Unduh Aplikasi

Gajah Pigmy, Si Kecil Yang Awet Muda

Gajah Pigmy, Si Kecil Yang Awet Muda
Gajah Kalimantan betina di Sungai Kinabatangan. Foto: John C. Cannon/Mongabay

Oleh Azhar*

DALAM mitologi suku Dayak Agabag, gajah disebut dengan panggilan khusus: “Nenek atau Gadingan”. Panggilan pertama ini menunjukkan bahwa di dalam kehidupan Dayak Tempatan ini, gajah adalah binatang sakral; dihormati. Bahkan mamalia ini ditempatkan dalam satu bagian budaya Dayak. Mereka hidup dalam satu kesatuan. Masyarakat Dayak tak boleh mengganggu gajah, konon lagi menyakiti atau membunuh. Ada pemahaman jika gajah-gajah yang hidup bersama mereka diganggu, desa mereka akan mendapatkan bala.

Ya, di Kalimantan, juga terdapat gajah. Namun berbeda dengan gajah sumatera, di Nunukan, salah satu kabupaten di Kalimantan Utara, terdapat populasi gajah yang berukuran unik. Gajah-gajah yang berada di Kalimantan ini disebut sebagai gajah terkecil di dunia. Mereka juga disebut gajah kerdil atau gajah pygmy.

Gajah ini memiliki tinggi rata-rata hanya 2,5 meter. Sangat berbeda dengan gajah di Asia lainnya yang tingginya dapat mencapai lebih dari 3 meter. Bahkan gajah Afrika dapat berukuran mencapai 4 meter. Selain kerdil, bentuk tubuhnya juga gemuk, bulat dan memiliki ekor panjang hingga menyentuh tanah. Mereka disebut juga “Bornean Pygmy Elephant”.

Gajah Pigmy jantang memiliki gading relatif lebih lurus dibandingkan gajah lain. Keunikan lain, raut mukanya sepintas terlihat muda walaupun sebenarnya berumur tua. Gajah ini juga tak terlalu agresif bila dibandingkan dengan gajah sumatera. Jika bertemu langsung dengan manusia, gajah ini tidak panik dan sangat jarang menyerang manusia.

Menurut warga Nunukan, gajah ini telah ada di tempat mereka ratusan tahun lalu. Gajah ini juga ditemukan di wilayah Sabah, Malaysia, yang berbatasan langsung dengan Nunukan. Namun populasinya sangat berbeda jauh. Di Indonesia, gajah ini hanya berkisar sekitar 30-80 individu (Suyitno, Wulffraat 2010). Di Malaysia, jumlahnya mencapai 1.500-2.000 individu (Alfred dkk, 2010).

Konflik di Nunukan
Sama seperti di daerah lain di Indonesia, hewan liar ini juga berkonflik dengan manusia. Permasalahan utamanya adalah sekitar 16 persen kawasan hutan yang menjadi habitat gajah berubah fungsi menjadi perkebunan sawit. Pembukaan wilayah hutan ini terjadi sejak 2003 dan merupakan titik awal terjadi konflik gajah dan manusia. Gajah kerap masuk ke kawasan pemukiman dan perkebunan.

Gajah-gajah masih tetap menggunakan jalur pergerakannya walaupun sudah terbuka untuk pengembangan perkebunan. Sehingga sering sekali gajah memakan tanaman sawit milik masyarakat dan perusahaan. Dari 2003 hingga 2018, frekwensi konflik gajah dan manusia tidak menentu, rata-rata kejadian konflik per tahunnya terjadi dua hingga empat kali. Jumlah ini mungkin lebih kecil jika dibandingkan dengan kejadian konflik gajah di Sumatera, khususnya di Riau, yang rata-rata mencapai 20 hingga 30 kali per tahun.

Jumlah konflik memang relatif lebih kecil di kawasan ini, tapi tetap saja gajah di Kalimantan harus terus dijaga. karena sering kali, dalam banyak konflik, yang menjadi korban adalah gajah, terutama gajah jantan soliter (gajah hidup sendiri). Belakangan ini, ada juga gajah berkelompok yang berkonflik dengan manusia dengan jumlah individu gajah 2 betina dan 1 jantan.

Tipe konflik gajah dan manusia di kawasan ini adalah saat gajah masuk ke areal perkebunan sawit dan kebun masyarakat. Dalam sehari, gajah dapat memakan 200 tanaman sawit. Mereka memakan bagian umbutnya. Selain itu, mereka juga memakan padi, palawija, sayur-sayuran dan buah-buahan.

Solusi Penanganan Gajah Kalimantan
Akibat konflik gajah dan manusia, maka Pemerintah Kabupaten Nunukan dan WWF Indonesia membentuk tim satuan tugas penanganan konflik gajah. Tim beranggotakan masyarakat setempat yang dilatih untuk menangani konflik sejak 2012. Hasilnya, konflik dapat ditangani dengan baik. Jumlah konflik gajah dengan manusia dapat diturunkan. Tim Satgas juga bersosialisasi dan mengajari masyarakat tentang pentingnya kehadiran gajah di sekitar kawasan. Saat ini tim masih bertugas menjalankan tugas dan fungsinya dalam meredam konflik gajah dan manusia.

Usaha lainnya terhadap gajah di kawasan ini adalah perlindungan habitat gajah pada jalur gajah atau koridor lintas negara antara Nunukan di Indonesia dan Sabah di Malayasia. Ini adalah langkah baru yang sangat penting dalam upaya melindungi gajah kalimantan. Kedua pihak menganggap penting untuk menyambung kantung populasi kecil di Nunukan dengan populasi besar gajah di Sabah. Langkah ini diharapkan dapat mempertahankan kesehatan genetik gajah itu sendiri. Koridor ini juga menghindari terjadinya perkawinan sedarah bagi gajah di kawasan ini yang rentan terhadap kelangsungan hidup mereka. Diharapkan gajah-gajah sehat akan terus bermunculan di kemudian hari.

Gajah Kalimantan di wilayah Nunukan Kalimantan Utara memang tidak begitu besar populasinya, tetapi tetap dinilai sangat penting, keberadaan mamalia terbesar di pulau Kalimantan tersebut membuktikan bahwa hutan Nunukan itu sangat penting dari sisi ekologi dan dapat menjadi kebanggaan masyarakat Kalimantan. Pengelolaan harus terus ditingkatkan dan harus menjadi salah satu prioritas pengelolaan spesies di Indonesia. Gajah Pygmy/Nenek atau Gadingan adalah aset yang tak ternilai di bumi Borneo.


*) Penulis adalah praktisi satwa liar/lulus dari Sekolah Tinggi Ilmu Kehutanan Tgk Chik Pantee Kulu.

Komentar

Loading...