Unduh Aplikasi

Empati Gubernur Zaini

Empati Gubernur Zaini
Gubernur Aceh Zaini Abdullah. Foto: Humas Pemerintah Aceh
GUBERNUR Aceh Zaini Abdullah bergegas. Segera setelah mendapatkan kabar banjir bandang di sejumlah daerah di Aceh Besar dan Pidie, Abu Doto--demikian sapaannya--segera meninggalkan Banda Aceh menuju lokasi bencana.

Kedatangan Abu Doto tak bisa mengembalikan kerusakan parah yang melanda desa-desa yang terkena banjir bandang, Rabu lalu. Bantuan yang diberikan juga tak bisa mengembalikan harta yang hilang. Karena kerusakan itu datang cepat, saat seluruh mata terlelap. Membawa serta semua yang dilintasi. Air bah hanya menyisakan kerusakan dan air mata.

Di Banda Aceh, keesokan harinya, Abu Doto segera meninggalkan pekerjaannya saat mendengarkan kabar tentang kematian Jeki Basri, bocah 4 tahun penderita tumor ganas. Tubuh ringkih itu lelah, tak sanggup lagi menahankan rasa sakit yang tak terucap. Untuk bertahan hidup, sejak tumor itu memenuhi ruang mulutnya, tenggorokan Jeki dipasangi selang. Dari situlah dia makan dan minum. Sebuah lobang kecil dibuat di batang leher untuk mengeluarkan lendir dari tenggorokannya yang kurus.

Bencana memang tak bisa dihindari. Duka dan nestapa adalah rahasia Sang Pemilik Rahasia. Namun di balik segala musibah itu, kita, sebagai warga Aceh dan umat Islam, hendaknya mengedepankan rasa empati; rasa kepedulian terhadap kesusahan orang lain. Dan di saat bersamaan, kita juga menumbuhkan keinginan untuk berbagi dan mengurangi kesedihan mereka yang tertimpa musibah.

Abu Doto, sebagai orang tua, mengajarkan kita untuk tetap bersikap sebagaimana seharusnya. Sebuah langkah yang harusnya ditiru oleh seluruh rakyat Aceh dalam melihat persoalan-persoalan sosial di masyarakat; tetap peduli dan peka.

Bantuan kita mungkin tak sebanding dengan rasa kehilangan keluarga atas kematian anak atau kehilangan harta benda. Namun kehadiran kita, sebagai saudara, akan menabal semangat mereka yang hilang. Karenanya, jangan sampai kehilangan empati.

Komentar

Loading...