Unduh Aplikasi

GeRAK: Biaya Studi Banding Aparatur Desa Agara Diduga Kemahalan

GeRAK: Biaya Studi Banding Aparatur Desa Agara Diduga Kemahalan
Koordinator GeRAK Aceh, Askhalani. Foto: IST.

BANDA ACEH - Gerakan Antikorupsi (GeRAK) Aceh menilai biaya dari kegiatan Studi Banding sejumlah aparatur desa dari kabupaten Aceh Tenggara (Agara) oleh pemerintah kabupaten setempat ke Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) terindikasi sangat besar atau mahal.

Berdasarkan hasil kajian dan analisa kami terkait kegiatan studi banding aparatur desa Agara di tengah Pandemi  ke Lombok, berdasarkan alokasi  jumlah anggaran yang digunakan terindikasi sangat besar atau mahal," ujar Koordinator GeRAK Aceh, Askhalani kepada AJNN, Rabu (24/3/2021) di Banda Aceh.

Oleh karena itu, menurut Askhal, Hal tersebut semakin menguatkan dugaan ada pihak - pihak lain (penyedia) yang mendapat untung dari kegiatan itu, dimana kegiatan ini sejak awal sudah direncanakan.

Baca: Forum LSM Aceh: Penegak Hukum Harus Periksa Bupati Agara Terkait Bimtek Lombok

Menurut Askhal, jika merujuk pada jumlah anggaran yang dialokasikan, dimana masing-masing desa menganggarkan sebanyak Rp 30 juta untuk 2 orang. Dengan diikuti oleh 325 desa maka peserta kegiatan ini berjumlah 650 orang. Dengan demikian jumlah total alokasi anggaran sebesar Rp 9,8 Milyar.

Berdasarkan penelusuran GeRAK Aceh ditemukan fakta bahwa jumlah angaran yang dialokasikan untuk kegiatan ini sangat tinggi. Oleh karenanya kegiatan ini berpotensi mengakibatkan kerugian negara.

“Dari sejak awal memang kegiatan ini dapat diduga adanya indikasi untuk memperkaya diri sendiri dan orang lain oleh pelaksana atas kegiatan ini,” ungkap Askal.

Fakta lain yang ditemukan menurut pria yang juga pengacara tersebut yaitu dugaan kemahalan anggaran dengan membandingkan item biaya kegiatan studi banding ini. 

Baca: Rombongan Bimtek Terlantar di Bandara Kuala Namu, APDESI Agara: Kami Sangat Kecewa

“Hitung - hitungan kami, anggaran paling besar yang dihabiskan untuk kegiatan itu untuk setiap desa paling tinggi sebesar Rp.15 juta untuk 2 orang,” tambah Askal.

Biaya tersebut menurut Askhal merupakan akumulasi item biaya utama seperti, tiket pesawat, penginapan, makan dan transportasi. Dengan anggaran  masing-masing desa sebesar Rp 30 juta, maka dapat disimpulkan bahwa adanya potensi Markup anggaran sebesar Rp 15 juta per desa. 

“Jika dikalikan dengan jumlah orang yang berangkat dapat diduga adanya potensi kemahalan harga yang dapat mengakibatkan kerugian negara  paling sedikit sebesar Rp 4,8 miliar,” sebut Askalani.

Tapi menurut Askhal, untuk memastikan potensi kerugian negara tersebut, maka kegiatan ini haris di audit secara khusus oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Perwakilan Aceh. 

“Kegiatan semacam ini sudah berulang kali dilaksanakan oleh Pemkab Agara, kita menduga ini sudah dirancang untuk mendapat keuntungan, juga terindikasi kegiatan ini punya relevansi dengan pihak-pihak tertentu yang memang mensetting kegiatan ini untuk tujuan mendapatkan keuntungan,” kata Askhal dengan ekspresi wajah geram.

Berdasarkan fakta tersebut, maka kegiatan studi banding itu menurut Askhal harus mendapat perhatian khusus dari aparat penegak hukum dengan  melakukan penyelidikan.

“Kegiatan ini sejak awal bisa ditebak sangat berpotensi menimbulkan praktik korupsi, untuk itu aparat penegak hukum harus mengusut kegiatan ini,” tambah Askal.

GeRAK juga meminta  kementerian desa (Kemendes) untuk meninjau ulang kegiatan-kegiatan studi banding, karena hanya menghabiskan anggaran dan output serta outcome dari kegiatan sangat tidak jelas.

Berikut analisa harga yang dibutuhkan per orang untuk kegiatan ini dihitung oleh GeRAK Aceh:

1. Pesawat per orang sekali jalan Rp 1,5 juta, Pulang dan Pergi  Rp 3 juta/PP.

2. Penginapan per malam untuk 1 kamar Rp 500 ribu. Dimana setiap kamar menampung 2 orang. Artinya setiap orang menghabiskan Rp 250 ribu. Untuk  3 malam alokasi anggaran uang yang dihabiskan Rp 750 ribu.

3. Makan setiap orang selama kegiatan yaitu setuap hari 2 kali makan (siang dan malam). Jika setiap kali makan menghabiskan Rp 150 ribu, maka anggaran untuk makan yang dihabiskan per orang adalah 2 x 3 hari x Rp 150 ribu yaitu Rp 900 ribu.

4. Transportasi Per orang per hari di Lombok diasumsikan Rp 500 ribu. Jika 3 hari maka anggaran yang dihabiskan 3 x Rp 500 ribu yaitu Rp 1,5 juta.

5. Transportasi lokal Kuta Cane-kualanamu/PP Rp 500 ribu.

6. Transportasi lokal Bandara Lombok - Penginapan l Rp 500 ribu.

Maka anggaran per peserta sebesar Rp 7,5 juta. Dengan demikian maka estimasi anggaran yang dihabiskan per Desa (2 x Rp 7,5 jt) yaitu Rp 15 juta.

Alokasi perdesa Rp 30 jt/2 orang. Markup: Rp 15 jt/ desa. Total anggaran yang dialokasikan = Rp 15 jt x Rp 650 = Rp 9,750 miliar.

Dugaan Markup = Perkiraan harga rill per orang x jumlah orang. Maka potensi Markup/kemahalan harga sebesar Rp 7,5 x 650 orang adalah sebesar Rp 4,875 miliar.

HUT Pijay

Komentar

Loading...