Unduh Aplikasi

INTERMESO

Dulu Rafli Sekarang Yasin

Dulu Rafli Sekarang Yasin
Ilustrasi: ensiklopedi.

KABAR itu segera menyebar luas, dalam bahasa kekinian: viral. “Ganja legal...ganja legal.” Di grup-grup percakapan whatsapp, kabar ini disambut dengan beragam cerita. Ada yang menyebut hal ini akan berdampak pada kerusakan. Namun tak sedikit yang senang dengan aturan itu.

Banyak yang ragu dengan kabar ini. Namun karena kabar itu dikirim dengan lampiran sepotong surat dari Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, yang menyatakan bahwa ganja masuk dalam tanaman obat. Dugaan bahwa ganja masuk tanaman obat dan kemungkinan besar bisa bebas diedarkan ternyata bukan hoax.

Namun aturan itu hanya tak berusia panjang. Tak lama, Kementerian menyebut aturan tentang ganja tetap mengikuti aturan main dalam UU Narkotika. Dalam pasal 67 UU Nomor 13 Tahun 2010 tentang Hortikultura disebutkan bahwa budidaya jenis tanaman hortikultura yang merugikan kesehatan masyarakat dapat dilakukan untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan/atau ilmu pengetahuan, kecuali ditentukan lain oleh undang-undang.

Di awal 2020, isu tentang ganja juga membuat heboh. Adalah Rafli, anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera, mengusulkan legalisasi budidaya ganja sebagai komoditas ekspor. Rafli berpendapat bahwa ganja bermanfaat dan manfaat itu terbukti.

Lebih hebatnya lagi, ganja juga berpontensi besar mengisi pundi-pundi keuangan negara. Kalau dikaji-kaji lagi, saat ini, saat pemerintah sepertinya butuh banyak uang untuk menambal anggaran, usulan Rafli itu wajar-wajar saja. Namun, seperti Yasin, isu ini langsung diredam.

Ada banyak negara yang menikmati keuntungan dari ganja. Sebuah kota kecil di Colorado, Amerika Serikat, kini bergantung pada penjualan ganja setelah industri besi yang lama menopang negara itu roboh. Negara yang lama menjajah Indonesia, Belanda, juga menikmati keuntungan dari legalisasi ganja medis dengan memonopoli pasokan ganja ke perusahaan farmasi serta ekspor ganja ke negara-negara lain di Eropa.

Usulan Rafli, Yasin, atau banyak pihak yang menilai ganja juga memiliki sisi yang lebih baik jika dikelola secara industrial tak akan mungkin terwujud. Ada banyak aturan yang harus diubah. Ada banyak bisnis yang terganggu jika aturan itu berjalan.

Saya hanya berharap agar negara ini benar-benar bisa mengenali diri sendiri untuk menentukan takdirnya, apakah bisa menjadi bangsa besar, atau hanya sekadar negara dunia ketiga yang tak pernah naik kelas. Sembari berharap, agar gulai kambing langganan tetap berjualan tanpa khawatir harganya jadi lebih mahal karena salah satu bumbunya semakin langka.

Komentar

Loading...