Unduh Aplikasi

INTERMESO

Generasi Ember

Generasi Ember
Ilustrasi: spacestock.

ANDAI saja Din Syamsuddin, deklarator Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia, hanya orang biasa, mungkin pengaduan Gerakan Anti Radikalisme Alumni Institut Teknologi Bandung (GAR ITB) ke Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) akan segera ditindaklanjuti. Untung saja Din Syamsuddin bukan orang biasa.

Din Syamsuddin adalah bekas Ketua PP Muhammadiyah. Dia juga pernah menjabat sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia. Pokok pikirannya tentang Islam dan kesetaraan diterima di dalam dan luar negari. Bahkan dia dikenal sebagai sosok yang moderat dalam beragama. 

Anehnya, sekumpulan orang-orang dari kampus ternama itu malah mengadukan Din Syamsuddin sebagai sosok radikalis. Entah kaca mata apa yang mereka pakai, karena seorang yang berpendidikan tidak akan bersikap seperti itu: bermulut ember. 

Di negara ini, semakin hari semakin tak jelas arah pembangunan karakternya. Jika orang Jepang dikenal dengan budaya malu dan disiplin yang tinggi, atau Belanda dikenal dengan sikap toleran, orang-orang di negara ini sepertinya bingung mau jadi apa.

Bangsa-bangsa di nusantara ini juga memiliki banyak karakter yang sebenarnya dapat ditiru. Bangsa Aceh, misalnya, dikenal dengan sikap yang egaliter dan agamais. Bangsa Batak, dikenal dengan sikap terbuka. Bangsa Jawa dikenal dengan tekun dan gigih, atau Bangsa Bugis yang dinamis. 

Namun belakangan ini, semua keunggulan-keunggulan bangsa itu satu per satu hilang. Berganti dengan bangsa lemah. Bangsa yang lebih suka mengadahkan tangan dan menjilat orang-orang yang berkuasa. Bangsa yang cenderung diam di saat harus bersuara dan bersuara di saat harus diam. Benar-benar bangsa yang aneh. 

Bangsa ini semakin kehilangan jati diri di tengah infiltrasi budaya asing yang masuk lewat media sosial dan media massa. Sembari diam-diam, bangsa-bangsa di Indonesia ini mengadopsi cara hidup para pengecut dan penghianat. 

Ada saja orang-orang yang rela melaporkan orang lain, dan mereka sebenarnya tidak saling mengenal, hanya karena satu pihak dianggap berseberangan dengan sikap politik yang dia anut. Generasi bermulut ember.

Novel Baswedan, penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi, misalnya, dilaporkan oleh sekelompok orang kepada kepolisian karena mengkritik cara kepolisian menangani Ustaz Maaher yang meninggal di dalam tahanan. Padahal yang mengadukan bukan pejabat yang menangani kasus Ustaz Maaher.  

Polisi juga seperti berlagak pilon. Sepanjang ada pengaduan, maka kasus itu akan berjalan. Kecuali seseorang itu memiliki teman setingkat Menteri Mahfud MD, seperti Din Syamsuddin. Kalau cuma setingkat “kain lap”, sebaiknya Anda tidak menuliskan kritik di media sosial. Capek. 

Komentar

Loading...