Unduh Aplikasi

Guru Jarang Masuk, Murid SMP Beutong Ateuh Sering Pulang Lebih Awal

Guru Jarang Masuk, Murid SMP Beutong Ateuh Sering Pulang Lebih Awal
SMP Negeri Beutong Ateuh. Foto: AJNN/Darmansyah Muda.

NAGAN RAYA - Siswa SMP Negeri Beutong Ateuh, dari lima desa di Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya mau tidak mau harus bisa menerima keadaan, atas buruknya layanan pendidikan di kawasan pedalaman Kabupaten tersebut.

Pasalnya siswa-siswi di sana tidak bisa menikmati pendidikan layaknya yang dirasakan oleh mereka yang ada  di wilayah perkotaan, sebab guru-guru yang mengajar di sana selama ini jarang hadir untuk mengajar.

Padahal sekolah yang berada di Desa Kuta Teungoh itu merupakan satu-satunya Sekolah Menengah Pertama di kawasan pelosok Nagan Raya yang menjadi harapan bagi warga di lima desa di Kecamatan tersebut.

Adapun lima desa yang menitipkan harapan di sekokah tersebut yakni Desa Kuta Teungoh, Blang Meurandeh, Babah Suak, Dan Blang Puuk, serta Pintu Angin.

Saat disambangi wartawan pada Sabtu, (9/1) lalu, terlihat sejumlah siswa bersiap-siap hendak pulang meski waktu baru menunjukkan pukul 09.30 WIB atau masih dalam jam pelajaran. 

Siswa-siswi terpaksa memilih pulang, lantaran di sekolah tak ada guru yang masuk, memberikan mata pelajaran sesuai dengan tugas dan tanggung jawab guru-guru yang ditempatkan disekolah itu.

"Kemeung jak wo lee, hana guru (mau pulang, karena tidak ada guru)," jawab Usman, salah seorang siswa sekolah tersebut

Menurut Usman, kondisi sekolah tanpa guru telah dirasakan mereka dalam sepekan terakhir. Akibatnya banyak pelajaran tertinggal. 

"Sering tidak ada guru, tadi pagi kami kesekolah. Setiap hari kami kalau belajar paling lama kami belajar sampai jam 12, memang sering nggak ada guru, tadi saja pergi sekolah setengah sembilan pagi. Dari hari selasa sampai hari ini guru nggak ada yang ngajar,” sebut Usman.

Apa yang diungkap Usman, dibenarkan oleh Kepala Desa Blang Puuk, Hasan.

"Memang jarang masuk. Kadang dalam seminggu informasi kita dapat seminggu ada dua kali tidak masuk guru-guru disana. Tapi kadang-kadang dalam satu minggu semua guru ada," kata Hasan.

Dikatakan Hasan, jarangnya para guru di sekolah itu masuk, sudah sering di protes warga akan tetapi hingga kini tidak ada perubahan.

Menurutnya, warga disana sudah bosan melayangkan protes, sehingga kini hanya bisa pasrah dengan kondisi di sekolah itu.

"Bahkan tahun 2019, siswa disana pernah protes dengan membakar meja. Tapi saya tidak tahu persis gimana, coba konfirmasi Geuchik (Kepala Desa) Kuta Teungoh kondisi sekolah disana itu beliau lebih tahu," ungkap Hasan.

Sementara itu Kepala Sekolah SMP Negeri Beutong Benggala, Samsuar, yang coba dihubungi AJNN melalui telepon selularnya tidak mengangkatnya.

Komentar

Loading...