Unduh Aplikasi

Empat Nelayan Aceh Ditangkap di Malaysia

Empat Nelayan Aceh Ditangkap di Malaysia
Empat warga Aceh yang ditahan di Malaysia.
BANDA ACEH - Empat orang nelayan tradisional yang berasal dari Aceh Tamiang ditangkap pihak berwenang Malaysia karena memasuki wilayah perairan Malaysia tanpa izin, Jumat (25/3). Mereka adalah Jasliandi (36), M. Yamin (26), Aditia (23), dan Abdullah (17).

Ketua Badan Perwakilan Komite Nasional Pemuda Indonesia (BPKNPI) di Malaysia, Muhammad Yasar menyebutkan, keempat nelayan tersebut sekarang ditahan di Pusat Kawalan Induk Sistem Pengawasan Maritim Lumut Perak Malaysia.

Dalam kunjungannya, Selasa (29/3) yang didampingi Ketua Bidang Politik dan Pertahanan BP KNPI Pauzi Ibrahim, Yasar memberikan dukungan moril kepada para nelayan tersebut dan mempercayakan pendampingan hukum kepada Kedutaan Besar Republik Indonesia atau dalam hal ini ditangani oleh KJRI Penang.

"Menurut pengamatan kami, keadaan mereka baik-baik saja, jadi pihak keluarga tidak perlu terlalu khawatir. Kita doakan saja semoga proses hukumnya berjalan dengan baik. Sekarang masih sedang dalam siasatan pihak Maritim Lumut Perak," ujar Yasar.

Ketika ditanya kronologi penangkapannya, Jasliandi menjelaskan bahwa mereka tidak sengaja memasuki wilayah perairan Malaysia. "Kami terikut angin dan tiba-tiba telah berhadapan dengan patroli laut Malaysia. Jika boat kami melawan arah angin maka dipastikan kami akan karam," jelas Andi sang nahkoda.

Terkait sejumlah ikan hasil tangkapan yang ada di dalam boatnya, Andi mengaku telah menangkap sebelumnya di perairan Indonesia. "Bagaimana mungkin kami sengaja mencuri ikan, sementara kami hanya punya dua alat pancing saja," ungkap Andi.

Keempat nelayan tersebut berharap pemerintah dapat segera menolong membebaskan mereka. "Yang penting bagi kami adalah bagaimana caranya agar dapat segera pulang, karena kami tidak bersalah, kasihan anak-anak di kampung," tambah Andi lagi.

Bahkan secara khusus, Andi meminta uluran tangan Pemerintah Aceh untuk membantu menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi tersebut. "Selama ini kami tidak pernah minta apa-apa dari Pemerintah Aceh, mungkin inilah waktunya kami minta perhatian," lanjut Andi.

Komentar

Loading...