Unduh Aplikasi

Flower Aceh Dukung Pencabul Dijerat UU Perlindungan Anak

Flower Aceh Dukung Pencabul Dijerat UU Perlindungan Anak
Ilustrasi. Foto: Net

BANDA ACEH - Direktur Eksekutif Flower Aceh, Riswati sangat mendukung pernyataan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR RI) komisi III Nazaruddin bahwa dalam kasus pencabulan dan pemerkosaan tidak menggunakan Qanun Jinayah, yakni berupa cambuk.

Menurut Riswati, dalam kasus pencabulan dan pemerkosaan pihak penegak hukum harus menggunakan Undang-undang tentang Perlindungan Anak atau Undang-undang yang lebih melindungi.

"Kita sangat setuju apa yang disampaikan anggota DPR RI yaitu Dek Gam, karena pelaku pelecehan seksual dan kekerasan terhadap anak harus diberikan hukuman yang lebih tinggi, tidak boleh menggunakan Qanun Jinayah," ucap Riswati kepada AJNN, Selasa (13/10).

Kata Riswati, Flower Aceh juga mendorong penghukuman terhadap pelaku pencabulan dan pemerkosaan menggunakan hukuman yang lebih berat dan agar memberikan efek jera kepada pelaku.

Baca: Psikolog Dukung Dek Gam Dorong Aparat Hukum Pakai UUPA Jerat Pelaku Pencabulan

"Pelaku harus dihukum yang berat, agar membuat efek jera kepada pelaku, jadi bisa menggunakan aturan yang sudah ada di tingkat nasional, kalau pun menggunakan tingkat lokal harus menggunakan Qanun nomor 9 tahun 2019 tentang penyelenggaraan penanganan  kekerasan terhadap perempuan dan anak," katanya.

Selain itu, Riswati juga berharap dalam pertemuan lintas sektor semua pihak harus membuat komitmen terhadap aparat penegak hukum, bahwa dalam penanganan kasus pencabulan dan pemerkosaan tidak boleh menggunakan hukuman cambuk.

"Pelaku tidak boleh dicambuk, ini semacam kesepakatan prosedur yang disepakati bersama dalam kasus kasus pelecehan harus menggunakan tingkat nasiaonal tidak boleh pakek jinayah," tutup Riswati

|MULYANA SYAHRIYAL

Komentar

Loading...