Unduh Aplikasi

Gemilang Tanpa Tembelang

Gemilang Tanpa Tembelang
Ilustrasi: bussiness mirror

PERNAH, di beberapa daerah di Aceh, termasuk di Pemerintah Aceh, muncul keinginan untuk merekrut pegawai negeri dari daerah lain. Mereka diproyeksikan untuk menduduki jabatan-jabatan penting dan vital di daerah, yang belum sanggup diisi oleh pegawai negeri lokal.

Caranya adalah dengan membuka kesempatan bagi pegawai negeri dari berbagai daerah di Indonesia untuk mendaftar pada lelang jabatan. Di beberapa provinsi, terutama di Jakarta, hal ini telah lebih dahulu dilakukan.

Keinginan ini memang memacu kontroversi. Beberapa kalangan menilai seharusnya daerah menggunakan pegawai negeri. Apalagi, mereka menilai banyak pegawai negeri di Aceh berkualitas, tak kalah dengan daerah lain.

Suara lain mengatakan lelang jabatan untuk pegawai dari luar Aceh akan mendorong daya saing. Keuntungannya, pemerintah daerah, sebagai pengguna jasa, akan mendapatkan talenta terbaik sesuai dengan kebutuhan. Ini tentang profesionalisme.

Tapi untuk urusan pembinaan dan pendidikan, terutama di bidang olahraga, penggunaan atlet lokal adalah hal yang tak boleh dibantah. Saat Ketua Umum Komite Nasional Olahraga Aceh Muzakir Manaf melarang seluruh pengurus cabang olahraga menggunakan atlet dari luar daerah untuk bertanding mewakili Aceh, itu adalah sebuah sebuah keharusan.

Pernyataan Mualem--nama alias Muzakir--ini adalah solusi untuk mendorong tumbuhnya atlet-atlet Aceh yang mampu bersaing dengan daerah lain. Cara instan, mendatangkan atlet luar Aceh, untuk meraih medali, seperti yang dilakukan beberapa kontingen pada Pekan Olahraga Aceh di Jantho, Aceh Besar, harusnya tidak terulang lagi.

Untuk itu, seluruh pemimpin daerah dan pengurus cabang olahraga di Aceh tak perlu ngoyo untuk mendapatkan prestasi. Masyarakat juga tak perlu nyiyir saat mendapati Aceh tak mampu bersaing dengan daerah lain. Satu dekade tanpa prestasi akan lebih baik ketimbang terus menerus menyewa atlet luar.

Lebih baik pihak-pihak ini fokus untuk mengembangkan bakat-bakat di Aceh berkembang. Terutama dengan pembinaan yang terukur dan terus menerus dievaluasi. Dengan demikian, prestasi yang diraih benar-benar bermanfaat. Bukan sekadar memuaskan hasrat penguasa dan pengurus cabang olahraga.

Komentar

Loading...