Unduh Aplikasi

Haba Bangai

Haba Bangai
Ari Maulana. Foto: For AJNN

Oleh: Ari Maulana

SEPERTI biasa, bulan Mei akan memberikan banyak kenangan. Menjadi bulan bersejarah bagi saya dan tentunya juga bagi teman-teman aktivis angkatan 98 lainnya. 22 tahun silam di bulan Mei, menjadi titik awal perubahan sistem politik bangsa ini. Seperti biasa saya akan beromantisme dengan mengenang teman-teman seangkatan yang dulu sama berjuang. Baik di Aceh maupun di Nasional.

Beruntung bisa mengenal orang-orang hebat dimasa itu. Mereka memang hebat. Paling tidak jika melihat track record hingga sekarang. Banyak dari mereka yang sudah menjadi politisi, ada juga yang berkarir sebagai birokrat, aparat penegak hukum maupun aparat keamanan dan profesi lainnya.

Ketika suatu waktu dapat bertemu, yang paling mengesankan dari mereka adalah tidak banyak yang berubah. Gaya bicara, penampilan sama saja seperti 22 tahun silam. Mungkin yang berubah adalah kemampuan mereka dalam berkomunikasi. Tidak seemosional dulu. Mungkin saja karena perubahan 'alamiah' seiring waktu dan pengalaman yang dihadapi.

Ada yang menarik dari mereka, khususnya teman-teman yang menjadi bagian dari sistem politik (kekuasan). Sekalipun posisi mereka sangat strategis, mereka ternyata selalu berani menyatakan penolakan terhadap setiap ide/keputusan yang bertentangan dengan pikiran mereka.

Sekalipun penolakan itu tidak mereka lakukan secara terbuka (ke Publik). Namun didalam mekanisme internal institusinya mereka secara terang-terangan berani menyampaikannya. Disini saya selalu menaruh hormat kepada mereka. Teringat pada satu ungkapan Prusia kuno "Berterus terang bahkan kepada Sri Raja". Mereka berani menolak Haba Bangai!

Bagi saya justru aneh, ketika ada juga yang sudah didalam lingkar kekuasaan namun tidak berani menyatakan penolakan terhadap hal-hal yang bertentangan dengan ide dan prinsipnya. Jangankan menyatakan penolakan, pada tahap mengkritisi saja tidak punya keberanian.

Mungkin bagi sebagian orang, cara penolakan mereka itu tidak disukai. Tapi bagi saya, justru sikap mereka menunjukkan kedewasaan dalam berorganisasi. Masing-masing punya cara pandang.

Ketika seseorang berada dalam lingkar kekuasaan politik (pemerintahan), ada banyak aspek yang harus dipertimbangkan dengan matang dalam setiap proses pengambilan keputusan. Apa yang dianggap ideal secara gagasan belum tentu ideal secara operasional.

Biasanya, faktor kepentingan, faktor tujuan program, faktor dampak program juga faktor biaya selalu bercampur baur dalam setiap proses pengambilan keputusan. Proses ini tentu saja bertolak belakang dengan cara pandang ideal yang berada diluar kekuasaan.

Saya sering bercanda dengan mereka soal itu. Saya katakan kalau didalam 'kardus' kita bisa lebih jernih melihat persoalan. Beda dengan kalau kita masih diluar 'kardus' ide dan tindakan kita pasti lebih liar tanpa batas.

'Perumpamaan' itu saya kira cukup tepat. Bisa bayangkan bagaimana mudahnya kita berkomentar atas kemampuan seorang supir bis misalnya, dalam hal kemampuan mengemudikan kenderaannya. Kita bisa mudah berkomentar karena kita tidak memiliki beban tanggung jawab atas keselamatan para penumpangnya. Kita juga tak punya beban atas keselamatan kenderaannya, apalagi terhadap supirnya.

Jadi bagaimanapun, saya selalu menaruh rasa hormat khususnya bagi teman-teman yang sudah berada dalam lingkar kekuasaan, namun tetap konsisten dengan gagasan -gagasan idealnya. Saya paham, tentu bukan hal yang mudah bagi mereka dengan segala dinamikanya. Pada satu titik, mereka memang harus berkompromi, tapi pada titik tertentu, biasanya mereka itu akan bersikap tanpa kompromi.

Namun demikian, semuanya akan tetap diuji. Diuji oleh sang waktu. Tetaplah sehat, tetaplah semangat ! Setelah selesai wabah ini. Kita poh cakra ngoen haba mangat. Salam Hangat.

Penulis adalah Aktivis 98

Komentar

Loading...