Unduh Aplikasi

Forum Masyarat Berkebutuhan Khusus Kecewa dengan Bupati Aceh Barat

Forum Masyarat Berkebutuhan Khusus Kecewa dengan Bupati Aceh Barat
Workshop dan training pemenuhan hak dan partisipasi perempuan serta disabilitas dalam pengurangan resiko bencana yang dilakukan lembaganya bekerjasama dengan Women's Found Asia. Foto: Ist

ACEH BARAT - Ketua Forum Masyarakat Berkebutuhan Aceh (FBMA), Syarifuddin mengaku kecewa terhadap Bupati Aceh Barat, Ramli MS, yang tidak hadir dalam kegiatan Workshop dan training pemenuhan hak dan partisipasi perempuan serta disabilitas dalam pengurangan resiko bencana yang dilakukan lembaganya bekerjasama dengan Women's Found Asia.

Selain itu, ia juga mengaku kecewa dengan dinas sosial kabupaten setempat yang juga tidak menghadiri kegiatan tersebut. Pasalnya Bupati Aceh Barat dan dinsos setempat ikut diundang dalam kegiatan itu.

Menurutnya pemerintah daerah sangat penting hadir dalam kegiatan yang dilaksanakan mereka di Aula Gedung Sekolah Tinggi Kejuruan Ilmu Pendidikan Bina Bangsa Meulaboh, Selasa (22/10) kemarin. Pasalnya hasil workshop yang dihadiri kaum disabilitas terutama perempuan itu bisa menjadi regulasi di kabupaten itu.

"Kami sebenarnya akan mengupayakan juga qanun-nya, cuma hari ini kan dilihat sendiri kawan-kawan wartawan, pengambil kebijakan tidak ada. Bagaimana kami mau mendorong qanun-qanun apapun kalau kami tidak dekat dengan pengambil kebijakan," kata Syarifuddin.

"Diundang ada, dari mulai bupati ada, semua dinas sosial. Kepala Dinas Sosial memang tidak ada, tapi kami sudah berkomunikasi dengan kabid rehsos (rehabilitasi sosial) untuk mobilisasi teman-teman disabilitas," tambahnya.

Ia mengatakan, kegiatan yang mereka laksanakan sebenarnya untuk menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) dalam penanganan bencana khuusus bagi perempuan dan disabilitas selaku kelompok rentan.

"Dengan adanya SOP yang kami susun, bisa menjadi acuan bagi pemerintah dalam menangani dan evakuasi terhadap kelompok rentan itu, karena penyandang disabilitas membutuhkan perhatian khusus dalam penanganan bencana," jelasnya.

Dikatakannya, bencana yang sangat dibutuhkan penanganan khusus terhadap para penyandang disabilitas dan perempuan serta kelompok rentan lain seperti bencana gempa dan tsunami.

"Kalau banjir ini kan mudah dideteksi dan diketahui gejalanya. Tapi kalau gempa dan tsunami BMKG kan tidak bisa membaca gejalanya, sudah terjadi baru bisa diketahui. Karena itu kami buat workshop ini agar ada SOP terhadap penanganannya," ujarnya.

Komentar

Loading...