Unduh Aplikasi

EDITORIAL: Banjir Mengepung Aceh, Bala atau Lalai

Kita tengah menuai. Satu, dua, kerusakan, yang mengantarkan kita kepada ratusan, bahkan jutaan kerusakan, mulai mendatangkan hasil. Jika beberapa daerah di Aceh tengah panen asap, di belahan Aceh lainnya, banjir menerjang.

Jalan menuju Gayo Lues terisolir; Negeri di Atas Awan terkukung. Akses dari Kutacane dan Takengon terputus. Enam kecamatan di Aceh Tenggara, sebagian daerah di Aceh Tengah dan Bener Meriah juga terendam banjir. Sebelumnya, Aceh Barat, Nagan Raya, dan pesisir timur Aceh juga bernasib sama.

Banjir yang diikuti dengan longsor, tidak saja melumpukan transportasi antardaerah tapi juga menghancurkan lahan-lahan pertanian warga, membinasakan ternak peliharaan warga. Tak ada aktifitas ekonomi, pendidikan dan pemerintahan terganggu. Belum lagi bencana kesehatan menjadi dampak ikutan pasca air surut.

Bencana ini juga berentet panjang; seperti yang kita mafhum. Kelangkaan barang akan menurunkan daya beli rakyat. Akumulasi yang ditimbulkan oleh bencana banjir tahunan ini merupakan faktor pendorong timbulnya masalah-masalah sosial serta mendorong membengkakkan angka pengangguran dan kemiskinan. Belum lagi ditambah biaya perbaikan infrastruktur dan kerugian warga karena ladang dan sawah hancur.

Namun entah karena terlalu sabar menghadapi cobaan, atau terlalu bodoh untuk belajar, "agenda tahunan" ini terkesan dibiarkan. Dalam setiap bencana, pemerintah bersikap bak pemadam kebakaran.

Atau mungkin bencana ini dipelihara. Karena selalu saja, usai banjir, pemerintah memeras anggaran berupa program tanggap darurat, bantuan pemulihan lahan-lahan pertanian serta membangun kembali infrastruktur dengan memungkinkan pembangunannya tanpa harus melalui tender terbuka.

Selalu saja kita dipertontonkan dengan prilaku dan cara berpikir pemerintah yang melakukan tindakan setelah bencana tanpa berupaya mencegahnya sebelum terjadi.

Kita berharap pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten miliki perencanaan strategis dan program kerja jangka panjang, menengah serta jangka pendek dalam mencegah bahkan meminimalisir banjir tahunan ini. Atau memang kita adalah bencana; manusia yang tak pernah belajar dari kesalahan.

|REDAKSI
Gemas-Dinas pendidikan aceh

Komentar

Loading...