Unduh Aplikasi

Hanya Indah di Atas Makalah

Hanya Indah di Atas Makalah
Ilustrasi: LiveAbout.

HINGGA saat ini tak ada tindakan hukum kepada Suaidi Yahya, Wali Kota Lhokseumawe, setelah dia mencela Sofyan. Padahal penyidik dari Polda Aceh memeriksa sejumlah saksi dari pejabat daerah setempat. 

Sofyan mengadukan Suaidi setelah orang nomor satu di Lhokseumawe itu Sofyan sebagai provokator yang mempengaruhi mahasiswa untuk berdemonstrasi terhadap pemerintah. 

Ucapan ini disampaikan dalam Rapat Koordinasi Forkompinda Kota Lhokseumawe, beberapa waktu lalu. Dia juga menyebut Sofyan sebagai calon wali kota gagal. Suaidi menyebut "Sofyan Hitam" mempengaruhi mahasiswa dan warga untuk membela pedagang yang membangun lapak liar. 

Dalam kasus pelecehan berbau SARA ini, Sofyan dicecar 17 pertanyaan oleh penyidik yang menangani pengaduan ini. Namun hingga saat ini, tujuh bulan setelah kasus itu dilaporkan, tak ada progres penanganan kasus yang dapat membuat hati Sofyan lega. 

Lambatnya penanganan kasus ini jelas menjadi preseden buruk dalam penegakan hukum. Terutama saat Kepala Kepolisian RI Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo berjanji bahwa di masa kepemimpinannya, tak ada lagi penegakan hukum yang tajam ke bawah tumpul ke atas. 

Polda Aceh harus belajar dari kesigapan kolega mereka di Jakarta dalam menangani dugaan ujaran kebencian yang dialami oleh bekas Komisioner Komnas HAM, Natalius Pigai. Hanya dalam hitungan hari, Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri menetapkan Ketua Relawan Pro Jokowi-Maruf Amin (Pro Jamin) Ambroncius Nababan sebagai tersangka. 

Pasal yang ditetapkan oleh kepolisian dalam kasus Sofyan dan Pingai sama. Ambroncius dan Suaidi sama-sama diduga melanggar pasal 15 dan 16 Undang-Undang Nomor 40 tahun 2008 tentang penghapusan diskriminasi ras dan etnis.

Bagi Sofyan, rasa keadilan yang dia cari seharusnya dapat diberikan oleh kepolisian. Apalagi, Kepala Kepolisian Daerah Aceh, Irjen Pol Wahyu Widada, adalah sosok yang memimpin tim penulis makalah tersebut Jenderal Sigit. 

Membiarkan kasus ini terkatung-katung bakal merusak reputasi Wahyu. Masyarakat juga akan menganggap bahwa makalah yang disusun dan disampaikan oleh Sigit saat menjalani uji kelayakan dan kepatutan hanya indah di atas kertas. 

Komentar

Loading...