Unduh Aplikasi

Duka dan Air Mata Selimuti Imigran Rohingya di Lhokseumawe

Duka dan Air Mata Selimuti Imigran Rohingya di Lhokseumawe
Prosesi pemakanan M Khaeilal. Foto: AJNN/Sarina

LHOKSEUMAWE - Duka kehilangan selimuti ratusan Imigran asal Myanmar etnis Rohingya di penampungan sementara Balai Latihan Kerja (BLK) Meunasah Mee, Kandang, Kota Lhokseumawe.

Dua jiwa berturut-turut dalam dua hari, Nur Khalimah (21) dan M Kheilal (22), menghembuskan nafas terakhir mereka di Serambi Mekkah, setelah empat hari mendarat di Kota Lhokseumawe.

Meraung, suara isak tangis adik dan sepupunya pecah di detik-detik proses pemakaman Nur Khalimah (21), pada Rabu (9/9) lalu. Air mata seakan tiada henti mengalir dipipi sepupunya yang saat itu mengenakan jelbab abu-abu dan berbaju biru dihiasi motif manik-manik putih.

Terisak-isak, seakan tidak sanggup kehilangan saudaranya itu, tangan kanan wanita tersebut terus mengelap air mata yang saat itu wajahnya ditutupi masker berwarna biru.

Jiwa sosial masyarakat Gampong Kuta Blang ikut serta berpatisipasi membantu melancarkan prosesi pemakaman tersebut, mereka memfasilitasi kain batik, tali dan perlengkapan lainnya.

Baca: Lagi, Satu Imigran Rohingya Meninggal Dunia di Lhokseumawe

Adik kandung dan dua sepupu Nur Khalimah memimpin sendiri doa dipemakaman kakaknya itu, di samping kuburan yang sudah ditaburi bunga dan air wewangian. Meski terisak-isak mereka tetap berusaha kuat melihat mendiang saudaranya yang sudah dikebumikan tersebut.

Namun, suasana dipemakaman hari ini berbeda, tidak ada saudara ataupun kerabat yang datang pada prosesi pemakaman M Kheilal, di TPU Kuta Blang, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe.

Pada prosesi pemakamannya, hanya diwakili oleh perwakilan dari UNHCR, Dinas Sosial Pemko Lhokseumawe, dan sejumlah lembaga sosial lainnya.

Di Kamp pengungsian BLK Lhokseumawe, terpancar suasana duka yang mendalam di tengah-tengah mereka, dimana saat ini petugas semakin mengencarkan pengobatan terhadap ratusan imigran tersebut yang dominan menderita gatal-gatal dan sesak nafas.

Kabag Humas Pemko Lhokseumawe, Marzuki mengatakan, Pemerintah Kota Lhokseumawe hanya memfasilitasi. Sementara yang bertanggungjawab penuh terhadap pengungsi Rohingya itu UNHCR dan IOM selaku lembaga internasional.

“Dari total sebelumnya 297 kini mereka tersisa 295 jiwa, sementara penanganan medis terhadap mereka, petugas terkait masih terus mengupayakan semaksimal mungkin,” imbuhnya.

Saat disinggung soal penanganan medis yang lamban dan diabaikan ketika Imigran tersebut sekarat di BLK. Hal itu dibantah langsung oleh Sekda Lhokseumawe, T Adnan. Dia menyebutkan selama ini penanganan sudah sesuai prosedur dilakukan.

"Itu tidak benar, untuk penanganan dari tim medis tetap berjalan seperti biasanya, bisa jadi saat Nur Khalimah sakit parah kemarin petugas belum menjangkaunya," jelas Sekda.

Komentar

Loading...