menambahkan bahwa hanya ketika peserta didik dapat menggunakan pengetahuan dengan bijaksana, lancar, fleksibel dan tepat dalam konteks tertentu dan beragam dapat dikatakan bahwa siswa dapat memahami maka tentunya akan mampu bersinergi dengan kurikulum 2013 yang menekankan pendidikan berbasis karakter.

Biografi :
Nama : Suhelayanti, M.Pd.I
Pekerjaan : Aktivis Perempuan, Praktisi Pendidikan, Dosen Tarbiyah STAIN Zawiyah Cot Kala Langsa
Nomor Hp. 085270182066
e-mail : suhelayanti@yahoo.co.id
Kyriad Muraya Hotel Aceh

Komentar

Loading...