Unduh Aplikasi

Dugaan Permainan Ganti Rugi Lahan Pembangunan Jembatan Duplikat Panteraja

Dugaan Permainan Ganti Rugi Lahan Pembangunan Jembatan Duplikat Panteraja
Bangunan toko yang terdampak pembangunan proyek jembatan duplikat Panteraja mulai dibongkar. Foto: AJNN/Muksalmina

PIDIE JAYA ‐ Pembebasan lahan pada proyek pembangunan jembatan duplikat Panteraja, Pidie Jaya, diduga adanya permainan terhadap ganti rugi lahan. 

Jumiati istri Kurmi A Manaf, pemilik lima porsil lahan beserta empat bangunan toko, pihaknya merasa dizalimi terhadap ganti rugi bangunan toko milik mereka.

"Toko saya 20 tahun lebih muda dibandingkan toko di samping toko saya. Tapi kenapa toko saya dihitung lebih murah, sedangkan toko itu lebih mahal dari toko kami," kata Jumiati kepada AJNN dengan nada bertanya, Senin 1 Februari 2021.

Jumiati juga menyoalkan, hingga harga diputuskan, baik pihak pemerintah maupun KJPP tidak pernah bermusyawarah terkait harga bangunannya tersebut hingga harga ditetapkan.

Hingga saat ini, ia masih bertanya-tanya dasar dari penetapan harga bangunan tersebut lebih murah dari pada harga bangunan yang ada disamping bangunannya itu.

Padahal, lanjut dia, Muslim Khadri (mantan Kabag Pemerintahan Sekdakab Pidie Jaya) pernah mengatakan, salah satu penilaian harga oleh KJPP adalah usia bangunan. 

Namun jika melihat pedoman tersebut, sebut Jumiati, seharusnya bangunan miliknya yang didirikan pada tahun 2009, itu dibandrol lebih mahal atau paling tidak menyamai harga bangunan di samping miliknya yang telah berdiri lebih dari 20 tahun dibandingkan bangunanya.

"Atas dasar apa harga toko saya lebih murah dari toko yang 20 tahun lebih tua dari toko saya. Dari sini kan sudah nampak permainanya," tanyanya lagi yang memperlihatkan setumpuk dokumen terkait pembebasan lahan dan bangunan.

Kini empat toko milik Kurmi A Amanf telah dirobohkan, sementara harga ganti rugi untuk lima persil lahan beserta empat unit bangunan tersebut sebesar Rp 1,3 miliar lebih dititipkan di Pengadilan Negeri Pidie Jaya.

Saat pembongkaran toko miliknya, kepada petugas di lokasi ia juga mempertanyakan dasar pembongkaran, padahal ia belum mengambil harga ganti rugi yang dititipkan di PN Pidie Jaya itu.
"Saya masih belum menerima biaya ganti rugi, tapi toko saya sudah dirobohkan," kesalnya.

Ia meyakini kalau ganti rugi lahan dan bangunan pada proyek pembangunan jembatan duplikat Panteraja itu adanya permainan dalam penentuan harga.

"Ada permainan disini. Karena kami orang lemah, kami tidak ada orang dalam, maka kami yang terzalimi. Kami meminta keadilan ditegakkan," cetus Jumiati yang kemudian membacakan lima butir Pancasila.

Senada dengan Jumiati, pemilik lainnya, Azhar menyebutkan, ganti rugi lahan dan bangunan miliknya bukan hasil musyawarah. Sejatinya dia tidak setuju dengan harga yang ditetapkan tersebut, tetapi apadaya, biaya ganti rugi telah dititipkan di Pengadilan.

"Bukan hasil musyawarah dibeli toko saya, kalau hasil musyawarah mana mungkin seperti ini kejadian, mana mungkin sampai ke Pengadilan, uang ini kan saya ambil yang dititipkan di Pengadilan," kesalnya.
Selain masalah harga ganti rugi bangunan yang dinilai menzalimi pihak Kurmi. Berhembus isu adanya kongkalikong terhadap ganti rugi lahan atas nama Nazar Nyak Cut.

Berdasarkan data yang diperoleh AJNN, arah timur lahan tersebut berbatasan langsung dengan sungai, sedangkan arah barat berbatasan dengan lahan milik Abu Bakar. Ganti rugi lahan inilah yang dinilai melanggar aturan.

Baca: Bangunan Mulai Dibongkar, Pemilik Duga ada Permainan Terhadap Ganti Rugi 

Sumber AJNN di lokasi pembangunan jembatan duplikat Panteraja mengatakan, setau dirinya, arah timur lahan Abu Bakar, tidak ada pemilik lain melainkan lahan tersebut berbatasan langsung dengan sungai. 

"Setahu saya, setelah lahan Abu Bakar (arah timur) adalah sungai, tidak ada pemilik lain. Sebab kenapa, setelah lahan Abu Bakar langsung air (sungai)," kata sumber itu.

Informasi diperoleh AJNN, ganti rugi terhadap lahan milik Nazar Nyak Cut yang berbatasan langsung dengan sungai itu berdasarkan surat kehilangan bahwa surat tanah tersebut telah hilang saat rumah pemilik lahan diterjang tsunami tahun 2004 lalu.

"Pengakuan dari pak Nazar, aktenya hilang saat tsunami. Maka dibuatlah surat kehilangan," kata sumber yang juga terlibat dalam panitia pembebasan lahan tersebut, namun tak mau namanya dipublis.

Sumber itu menjelaskan, lahan Nazar Nyak Cut dibayar sebesar Rp 400 ribu lebih per meter.

"Ganti ruginya sudah dibayar Rp 400 ribu lebih dalam satu meter. Meski diawal pak Nazar menolak harga tersebut, akhirnya ia menyetujuinya jiga," ungkapnya.

"Saya cek di BPN belum ada sertifikat lahan tersebut, jadi dibuat surat kehilangan, surat desa, dan surat sporadik. Pembayaran ini berdasarkan surat sporadik," tambah sumber tersebut.

Sementara itu, Nazar Nyak Cut yang dihubungi AJNN menjelaskan, sertifikat lahan tersebut hilang saat tsunami menghantam Aceh. Sehingga ia mengurus surat kehilangan di Polres setempat untuk keperluan administrasi ganti rugi lahan itu.

Ditegaskan, lahan tersebut memang miliknya, tetapi karena pengikisan yang disebabkan oleh air sungai, sehingga lahan miliknya itu terlihat mencolok ke sungai.

"Tanah kami terjadi karena pergeseran akibat arus sungai. Itu adalah tanah kami, bukan tanah erosi sungai diukur lalu dibayar untuk kami, bukan seperti itu. Dasarnya memang tanah kami itu, tetapi terjadi pengikisan oleh air sungai," jelasnya.

Proyek Pembangunan Jembatan Duplikat Panteraja. Foto: AJNN/Muksalmina

Bahkan, kata dia, dari pematang sungai yang dihitung saat ini, 20 meter arah timur atau ke sungai adalah miliknya juga. Namun akibat erosi, 20 meter lahannya itu telah menjadi sungai.

"Dari pematang itu, lahan saya arah ke sungai ada sekitar 20 meter lagi, tetapi karena kuasa Allah mau bagaimana. Namun karena lahan saya itu telah menjadi sungai, bagaimana ditimbun sungai, pasti akan bermasalah dengan negara," imbuhnya.

"Sampai saat ini saya tidak ada sertifikat lahan itu. Yang ada hanya surat kehilangan yang saya buat di Polres, dan surat itu telah saya serahkan ke pemerintah," tegas Nazar menambahkan.

Keuchik Keude Panteraja, Kecamatan Panteraja, M Diah menyebutkan, dulunya pada posisi jembatan tersebut bukanlah jalan nasional. Lahan disepanjang bantaran sungai itu adalah milik warga.

Namun akibat erosi, sebagian lahan warga tergurus dan menjadi sungai.

Baca: Pembangunan Jembatan Panteraja Tahun 2020 Hanya 25 Persen

"Pada posisi jembatan yang dibangun saat ini, itu dulunya bukan jalan utama, jalan utama dulu adalah di jalan pasar. Jadi disana dulu adalah lahan warga, tapi lahan-lahan warga itu banyak yang terkikis air sungai," jelasnya.

Perihal surat tanah milik Nazar Nyak Cut, dirinya mengakui hanya mengeluarkan surat rekomendasi untuk pembuatan surat kehilangan.

"Saya hanya mengeluarkan surat rekomendasi, bukan surat kehilangan," tuturnya.

Abu Bakar Membantah

Pemilik lahan sebelah barat lahan Nazar Nyak Cut, Abu Bakar dengan tegas membantah kalau lahan yang berada di sebelah timur miliknya itu adalah lahan Nazar Nyak Cut.

"Tidak ada tanah milik Haji Nadar (Nazar Nyak Cut) disebelah timur tanah saya. Pemilik lahan sebelah timur lahan saya adalah lahan Ismail," terang Abu Bakar saat dijumpai AJNN di kediamannya di Gampong Hagu, Panteraja, Selasa (2/2).

Di kediaman Abu Bakar, AJNN juga memperoleh keterangan dari adik Ismail, Juhari, ia menjelaskan, lahan sebelah timur Abu Bakar adalah milik abangnya.

"Sebelah timur lahan Abu Bakar adalah lahan abang saya M Nur (menetap di Bireun), batasannya dari lahan Abu Bakar sampai ke sungai. Jadi tidak ada lahan Haji Nadar disana (sebelah timur),” ujarnya
“Ismail dan M Nur adalah abang saya, tanah Abu Bakar dibeli dari abang saya Ismail. Sedangkan lahan abang saya M Nur yang sebelah timur Abu Bakar tidak pernah dijual, dan itu milik abang saya," bebernya.

Meski pihaknya tidak akan memperkarakan terkait pencaplokan lahan itu. Namun Juhari menegaskan, ia siap berurusan terkait lahan sebelah timur Abu Bakar, sebab lahan tersebut adalah peninggalan dari orang tua mereka. 

"Kiban cara taperkarakan dek, sedangkan ureung-ureung geulakei poh meunye tajak jeh ata gob nyan. Ata-ata pak Abu karap dicok sit," ujar wanita paruh baya itu dalam bahasa Aceh.

"Tanah saya pun mau diambilnya," timpa Abu Bakar.

"Dari tanah Abu Bakar ke arah timur sampai ke sungai, abang saya tidak menjualnya kepada siapapun. Dari lahan Abu Bakar sampai ke sungai itu milik abang saya," tegas Juhari mengakhiri.

HUT Pijay

Komentar

Loading...