Unduh Aplikasi

Dua Petugas Terinfeksi Covid-19, Balitbangkes Aceh Tutup 14 Hari

Dua Petugas Terinfeksi Covid-19, Balitbangkes Aceh Tutup 14 Hari
Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah saat memberikan keterangan kepada awak media usai peresmian laboratorium PCR di kawasan Siron Kabupaten Aceh Besar, Kamis, 16 April 2020. Foto: AJNN/Rahmat Fajri

BANDA ACEH - Balai Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Aceh di Gampong Bada, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar terpaksa harus ditutup selama 14 hari kedepan.

Penghentian aktivitas pemeriksaan swab di Balai Balitbangkes Aceh tersebut karena adanya dua petugas yang terinfeksi virus corona (Covid-19), termasuk tenaga ahli bidang swab.

"Karena terinfeksi dua orang, petugas lainnya kontak erat dengan pasien harus isolasi dan di swab. Jadi otomatis di sana tidak ada tenaga," kata Juru Bicara Covid-19 Aceh, Saifullah Abdulgani saat dikonfirmasi AJNN, Senin (10/8).

Kemudian, kata Saifullah, Balitbangkes Aceh perlu ditutup karena harus dilakukan sterilisasi seluruh gedung serta peralatan kerja dengan penyemprotan cairan disinfektan.

"Jadi ditutup selama 14 hari sejak tanggal 4 Agustus 2020 lalu," ujarnya.

Saifullah menegaskan, Balitbangkes Aceh ditutup bukan karena kekurangan alat. Meski salah satu peralatan pengambilan swab sempat menipis, tetapi semua masih tercukupi, dan hari ini akan kedatangan lagi bantuan dari BNPB.

"Tidak ada alat kekurangan, kemarin sebelum tutup itu memang agak menipis yaitu alat untuk pengambilan swab. Tetapi hari ini mendarat lagi seperti cairan reagen dengan Batik Air bantuan dari BNPB Pusat," ucap pria yang akrab disapa SAG itu.

Baca: Ombudsman Aceh Minta Kebijakan Kirim Sampel PCR ke Jakarta Dicabut

SAG menjelaskan, pemeriksaan swab tidak boleh tersentral di Laboratorium Unsyiah saja, dikhawatirkan bakal overload dan pelayanan pemeriksaan terhenti.

Karena itu, Balitbangkes Aceh berkonsultasi dengan Balitbangkes Pusat, hingga akhirnya banyak sampel swab dikirimkan ke Jakarta secara gratis.

"Keuntungan pertama tidak bayar dan BHP (bahan habis pakai) di Laboratorium Unsyiah bisa digunakan lebih lama. Serta tidak terjadi penumpukan sampel," terangnya.

Menurut SAG, sentralisasi berisiko terhadap penumpukan swab, apalagi jumlah sampel dari seluruh Aceh tidak bisa diprediksi apakah semakin banyak atau berkurang. Belum lagi swab dari RSUDZA dan masyarakat secara mandiri juga diperiksa diUnsyiah.

"Penanganan sampel ini ada Permenkes nya, yang mengatur tentang jejaring laboratorium. Sehingga tidak terjadi penumpukan," jelasnya.

SAG menuturkan, sejak Balitbangkes Aceh ditutup, terdapat 180 hingga 200 swab yang telah dikirimkan ke Jakarta, baik sampel pasien dalam perawatan maupun baru. Hasilnya juga sudah keluar, namun sedang dalam proses pemisahan data.

"Hasilnya sudah ada, ini sedang diklasifikasi mana pasien lama yang dites swab kembali dan mana swab pasien baru. Juga dipisahkan dari kabupaten/kota mana," tutup SAG.

Komentar

Loading...