Unduh Aplikasi

Dugaan Pemalsuan Tanda Tangan, Keuchik di Aceh Selatan Dipolisikan

Dugaan Pemalsuan Tanda Tangan, Keuchik di Aceh Selatan Dipolisikan
Kuasa Hukum Zulbaidah dari YLBH AKA Abdya (samping kiri-kanan) saat mendampingi korban membuat laporan. Foto: Ist

ACEH SELATAN - Salah seorang warga Kuta Trieng, Kecamatan Labuhan Haji Kabupaten Aceh Selatan, Zulbaidah (43) melaporkan keuchik setempat ke Polres Aceh Selatan atas kasus dugaan pemalsuan tanda tangan, Senin (15/6).

Saat membuat laporan, Zulbaidah didampingi langsung oleh kuasa hukumnya yakni Rahmat dan Pujiaman dari Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Advokasi dan Keadilan Aceh (YLBH AKA) Distrik Abdya.

Direktur Eksekutif YLBH AKA Abdya, Rahmat mengatakan, ketika membuat laporan ke Polres Aceh Selatan, klien mereka yang mengalami strok sejak empat tahun lalu itu juga ditemani suaminya.

Kata Rahmat, berdasarkan keterangan kliennya, selama strok dia selalu meneken surat menggunakan tangan kiri, karena itu ia melihat tanda tangannya dalam berita acara pengalihan berbeda. Hal itu kemudian menguatkan pembuktian bahwa adanya dugaan pemalsuan.

Saat ditanya penyidik, kata Rahmat, Zulbaidah tidak menerima dengan alasan apapun yang mengatasnamakan dirinya dalam berita acara pengalihan bantuan dampak Covid-19 tersebut.

"Sebab harusnya panggil dulu atau kabari terhadap perihal pengalihan itu, bukan serta merta begitu saja," ujar Rahmat meneruskan pernyataan kliennya.

Rahmat menyampaikan, Zulbaidah merupakan salah satu dari beberapa korban lainnya yang mulai bersuara, dan tidak menerima ulah dari oknum keuchik tersebut.

Rahmat menegaskan, mengenai pelaporan warga terhadap dugaan pemalsuan tanda tangan itu bukan karena ada paksaan dari pihak lain, tetapi murni atas insiatif warga yang merasa dirugikan.

"Kami yakin ini bukan korban terakhir," tutur Rahmat.

Untuk diketahui, Kantor Keuchik Desa Kuta Trieng Kecamatan Labuhan Haji Barat, Aceh Selatan ini juga sudah pernah disegel warga pada Kamis, 28 Mei 2020 lalu.

Penyegelan itu dilakukan karena warga menilai proses pemberian atau penyaluran serta pengalihan bantuan dalam masa pandemi Covid-19 ini kurang transparan.

Waktu itu, Keuchik Kuta Trieng, Yuhanda menuturkan bahwa masyarakat menuduh dirinya tidak melakukan pengalihan bantuan sembako tersebut. Padahal, lanjutnya, semua itu dilaksanakan.

"Insyaallah ada kami alihkan semua, ada surat, bahkan sampai 100 orang lebih," ucap Yuhanda kala itu.

Komentar

Loading...