Unduh Aplikasi

WAWANCARA EKSLUSIF BUPATI GAYO LUES, MUHAMMAD AMRU

Enam Kepala Daerah Sudah Komit Pembentukan Provinsi ALA

Enam Kepala Daerah Sudah Komit Pembentukan Provinsi ALA
Wawancara dengan Bupati Amru. Foto: For AJNN

ACEH TENGAH - Nama Bupati Gayo Lues, H.Muhammad Amru menjadi sangat populer dalam 2 minggu terakhir, hal ini tidak terlepas dari pernyataannya yang menyuarakan kembali perjuangan pembentukan provinsi Aceh Leuser Antara (ALA). 

Ada beberapa pihak yang berfikir kalau pernyataan Amru merupakan buntut kekecewaan dirinya dan beberapa bupati lain di wilayah tengah Aceh terkait dibatalkannya proyek multiyears dan isu yang sengaja dihembuskan menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Namun apa yang sebenarnya dibalik keberanian Amru membangkitkan kembali isu ALA tersebut? 

AJNN berkesempatan bertemu dan berbicara langsung dengan Amru, Jumat malam (25/9) di sebuah Cafe di pusat Kota Takengon. 

Kehadiran Amru dan rombongan di Takengon untuk secara khusus bertemu AJNN, usai melakukan perjalanan pulang ke Gayo Lues usai bertemu sejumlah pejabat penting seperti Danrem Lilawangsa dan Pangdam Iskandar Muda. 

Apa saja hal yang melatarbelakangi Amru berani membangkitkan kembali semangat pembentukan Provinsi ALA.

Berikut wawancara lengkap wartawan AJNN, Fauzi Cut Syam yang didampingi Direktur Eksekutif Ramung Institute, Waladan Yoga dengan Bupati Gayo Lues H Muhammad Amru.

Selamat datang pak Bupati di kota Takengon, langsung saja pak, dalam 2 minggu terakhir kita hebohkan dengan pernyataan bapak terkait pembentukan provinsi ALA, apa sebenarnya yang melatarbelakangi bapak bupati mengeluarkan pernyataan tersebut?

Terima kasih Fauzi. Sebenarnya tidak ada yang luar biasa dari apa yang saya ucapkan. Dalam beberapa waktu terakhir ini memang banyak yang bertanya kepada saya tentang hal itu. Sebenarnya ini bukan cerita baru, hal ini berawal saat ada sebuah pertemuan di Brastagi, Sumatera Utara. Saya sudah lupa tanggalnya, tapi itu terjadi tahun 2008. Saat itu masih ada Almarhum Bupati Aceh Tengah, Mustafa M Tamy, Makmur Syahputra, Syahbuddin BP dan beberapa tokoh lainnya. Saat itu saya hanya sebagai juru tulis. Posisi saya waktu itu ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aceh Tenggara, saat itu Gayo Lues masih bagian dari Aceh Tenggara._ 

Kembali ke masalah ALA, memang ada sejumlah pertanyaan terkait pernyataan saya, apa yang katakan merupakan hasil diskusi panjang dengan beberapa tokoh dan teman - teman. Dalam diskusi itu kita sependapat dengan wacana pemekaran provinsi Aceh. Saya tidak tendensius dengan apa yang saya katakan. Jadi kalau ada yang mengaitkan persoalan ini dengan proyek Multi Years, sakit hati dan politik menjelang Pilkada itu semuanya tidak benar. Ini murni perjuangan demi kepentingan masyarakat, tidak ada niat kami untuk atau mau menyudutkan orang pihak lain dan kelompok tertentu._

Apa yang membuat anda begitu yakin dengan perjuangan ini?

Saya kira ini merupakan murni tuntutan masyarakat yang saya yakini bisa menciptakan kesejahteraan dan memangkas kemiskinan yang terus bertambah di wilayah tengah Aceh dan sekitarnya. Itu yang sebenarnya latar belakang munculnya keinginan membentuk provinsi ALA._

Kalau ada yang melihat ini adalah momentum yang tepat, saya kira bisa jadi pas momennya, ketika dikaitkan dengan persoalan proyek Multiyears dan politik menjelang Pilkada saya kira tidak tepat. Karena ini perjuangan lama yang kita teruskan kembali. Pembentukan provinsi ALA ini pasti akan lahir, ini hanya soal waktu saja. Tapi perjuangan ini akan menjadi lamban ketika kita lupa dan tidak ingat.

Ada kekhawatiran dari sebagian masyarakat, ketika para pejuang provinsi ALA ini mendapatkan sebuah porsi atau posisi tertentu, maka akan yang berhenti berjuang lalu saat sudah terdesak, kemudian muncul lagi isu ALA ini. Apa tanggapan anda?

Itu merupakan hal biasa. Sebuah perjuangan itu berirama, pertama semangat lalu meredup kemudian semangat lagi. Tapi ada saya menyakini, semangat dan energi yang tumbuh kali ini berbeda dengan sebelumnya. Kalau dulu kita selalu serampangan, seakan-akan siapapun yang menghambat dan tidak setuju adalah lawan, kali ini saya melihat ada suasana yang lebih lembut, jadi ketika ada yang tidak setuju kita beri pemahaman agar mereka sepakat. Itu satu perbedaan, kemudian dimana ada hambatan kita coba secara bersama sama untuk kita luluhkan supaya lancar._

Bicara pemekaran provinsi, kita tentu harus menyiapkan sejumlah syarat administrasi. Sudah sampai sejauh proses administrasi pembentukan provinsi ALA ini?

Kalau kita membuka sejumlah dokumen lama, tidak ada persoalan yang mendasar lagi, pembentukan provinsi ALA kemarin cuma terhenti karena ada moratorium pemekaran Daerah Otonomi Baru (DOB). Dari segi administrasi semua dokumen sudah lengkap karena perjuangan ini sudah melalui proses yang sangat panjang.

Apakah akan meneruskan perjuangan lama dan dokumen lama atau akan dengan konsep perjuangan baru dan dokumen administrasi yang baru?

Kami tidak mau menjadi seakan akan kami adalah pahlawan, kita tetap menghargai perjuangan tokoh tokoh ALA terdahulu. Proses administrasi terkait pembentukan provinsi ALA juga seperti itu. Kita akan mempertahankan dokumen lama dan semua proses yang sudah berjalan tapi kalau ada yang harus diperbaiki maka akan kita perbarui kembali. Jadi terkait masalah ini, kita betul-betul meneruskan upaya tokoh terdahulu. Tapi jika ada yang sandungan kita lakukan evaluasi agar kita tidak jatuh di lubang yang sama.

Anda terlihat sangat antusias menjalin komunikasi dengan sejumlah kepala daerah di wilayah ALA, sampai saat ini sudah bertemu dengan siapa saja?

Kalau bertemu langsung belum, kecuali Bupati Aceh Tenggara, Raidin Pinim. Hal ini karena kondisi Pandemi Covid-19. Tapi kami sudah melakukan komunikasi dengan telepon semuanya. Sebagai contoh Bupati Singkil dan Subulussalam, mereka tetap komitmen dengan pembentukan provinsi ALA tidak ada perubahan sikap. Sikap mereka ini juga menyahuti respon dari masyarakat terkait pembentukan provinsi ALA. Kalau ditingkat masyarakat, saya tidak ragu lagi. Tapi kalau di tingkat pimpinan saya kira masih ada yang tidak berani berterus terang._

Semua orang tahu kalau anda merupakan salah satu pengurus pusat sebuah partai lokal di Aceh, yaitu Partai Aceh (PA) apa respon dari partai anda terkait langkah berani anda ini?

Benar, saya merupakan pengurus harian di Provinsi Aceh, kalau tidak salah Wakil Ketua dan juga menjabat Tuha Peut Partai Aceh di Kabupaten Gayo Lues. Secara resmi saya belum mendapatkan respon apapun dari pihak partai, tapi secara perorangan ada yang bertanya kepada terkait sikap dan langkah saya mendukung pembentukan Provinsi ALA lewat medsos, tapi tidak secara langsung.

Apa yang anda jawab ketika mereka bertanya seperti itu?

Saya hanya menjawab begini, ini merupakan persoalan keyakinan, partai Aceh saya kira juga menginginkan rakyat Aceh sejahtera. Saya yakin dengan terbentuknya DOB baru maka rakyat akan sejahtera. Tanpa harus mengatakan bahwa Aceh ini akan bercerai berai, tidak begitu. Saya membayangkan suatu saat Aceh ini terdiri dari beberapa provinsi seperti halnya Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Keistimewaan Aceh ini harus ditempatkan dengan adanya satu Wali Nanggroe (WN) yang membawahi 4 atau 3 provinsi di Aceh.

Kenapa harus tetap di bawah Wali Nanggroe?

Agar keistimewaan dan kekhususan Aceh tetap jelas dan terjaga. Kita ingin derajat Wali Nanggroe ini kita angkat lebih tinggi lagi menjadi lembaga pemersatu dari DOB baru yang ada di Aceh. Jadi jangan ada yang berfikir kalau kami ingin memisahkan diri dari Aceh, tidak, kita tetap satu, makanya masih ada nama Aceh Leuser Antara di sana. Itu pikiran saya.

Apa tanggapan anda saat ada yang berpikiran negatif terkait rencana pembentukan provinsi ALA?

Kalau ada yang berbeda pendapat, saya tidak menyalahkan mereka. Walaupun ada yang menyerang pribadi saya. Karena ini untuk kesejahteraan masyarakat Aceh juga. Jadi kalau mereka bertanya kenapa pak Amru bersikap begitu, saya akan balik bertanya, kenapa anda berpikir kalau hal ini tidak boleh?

Rencana pemekaran provinsi Papua yang disampaikan oleh Menkopolhukam  apakah merupakan pintu masuk bagi pembentukan Provinsi ALA?

Banyak jalur sebenarnya untuk pembentukan provinsi baru, ada yang namanya Strategis Nasional dan jalur normatif. Saya melihat semuanya tergantung ke pusat. Kalau pusat sudah menginginkan maka kita bisa kasih judul ini dan ini, tapi kalau pusat tidak merestui, sederas apapun air mata kita, tidak akan terjadi. Jadi saya ingin sampaikan jangan ada konflik horizontal diantara sesama kita, kalau mereka tidak setuju dengan sikap kami, sampaikan ke atas (Pemerintah pusat). Kasih ide kesana. Kalau ada yang tidak senang jangan ke saya protesnya. Kita sebagai saudara jangan bertengkar.

Saya ambil tamsilannya dalam keluarga, misalnya ada bapak dan anak - anaknya. Coba tanya sama bapak, apa sudah boleh  kalau dalam bahasa kita "meujawe" Kita tanya sama bapak apa sudah boleh, kalau bapak bilang boleh ya boleh, tapi kalau tidak ya nggak boleh. Jadi keputusannya tetap di pemerintah pusat

Apa langkah lanjutan yang akan anda lakukan bersama-sama dengan tokoh - tokoh lain terkait pembentukan provinsi ALA ini?

Ya, tentu saja kami akan menyusun sejumlah strategi untuk khusus. Selain itu kami akan membentuk sejumlah komite seperti komite administrasi, komite pembiayaan (dana), dan juga komite Strategi serta beberapa komponen lainnya dalam waktu dekat ini.

Pasca pernyataan anda, banyak pemuda dan mahasiswa di wilayah tengah dan sekitarnya sangat antusias dan bersemangat. Apa peran yang ingin diberikan kepada anak-anak muda ini?

Semangat anak-anak muda itu tumbuh bukan karena paksaan atau tekanan, mereka merasa mempunyai harapan berkaitan dengan pemekaran provinsi ini. Nanti tentu saja kita akan memberikan porsi tertentu sesuai dengan kepemudaanya. Saya yakin itu penyemangat dan dukungan yang sangat besar bagi kita semua. Kalau mereka tertidur semua, mereka yang sudah tua ini makin terlelap. Tapi begitu mereka membakar sedikit saja, maka kita langsung bersemangat.

Pertanyaan terakhir, apakah pasca pernyataan anda, Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah sudah menghubungi anda atau sebaliknya? Atau responnya seperti apa?

Sampai saat ini belum ada komunikasi apapun dengan bapak Plt Gubernur Aceh. Saya sebagai bawahannya di daerah belum mendapat teguran dan belum juga mendapat bisikan untuk melanjutkan. Masih dingin - dingin saja.

Bagaimana dengan Ketua DPA Partai Aceh, Muzakir Manaf (Mualem)?

Beliau juga belum merespon apapun terkait hal ini. Saya kira beliau juga sangat paham terkait tuntutan politik masyarakat wilayah tengah Aceh ini

Terima kasih pak Bupati atas kesempatan wawancara ini?

Sama - sama... Semoga apa yang kita perjuangkan bisa lancar dan bermanfaat bagi masyarakat ALA dan Aceh.

Komentar

Loading...