Unduh Aplikasi

Gaji Nomor Satu, Mendidik Nomor Sepatu

Gaji Nomor Satu, Mendidik Nomor Sepatu
Ilustrasi: amazon.com

SENGKARUT urusan penyelenggaraan pendidikan di Pulo Aceh adalah cerita lama. Mulai dari para pemegang kebijakan hingga anggota dewan, di Aceh Besar dan provinsi, mahfum benar masalah ini.

Masalah ini lantas menjadi sorotan setelah Ombudsman Aceh memaparkan buruknya pelayanan pendidikan bagi anak-anak di Pulo Aceh.

Banyak alasan untuk bersikap skeptis terhadap keinginan Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kabupaten Aceh Besar dalam menyelenggarakan pendidikan layak bagi anak-anak tersebut. Bahkan selama ini, urusan itu semangat para pemangku kebijakan pendidikan dan hanya “panas-panas tahi ayam”.

Pertama, dengan anggaran besar, tak ada jaminan bahwa para guru yang ditempatkan untuk mengajar di sekolah itu, mulai Senin sampai Sabtu, tetap memberikan pelajaran sesuai jadwal dan hak para pelajar. Ini terkait dengan lemahnya pengawasan dari dinas terkait terhadap kedisiplinan kepala sekolah dan para guru.

Dinas juga lebih suka mengurusi hal yang tampak. Ini sangat terkait dengan etos kerja lemah dan kerusakan mental para oknum pegawai di dinas. Alih-alih mengawasi dan memberikan sanksi kepada guru yang menolak penugasan di sekolah itu, mereka lebih tertarik mengurusi hal yang berbau proyek.

Jangankan untuk menikmati pendidikan bermutu, seperti didapat anak-anak Aceh di perkotaan, sekadar mendapatkan pendidikan layak pun mereka kesusahan. Padahal, memberikan pendidikan yang layak dan pantas adalah kewajiban negara terhadap para warganya. 

Para pemangku kebijakan pendidikan juga sangat berorientasi kepada angka dan statistik. Dan ini pun ditularkan kepada anak-anak yang didorong untuk mendapatkan angka bagus ketimbang memahami nilai. Alhasil, proses pendidikan, kegiatan belajar, dapat disulap sesuai kebutuhan. Sepanjang tak ada pengawasan, apapun bisa dibuat.

Mudah-mudahan respons pejabat provinsi dalam urusan ini tidak sekadar pemanis bibir. Mudah-mudahan pula persoalan ini dipantau bukan karena ada sorotan; setelah lampu padam, semua kembali seperti biasa. Tak ada guru dan murid di sekolah saat jam pelajaran berlangsung. Yang ada hanya ruang kelas yang kosong.

Komentar

Loading...