Unduh Aplikasi

Gajah, Bukan Dongeng Pengantar Tidur

Gajah, Bukan Dongeng Pengantar Tidur
ilustrasi: google.co.id

“GENCATAN senjata” antara gajah dan manusia di Tangse, Pidie, tak berlangsung lama. Setelah tiga bulan tak ada sentuhan antara keduanya, kini gajah kembali memasuki kawasan perkampungan dan merusak tanaman. Dengan dibantu oleh sebuah lembaga nirlaba flora dan fauna, masyarakat mencoba menghalau.

Namun upaya itu tak berhasil maksimal. Badan Konservasi Sumber Daya Alam Aceh juga belum bertindak. Gajah jantan itu menganggap kawasan itu adalah areal “permainannya”. Sementara masyarakat di daerah itu menganggap gajah mengusik tempat tinggal dan mata pencariannya.

Penyebabnya hanya satu: persaingan untuk mendapatkan ruang. Sedikit demi sedikit, tutupan hutan di Aceh semakin berkurang. Berganti dengan areal perkebunan. Membentang di jalur migrasi gajah. Kondisi ini jelas tidak menguntungkan bagi masyarakat dan koloni gajah yang jumlahnya semakin sedikit. Padahal dahulu, manusia dan gajah dapat hidup berdampingan.

“Perang” ini terjadi tak lama berselang dari peristiwa pembunuhan Bunta, gajah jinak di Aceh Timur. Saat ditemukan, tak ada gading di bangkai Bunta. Dan hingga saat ini, kasus pembunuhan itu masih misteri karena polisi belum juga menangkap pelakunya.

Rangkaian peristiwa ini tentu membuat kita miris. Karena di saat yang sama, pemerintah juga tak menunjukkan gelagat untuk mengatasi konflik yang semakin sering terjadi itu. Jika tak segera ditangani, bukan tak mungkin akan jatuh korban, entah itu masyarakat atau gajah.

Koloni gajah memerlukan ruang gerak luas. Karena itu, perlu didisain agar manusia dapat hidup berdampingan dengan gajah. Pemerintah perlu membangun koridor yang menghubungkan jalur migrasi gajah. Bahkan jika lahan yang biasa menjadi perlintasan gajah telah berubah menjadi perkebunan, pemerintah perlu memberikan kompensasi.

Harus ada langkah serius dari pemerintah unutk menekan konflik panjang ini. Caranya bisa dengan memintahkan gajah ke lokasi yang lebih aman. Namun semua itu juga perlu perencanaan yang matang. Pemerintah perlu memantau populasi gajah yang terus bermigrasi sepanjang tahun.

Pemerintah juga harus memastikan bahwa tak ada lagi tutupan hutan yang digerus untuk dialihkan fungsinya.
Perburuan gajah untuk diambil gadingnya telah memakan korban yang begitu besar terhadap gajah jantan, meskipun perburuan gajah untuk diambil daging, kulit, dan bagian-bagian tubuh gajah yang lain juga sangat mengurangi jumlah gajah jantan, betina, dan gajah-gajah muda.

Dewan Perwakilan Rakyat Aceh juga tak boleh tutup mata terhadap kejadian ini. Seharusnya DPR Aceh memastikan pemerintah bekerja optimal unutk melindungi gajah. Bahkan DPR Aceh harus mendorong upaya konservasi yang terukur agar populasi gajah dan kehidupan masyarakat tidak terganggu.

Sejumlah lembaga internasional, yang selama ini “bermain” di isu lingkungan juga harus mampu mendesak pemerintah bekerja lebih serius dalam menghadapi konflik manusia versus gajah ini. Jangan sampai, anak dan cucu kita kelak hanya mengenal gajah lewat dongeng pengantar tidur.

Komentar

Loading...