Unduh Aplikasi

DIREKTUR RSUDCND JADI TERSANGKA

GeRAK Aceh Barat Pertanyakan Mekanisme Akreditasi Tipe Rumah Sakit

GeRAK Aceh Barat Pertanyakan Mekanisme Akreditasi Tipe Rumah Sakit
Foto: Net

ACEH BARAT - Koordinator Gerakan Anti Korupsi (GeRAK) Aceh Barat, Edy Syah Putra mempertanyakan mekanisme akreditasi peningkatan kelas rumah sakit di kabupaten/kota yang dilakukanKomite Akreditasi Rumah Sakit (KARS).

Seperti Rumah Sakit Umum Daerah Cut Nyak Dhien Meulaboh. Padahal dalam pengelolaan limbah medis yang mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3), rumah sakit kabupaten itu masih bermasalah, namun bisa naik kelas dari tipe C ke tipe B

Bahkan, Direktur RSUDCND Meulaboh, dr. Furqansyah, sudah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan kelalaian pengelolaan limbah medis yang mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3).

Edy mengungkapkan peningkatan kelas RSUCND Meulaboh terjadi pada tahun 2016, di bawah direktur dr. Akbar Siregar. Ia menilai pengelolaan limbah di rumah sakit itu belum sesuai dengan aturan, karena kalau memang sudah sesuai aturan, tidak mungkin direktur saat ini mengabaikan pengelolaan yang sudah baik.

“Kami minta polisi ikut memeriksa pejabat sebelumnya untuk mengumpulkan bukti-bukti terkait pengelolaan limbah medis ini, sehingga terlihat siapa yang abai terhadap limbah berbahaya itu," kata Edy kepada AJNN, Senin (15/10).

Tak hanya itu, Edy juga mendesak polisi mengusut sistem pengelolaan dan penyimpanan limbah tersebut, apakah sesuai dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 14 Tahun 2013. Misalnya, untuk tempat pembuangan penyimpanan sementara limbah medis B3 setiap harinya dikumpulkan pada boks atau kantong plastik sesuai dengan jenis limbahnya.

Baca: Direktur Jadi Tersangka, Tipe Rumah Sakit Meulaboh Terancam Turun

"Jika limbah bersifat radioaktif harus ditempatkan pada kontainer atau kantong plastik dengan simbol radioaktif dengan warna merah, untuk limbah yang sangat infeksius apakah di tempatkan pada kantung plastik kuat, anti bocor, atau kontainer yang dapat disterilisasi dengan otoktaf, dengan warna kuning," ujarnya.

Sedangkan untuk kategori limbah infeksius, patalogi, dan anatomi, kata Edy, harus menggunakan kantong plastik kuat dan anti bocor atau kontainer dengan warna kuning. Untuk limbah sitotoksis disimpan pada kontainer, plastik kuat dan anti bocor dengan warna ungu, dan limbah kimia dan farmasi disimpan pada kontainer dengan warna coklat.

"Semua limbah itu mempunyai lambang atau simbol masing-masing. Pertanyaannya apakah sejak dikeluarkan Permen LH ini sudah dilakukan oleh piminan sebelumnya. Jika belum bagaimana dulu bisa naik tipe, jika sudah kenapa pimpinan rumah sakit saat ini mengabaikan. Jadi polisi harus cari tahu hingga ke masalah ini,” ungkapnya.

Selain itu, Edy juga mempertanyakan mekanisme pengumpulan limbah padat yang dilakukan pihak rumah sakit, sebab dalam pengumpulan limbah medis padat dari setiap ruangan penghasil limbah menggunakan troli khusus yang tertutup, dan penyimpanan limbah harus sesuai iklim tropis, yaitu pada musim hujan paling lama 48 jam dan muslim kemarau paling lama 24 jam, sesuai peraturan yang berlaku.

"Jika disetiap rumah sakit kabupaten/kota seperti RSUCND Meulaboh dalam pengelolaan limbahnya belum sesuai aturan bisa naik kelas, maka kami menduga panitia penilaian akreditasi tidak melakukan tugasnya dengan baik, atau bisa saja sistem penilaiannya bersifat seremonial," ujarnya.

iPustakaAceh
Ucapan Selamat Pelantikan DPRA - Pemerintah Aceh

Komentar

Loading...