Unduh Aplikasi

Gelar Aksi Protes BLT Dana Desa, Warga Aceh Barat Malah Jadi Tersangka

Gelar Aksi Protes BLT Dana Desa, Warga Aceh Barat Malah Jadi Tersangka
Ilustrasi. Foto: Net

ACEH BARAT - Rusdi N (35), warga Desa Suak Pante Breuh, Kecamatan Samatiga, Kabupaten Aceh Barat, harus menelan pil pahit.

Pasalnya ia kini ditetapkan sebagai tersangka hanya gara-gara melakukan unjuk rasa mempertanyakan dana Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT DD) yang diduga tidak tepat sasaran serta tidak transparan, termasuk dalam penggunaan dana desa. 

Alih-alih menelusuri penggunaan dana desa yang diduga tidak sesuai, polisi malah menetapkan Rusdi sebagai tersangka karena melakukan protes terhadap penyaluran BLT DD.

Rusdi dilaporkan ke polisi oleh keuchik setempat. Ia dilaporkan atas dugaan pencemaran nama baik terkait aksi yang dilakukan Rusdi bersama masyarakat desa setempat.  

Berdasarkan cerita Rusdi, sebelum ditetapkan sebagai tersangka, ia bersama sepuluh warga lainnya yang ikut dalam aksi tersebut sempat dipanggil ke Kepolisian Sektor (Polsek) Samatiga.

"Saat itu kami ada sekitar 10 orang dipanggil. Kami dipanggil pukul 5 sore waktu itu setelah melakukan unjuk rasa pada siang harinya, dan baru diizinkan pulang pada subuhnya. Kami dipanggil tanpa surat panggilan," kata Rusdi kepada AJNN.

Adapun beberapa nama yang masih diingat Rusdi, saat dipanggil pihak kepolisian pada waktu itu yakni Kartini, Marwani, Rusli, Mustafa Kamal, Joni dan beberapa warga lainnya.

Dari sepuluh lainnya, kata dia, lima diantaranya saat itu diperintahkan membuka segel terhadap Kantor Desa Suak Pante Breuh yang sempat disegel pada saat aksi.

Rusdi mempertanyakan sikap polisi yang menetapkan dirinya sebagai tersangka, dengan dugaan pencemaran nama baik terhadap kepala desa setempat.

"Padahal waktu itu saya kan menyampaikan dan mempertanyakan dana desa dalam forum resmi (unjuk rasa), tapi kenapa saya jadi tersangka. Kan bukan saya sampaikan dari mulut ke mulut, bukan saya unjuk rasa sendiri tapi ramai-ramai sama warga lainnya," sebutnya.

Harap Rusdi, harusnya polisi melakukan pemeriksaan terhadap aparatur pemerintah desa terkait penggunaan dana desa yang diduga olehnya tidak sesuai dalam penggunaannya dan menghentikan kasusnya.

Sebelum melakukan unjuk rasa bersama puluhan warga, kata dia, sebelumnya ia dan beberapa warga lainnya juga sempat menjumpai Bupati Aceh Barat, Ramli MS untuk mengadukan hal ini.

Saat itu, kata dia, bupati merespon baik keluhan warga yang belum mendapatkan DD tersebut, bahkan telah memerintahkan Camat Samatiga, Murdani untuk menyampaikan kepada kepala desa segera menyalurkan BLT DD kepada penerima yang berhak sesuai peraturan yang berlaku.

"Bahkan waktu itu pak Bupati juga suruh hentikan dulu proyek pembangunan water boom desa, dan fokus pada bantuan masyarakat yang terdampak corona," ungkapnya.

Memang, kata dia, awalnya penyaluran BLT DD tahap pertama yang diajukan berjumlah lima orang, dan diperuntukkan untuk anak yatim saja.

Akan tetapi saat itu, warga menolak dan minta agar warga miskin yang layak memperoleh sesuai aturan yang berlaku juga masuk dalam daftar penerima akan tetapi tidak terpenuhi.

"Sebelum kami protes lewat unjuk rasa memang tuha peut desa yaitu Teungku Ahmadi sempat bilang waktu itu kemana pun kamu mengadu uang itu tetap tidak akan bisa didapatkan," ujar Rusdi menyambung apa yang disampaikan tuha peut.

Pedagang ikan keliling ini mengaku terus mencari informasi terkait bantuan BLT itu, dengan menemui sejumlah masyarakat dari desa lain.

Dan menurut pengakuan warga desa lainnya, rata-rata warga miskin yang bukan penerima manfaat Program Kekuarga Harapan (PKH), Zakat, rastra semua dapat BLT DD.

Akan tetapi berbeda dengan desanya saat itu hanya lima orang yang memperolehnya. Dan barulah pada tahap ke dua, terjadi penambahan penerima. Namun saat penyaluran, penerimanya malah tidak tepat sasaran.

"Yang peroleh malah ada yang memiliki mobil, orang-orang kaya. Kami warga miskin banyak yang tidak memperoleh termasuk saya," ucap Rusdi.

Rusdi bahkan mengatakan siap mempertanggungjawabkan pernyataannya itu, bahkan ia mengaku memiliki bukti atas penyaluran BLT DD yang diduga olehnya tidak tepat sasaran dan tidak transparan itu.

Ia bahkan, meminta polisi melakukan pengecekan di lapangan jika tidak yakin BLT DD yang disalurkan tidak tepat sasaran, bukan malah menetapkannya sebagai tersangka.

"Saya waktu itu bilang ke polisi kalau bapak tidak percaya silahkan bapak beroperasi di lapangan untuk lihat betul nggak orang kaya dapat, yang punya mobil dapat," imbuhnya.

Hingga berita ini diunggah, AJNN belum berhasil mendapat keterangan resmi dari Polsek Samatiga terkait penetapan Rusdi N sebagai tersangka.

Komentar

Loading...