Unduh Aplikasi

Dugaan Penganiayaan Tahanan, Mahasiswa Gelar Aksi di Mapolres Aceh Barat

Dugaan Penganiayaan Tahanan, Mahasiswa Gelar Aksi di Mapolres Aceh Barat
Aksi teatrikal mahasiswa di depan Mapolres Aceh Barat. Foto: Darmansyah Muda

ACEH BARAT - Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Compeni Aksi Treatikal Untuk Rakyat (Catur), Selasa, (1/11) menggelar aksi treatikal di halaman Kepolisian Resort (Polres) Aceh Barat atas dugaan kasus penganiayaan terhadap salah satu tahanan yang bernama Jailani (40), warga Desa Seuneubok Teungoh, Kecamatan Arongan Lambalek.

Aksi yang berlangsung pukul 10.30 WIB itu digelar selama 30 menit itu diringi nyanyian “polisi main kasar” secara berulang- ulang. Dalam aksi itu para mahasiswa mengecat badan sambil memperagakan penganiayaan.

Baca: Dipaksa Mengaku sebagai Pembunuh, Tahanan Polres Aceh Barat Dianiaya Oknum Polisi

Koordinator aksi, Rino Abonita mengatakan aksi yang dilakukan ini sebagai bentuk protes atas dugaan kasus penganiyaan yang dialami oleh Jailani salah satu tahanan polres setempat.

“Polres Aceh Barat diduga melakukan penangkapan terhadap tersangka selalu unprosedural (tidak sesuai prosedur) contohnya apa yang dialami Jailani,” kata Rino, kepada wartawan.

Rino meyakini jika pihak kepolisian telah melakukan kekerasan terhadap Jailani, namun Jailani takut mengakui atas kekerasan yang diterima oleh oknum Kepolisian Polres Aceh Barat.

Untuk itu, pihaknya meminta kepada pihak kepolisian untuk mengusut kasus dugaan penganiayaan yang dialami oleh Jailani. Seharusnya kepolisian bekerja sesuai dengan Catur Satya dan Tribrata Polri.

“Jailani ditahan atas dugaan kasus penyalahgunaan narkoba. Kami melihat ada yang aneh dalam penetapan Jailani sebagai tersangka narkoba,” kata Rino.

Rino mengungkapkan, sebelum ditetapkan sebagai tersangka kasus Narkoba, Jailani diperiksa sebagai saksi atas dugaan kasus tewasnya bekas Kepala Desa Lhueng Gayo, Kecamatan Teunom, Kabupaten Aceh Jaya yakni Zainal Abidin yang ditemukan tidak bernyawa dalam mobilnya beberapa waktu lalu.

“Jailani sebelumnya pernah diperiksa sebagai saksi atas dugaan pembunuhan bekas Geuchik Lhueng Gayo. Namun tidak ada bukti atas dugaan kasus itu akhirnya ditangkap dengan dalih penggunaan narkoba melalui tes urine yang dilakukan,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Polres Aceh Barat, Ajun Komisaris Besar Polisi Teguh Priyambodo Nugroho, SIK melalui Wakil Kepala Polres Aceh Barat, Komisaris Polisi Safrianizal, membantah adanya kekerasan terhadap tahanan.

Menurutnya kondisi Jailani dalam kondisi baik- baik saja dan tidak ada bekas penganiayaan sama sekali seperti apa yang disampaikan keluarga Jailani.

“Begitu ada pemberitaan di media, atas perintah polda melakukan pemeriksaan terhadap anggota, namun hasil penyelidikan terhadap anggota tidak ada kekerasan atas saudara Jailani,” kata Wakapolres.

Jailani, kata Safrianizal, murni ditahan atas kasus penyalahgunaan narkoba jenis sabu. Pasalnya pihaknya menita barang bukti berupa bong atau alat hisap sabu dari Jailani.

“Jailani ditahan atas kasus narkoba dan kini berada di bawah jajaran Reserse Narkoba,” ungkapnya.

Selain itu, Wakapolres juga mengakui sebelum ditahan atas kasus sabu, Jailani sempat diminta keterangan sebagai saksi atas kasus tewasnya bekas Keuchik Desa Lhueng Gayo yakni Zainal Abidin.

“Memang kami ada lakukan pemeriksaan terhadap Jailani sebagai saksi kasus tewasnya bekas Geuchik Lhueng Gayo. Kami periksa setelah adanya pengakuan dari salah satu saksi dari 12 saksi yang kami periksa. Ada saksi mengakui kalau Jailani memiliki hubungan bisnis dengan bekas keuchik yang tewas itu,” ujarnya.

“Atas dasar itu pula Jailani dipanggil sebagai saksi, bukan hanya Jailani, tapi istri Jailani juga kami periksa sebagai saksi.”

Komentar

Loading...