Unduh Aplikasi

GeRAK Desak Pemerintah Tertibkan Galian C dan Tambang Emas Ilegal di Aceh Barat

GeRAK Desak Pemerintah Tertibkan Galian C dan Tambang Emas Ilegal di Aceh Barat
Aktivistas galian C di Sungai Mas. Foto: Ist

BANDA ACEH – Gerakan Anti Korupsi (GeRAK) Aceh Barat meminta pemerintah setempat segera menertibkan aktivitas galian C dan Tambang Emas Ilegal (Ilegal Minning) yang ada di daerah tersebut.

Pasalnya, maraknya aktifitas yang bersifat illegal itu dikhawatirkan akan merusak lingkungan yang ada di dekat area jembatan rangka baja Tutut, Kecamatan Sungai Mas, Kabupaten Aceh Barat.

Bukan hanya di area jembatan tersebut, illegal minning juga terjadi di area hutan lindung Ulue Masen. Ada kerugian yang ditimbulkan akibat penambangan yang diduga tidak memiliki izin tersebut, baik kerusakan hutan dan juga pemasukan kepada pendapatan negara.

Aktivistas galian C di Sungai Mas. Foto: Ist

Koordinator GeRAK Edy Syah Putra mengatakan, hal tersebut perlu disikapi serius dengan mengambil langkah tepat, akurat dan berkeadilan disertai dengan penegakan hukum.

“Berdasarkan informasi yang kami terima, bahwa ada aktifitas galian C yang jarak lebih kurang satu hingga dua kilometer dari jembatan tersebut,” katanya melalui rilis yang dikirim ke awak media.

Dikatakan Edy, aktifitas yang dimaksud itu merupakan pertambangan emas diduga illegal. Galian C itu terlihat dari sisi kiri jembatan daerah aliran Sungai Mas. Sedangkan aktifitas yang diduga galian emas menggunakan alat berat beko, berada disisi kiri-kanan Daerah Aliran Sungai (DAS) tersebut.

“Parahnya lagi, sesuai informasi dan pantauan yang dilakukan, juga ditemukan sepanjang DAS sungai Mas lebih dari 6 unit beko beraktifitas mengambil material di dalam sungai, lalu dituangkan ke dalam asbuk yang juga berada di dalam DAS sungai itu,” ujarnya.

Oleh karenanya, tambah Edy, GeRAK mendorong agar adanya langkah-langkah yang komprehensif akan penyelamatan lingkungan.

Aktivitas tambang emas di kawasan hutan lindung Ulu Masen. Foto: Ist

“Kita ingin tekankan, bahwa aktifitas galian C dan diduga adanya aktifitas tambang emas tersebut perlu dipantau lebih jelas oleh pengambil kebijakan. Dimana pengambilannya perlu diatur secara lebih rinci yang bertujuan jangan sampai merusak palung sungai,” ucapnya.

Tambah Edy, karena ada dampak negatif akan aktifitas tambang yang berada dalam sungai. Tentunya pengaruh sangat luas dan merugikan, dengan itu perizinan tentang pengambilan komoditas tambang di sungai perlu diatur secara cermat dan dipantau secara menerus.

“Salah satu dampak negatifnya adalah banjir bandang yang membawa berbagai material longsoran ke permukiman penduduk dan menyebabkan kerugian harta benda yang tidak ternilai jumlahnya. Hal ini perlu diwaspai oleh masyarakat di area tersebut, mengingat lokasinya berada dekat dengan permukiman penduduk,” tuturnya.

Aktivitas tambang emas di kawasan hutan lindung Ulu Masen. Foto: Ist

Disisi aturan, tambah Edy, hal ini patut menimbulkan pertanyaan apakah memang dibolehkan adanya aktifitas galian C yang berada dekat dengan jembatan, dan kalaupun ada berapa jarak sebenarnya aktifitas galian C dengan jembatan. Ini perlu diluruskan dan dipertegas oleh pengambil kebijakan serta pihak penegak hukum.

Begitu juga dengan adanya dugaan aktifitas illegal minning (emas) yang juga berada dalam area DAS. Mengingat aktifitasnya adalah menggunakan beko untuk mengeruk material dalam sungai dan kemudian dipisahkan dengan menggunakan cruser atau penjaring material.

“Untuk itu, kita meminta Inspektur Tambang dan Dinas ESDM Provinsi untuk turun ke lokasi dan melakukan penindakkan. Sebab, aktifitas kegiatan tersebut memiliki dampak negatif yang sangat luas, terutama di permukiman penduduk,” pungkasnya.

 

Komentar

Loading...