Unduh Aplikasi

UPDATE KASUS DANDHY

Dukungan Berbagai Organisasi Terus Mengalir

Dukungan Berbagai Organisasi Terus Mengalir
Dandhy Dwi Laksono. Foto: Ist

BANDA ACEH - Dukungan dari berbagai organisasi untuk Dandhy Dwi Laksono terus mengalir. Hari ini, Jumat (8/9), beberapa organisasi akan menyampaikan keprihatinan publik terkait masalah kebebasan berpendapat yang bertempat di YLBHI, Jakarta.

Sebelumnya, Dandhy dilaporkan ke Polda Jawa Timur oleh Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Relawan Perjuangan Demokrasi (Repdem) Jawa Timur. Dandhy dilaporkan atas tuduhan melakukan ujaran kebencian dan penghinaan terhadap Megawati.

Dandhy melalui akun Facebooknya mengatakan di sela-sela beberapa aktivitas dan konsolidasi yang sedang dilakukan, ia membaca beberapa posting dan komentar dukungan dari kawan-kawan semua. Untuk itu, sekali lagi terima kasih dan sungguh mengharukan.

Sebab, kata Dandhy, menurut catatan South-East Asia Freedom of Expression (SAFEnet), sejak 2008, setidaknya ada 35 orang yang dijerat pasal karet UU ITE. Dari jumlah tersebut, 28 aduan di antaranya terjadi pada periode 2014-2017. Dalam catatan itu, ada 3 kelompok yang paling rentan dipidanakan: pegiat anti-korupsi, pegiat lingkungan, dan jurnalis.

Baca: Dipolisikan karena Bandingkan Megawati-Suu Kyi, Ini Kata Dandhy

Dan jika ini tidak dihentikan segera, menjelang tahun politik, situasinya bisa menjadi lebih buruk, karena siapa saja bisa melaporkan siapa saja atas hal-hal yang semata didasari sentimen subyektif.

"Dalam konteks dan gambar besar itulah, kawan-kawan akan memfokuskan perhatian, dan bukan semata kasus saya secara individual. Apalagi, di luar kasus-kasus itu, kriminalisasi juga dialami warga masyarakat dari petani, nelayan, hingga pengacara yang sedang mempertahankan hak-haknya atas tanah dan ruang hidup," kata Dandhy seperti yang dikutip AJNN, Jumat (8/9).

Untuk itu, Dandhy mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada kawan-kawan baik yang menyatakan dukungan secara terbuka maupun dengan pilihan strategi masing-masing.

"Seperti telah ditulis beberapa kawan seperti Metta Dharmasaputra, kami bisa sengit di perkara bailout Bank Century, tapi juga bisa berangkulan dalam menelisik kasus pajak Asian Agri. Saya dan Mbak Dina Sulaeman atau Mas Mahmud Syaltout berbeda pendapat soal Perppu Ormas, tapi toh kawan-kawan Ansor ikut mendampingi," ujar Dandhy.

"Atau bagaimana Mas Agus Sari dan kawan-kawan yang dalam Pilkada DKI Jakarta kemarin berada dalam posisi pilihan politiknya, kini juga salah satu orang yang paling tekun merangkai dukungan dari berbagai pihak untuk kasus ini. Termasuk Mas Blontank Poer yang kita sama-sama tahu posisinya sejak 2014 hingga hari ini."

Menurutnya dukungan ini tentu melampaui urusan menjaga hubungan baik dan perkawanan. Sebab dia dan Zen Rs, misalnya, juga belum lama berkawan, tetapi artikel lamanya yang baru dipublikasikan lagi.

"Mengejutkannya, betapa kami memiliki perspektif yang sama dalam melihat masalah kekerasan dan Hak Asasi Manusia di Indonesia, seperti halnya kita sedang melihatnya di Myanmar," jelasnya.

Dukungan yang mengalir dari kawan-kawan yang bahkan selama ini berbeda pandangan, adalah cerminan hadirnya sebuah persoalan yang lebih esensial yang diyakini menjadi masalah bersama, di luar perbedaan-perbedaan yang kadang juga substansial yang diperdebatkan, dan bahkan mungkin tetap akan diperdebatkan, jauh setelah kasus ini selesai.

"Dukungan ini juga dilandasi kepercayaan bahwa saya juga akan melakukan hal yang sama jika ini terjadi kepada siapa saja, sepanjang mengusung budaya komunikasi yang sehat dalam demokrasi. Masih banyak kawan yang belum saya sebutkan satu per satu yang dalam dua hari ini bekerja dengan energi dan strateginya masing-masing. Dan tak ada yang dapat mewakili penghargaan saya kepada semua kecuali rasa hormat dan salut yang setulus-tulusnya," ujar Dahdhy.

Komentar

Loading...