Unduh Aplikasi

Dua Terdakwa Korupsi Telur Ayam Divonis Bebas

Dua Terdakwa Korupsi Telur Ayam Divonis Bebas
Terdakwa Muhammad Nasir sujud syukur usai di vonis bebas oleh majelis hakim Tipikor. Foto; AJNN/Tommy

BANDA ACEH - Dua terdakwa perkara korupsi hasil produksi telur ayam pada Dinas Peternakan Aceh divonis bebas majelis hakim Pengadilan Tipikor Banda Aceh.

Majelis hakim yang dipimpin Dahlan dalam putusan menyatakan kedua terdakwa Ramli Hasan dan Muhammad Nasir tidak terbukti bersalah melakukan perbuatan melawan hukum yang disebutkan dakwaan penuntut umum.

"Dengan ini menyatakan terdakwa tidak terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana sebagai mana yang didakwa kepadanya. Baik dakwaan primer maupun subsidair," kata ketua majelis hakim dalam putusannya di pengadilan tipikor Banda Aceh, Kamis (1/10).

Dalam amar putusan majelis hakim mengatakan dalam fakta persidangan terdakwa tidak terbukti melakukan korupsi yang merugikan keuangan negara sebesar Rp2,6 miliar. Uang hasil produksi telur ayam digunakan kedua terdakwa untuk memberikan pakan.

"Fakta persidangan tidak seorang saksipun yang menyatakan dan membuktikan bahwa kedua terdakwa menikmati uang hasil penjualan telur sebagaimana dalam dakwaan dan tuntutan jaksa," sebut hakim.

Menurut majelis hakim perbuatan terdakwa membelikan pakan ayam menggunakan uang penjualan telur ayam hasil produksi Balai Ternak Non Ruminansia (BTNR) Saree dan Blang Bintang Aceh Besar telah sesuai dengan peraturan Gubernur Nomor 29 Tahun 2006 tentang Petunjuk Pengelolaan Administrasi dan Keuangan Ayam Ras Petelur yang dikelola oleh UPTD Agribisnis Ternak Unggas Pada Dinas Peternakan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam..

"Tidak terpenuhinya unsur menguntungkan diri sendiri, orang lain atau koorporasi. Membebaskan kedua terdakwa dari dakwaan dan tuntutan. Memulihkan nama baik kedua terdakwa. Barang bukti berupa uang tunai yang disita dikembalikan kepada terdakwa," ucap hakim.

Menanggapi putusan bebas tersebut, kedua penasihat hukum terdakwa, Junaidi dan Najmuddin menyambut baik putusan tersebut. Dimana terdakwa Ramli Hasan dan Muhammad Nasir tidak melakukan korupsi seperti yang didakwa penuntut umum.

Menurut Junaidi, dalam persidangan terungkap keseluruhan perbuatan kliennya Muhammad Nasir dalam menjalankan tugas dan fungsi di UPTD BTNR adalah perbuatan dan tindakan yang justru menguntungkan keuangan negara dari hasil produksi telur ayam.

"Jika uang tersebut tidak dibelikan obat dan pakan ternak justru ayam-ayam sebanyak 45 ribu ekor akan mati sehingga menimbulkan kerugian negara yang lebih besar," sebut Junaidi.

Sementara Najmuddin penasihat hukum terdakwa Ramli Hasan menyatakan putusan bebas terhadap kliennya sudah sangat tepat. Apa yang dilakukan kliennya membeli pakan dari hasil penjualan telur ayam bukan suatu perbuatan melawan hukum.

"Putusan hakim sesuai dengan nota pembelaan kami pada persidangan sebelumnya, membeli pakan dan obat-obatan untuk ayam petelur dapat meningkatkan produktivitas telur dan menghasilkan pendapatan asli daerah (PAD) sebesar Rp 11 miliar dari target Rp 6 miliar di tahun 2018," ungkap Najmuddin.

Atas putusan majelis hakim, Jaksa Penuntut Umum yang dihadiri Ardyansyah menyatakan akan melakukan kasasi.

Sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum menuntut masing-masing terdakwa delapan tahun penjara dan kedua terdakwa juga harus membayar denda 300 juta subsidair tiga bulan. Sedangkan terdakwa Ramli Hasan ditambah uang pengganti sebesar Rp 2,6 miliar.

 

Komentar

Loading...