Unduh Aplikasi

BAHAS MASALAH SOLAR LANGKA

Dua Kali Dipanggil DKPP Lhokseumawe, Pertamina Belum Mau Hadir

Dua Kali Dipanggil DKPP Lhokseumawe, Pertamina Belum Mau Hadir
Sejak kelangkaan dan mahalnya harga minyak solar bersubsidi. Tampak sejumlah kapal nelayan bersandar di tepian Laut Desa Pusong Baru Kecamatan Banda Sakti Kota Lhokseumawe, Senin (21/10). Foto: AJNN.Net/Safrizal

LHOKSEUMAWE - Dinas Kelautan Perikanan dan Pertanian (DKPP) Kota Lhokseumawe akan memanggil pihak Depot Pertamina menyusul terjadinya kelangkaan minyak solar bersubsidi membuat nelayan terpaksa tidak turun melaut.

Terhitung hampir satu bulan lebih, kelangkaan solar bersubsidi terjadi semakin mencekik rakyat kecil yang hidup dari hasil turun melaut.

Lantaran kelangkaan solar membuat harganya melambung tinggi dan tak mampu dijangkau oleh masyarakat menengah ke bawah.

Hal itu diungkapkan Kepala DKPP Kota Lhokseumawe Rizal, Senin (21/10), terkait faktor kelangkaan solar kian merajalela hingga kondisi menjadi kritis dan kian menjepit ekonomi rakyat kecil.

Bahkan karena kesulitan dan mahalnya memperoleh minyak solar bersubsidi membuat para nelayan dikawasan pantai Kota Lhokseumawe dan sekitarnya tak bisa melaut.

Mengingat kondisi yang semakin memprihatinkan ini, maka pihaknya perlu mengambil sikap tegas untuk mengatasinya. Salah satunya adalah pihak DKPP Kota Lhokseumawe akan memanggil pihak Depot Pertamina secara resmi untuk mempertanyakan dan membahas persoalan kelangkaan solar yang semakin parah.

"Kami sudah banyak menerima keluhan dari para nelayan tentang kelangkaan solar bersubsidi. Bahkan SPBU mini juga sama sekali tidak mendapat pasokan solar hingga tidak mampu lagi melayani permintaan para nelayan," ujarnya.

Sehingga sebagian besar nelayan kini terpaksa menganggur dan tak melaut karena tak mampu mengisi bahan bakar minyak jenis solar. Kondisi memprihatinkan ini membuat rakyat kecil semakin tergilas kemiskinan karena tidak bisa mencari nafkah.

"Kami akan memanggil pihak Depot Pertamina untuk mempertanyakan soal kelangkaan solar. Meski kami tahu pasokan minyak sesuai permintaan pemerintah, namun yang terjadi sekarang malah kelangkaan solar semakin parah sampai nelayan tak bisa melaut," tegasnya.

Namun upaya memanggil pihak Depot Pertamina sudah dilakukan sejak hari Jumat (18/10), lalu. Pihak Pertamina belum juga dapat hadir. Selanjutnya pemanggilan kedua juga sudah dilakukan pada Senin (21/10), namun tidak juga hadir dengan alasan pejabatnya sedang di luar kota.

Baca: Solar Langka, Nelayan Lhokseumawe Tak Bisa Melaut

Pihak DKPP belum menyerah, mereka tetap kembali melakukan pemanggilan sampai Depot Pertamina mau beritikad baik untuk meluang waktu beraudiensi soal kelangkaan solar yang selama ini dikeluhkan nelayan.

Dijelaskannya, pihak pemerintah akan terus berupaya mencari solusi agar kebutuhan solar bersubsidi untuk nelayan.

Agar nelayan profesi lainnya yang bergantung pada bahan bakar Solar, dapat mengais rezeki lagi dengan melaut. Sehingga dapat memenuhi pasokan ikan untuk kebutuhan masyarakat setiap harinya.

Sementara itu pantauan AJNN, puluhan kapal motor milik nelayan berjejer dan bersandar di TPI Pusong Lhokseumawe tidak melakukan aktivitas melaut karena sulitnya mendapatkan pasokan minyak Solar.

Salah seorang nelayan Abdurrahman (43), Desa Pusong membenarkan terhitung sudah satu bulan lebih ribuan nelayan menganggur di Kota Lhokseumawe.

Kondisi itu disebabkan terjadinya kelangkaan bahan bakar solar untuk bahan bakar mesin nelayan. Hal ini berdampak buruk pada ekonomi keluarga nelayan yang tidak bisa mengais rezeki dilaut.

“Puluhan kapal terpaksa menepi, dan ribuan nelayan menganggur dan tidak melaut. Untuk memenuhi ekonomi keluarga terpaksa berutang,” paparnya.

Ia menjelaskan nelayan tidak mungkin menggunakan minyak industri mengingat pengeluarannya tidak akan sesuai dengan pendapatan dari hasil mereka melaut. Satu-satunya harapan yang dimiliki para nelayan adalah menunggu normalnya distribusi solar bersubsidi.

"Kami berharap kepada pemerintah supaya meninjau dan melihat langsung kondisi dan keluh kesah nelayan di lapangan. Sejak solar langka, nelayan tak bisa melaut,” ujarnya.

Komentar

Loading...