Unduh Aplikasi

Drainase Tak Berfungsi, Kota “Petrodolar” Tergenang Air Hujan

Drainase Tak Berfungsi, Kota “Petrodolar” Tergenang Air Hujan
Genangan air di Pusat Kota Lhokseumawe. Foto: Azwar Ipank

LHOKSEUMAWE – Musim hujan mulai mengguyur sejumlah daerah di Provinsi Aceh. Tak terkecuali di Kota Lhokseumawe, kota kecil yang akrab dikenal dengan sebutan “Petrodolar”.

Di sejumlah sudut Kota Lhokseumawe terlihat genangan air mencapai 50 hingga 60 centimeter saat hujan deras mengguyur kota. Tak perlu lama, dalam jangka waktu dua jam saja, air sudah mengepung ruas jalan, baik lintas Sumatera dan pusat perkotaan.

Bertahun-tahun lokasi yang kerap menjadi langganan genangan air di saat hujan deras mengguyur yakni, Jalan Perdagangan, Jalan Perniagaan, Jalan Lintas Sumatera di kawasan Cunda, Blang Panyang dan, Batuphat.

Pantauan AJNN, sejumlah pengendara terpaksa harus mengantri ketika melintasi kawasan genangan air tersebut. Bahkan sebagian kendaraan terlihat mogok saat melintasi genangan akibat tak berfungsinya drainase itu.

Salah seorang warga, Dian Apriana mengatakan, genangan air hujan tersebut sangat meresahkan masyarakat. Pasalnya, selain jalanan macet, bagi pedagang yang berjualan sekitar ruas jalan itu juga akan terganggu aktivitas jual belinya.

“Pemerintah harus segera mencari solusi, supaya Kota Lhokseumawe yang menjadi langganan genangan air bisa maju dan berkembang,” kata wanita cantik tersebut.

Sementara itu, PAO HMI Cabang Lhokseumawe – Aceh Utara, Fakhrul Razi, mengatakan, kondisi drainase Kota Lhokseumawe saat ini belum mampu melayani kebutuhan masyarakat. Jaringan drainase yang tidak integrasi mengakibatkan penyumbatan dibeberapa ruas jalan.

“Akibatnya terjadi genangan air saat musim hujan. Seharusnya pemerintah mengutamakan sistem drainase di Kota Lhokseumawe,” ujarnya.

Mahasiswa IAIN Malikussaleh itu juga menambahkan, pembangunan Kota Lhokseumawe harus lebih difokuskan pada strategi sanitasi. Ruas jalan yang tergenang dis aat hujan, bukan ditinggikan jalannya, tapi volume drainase harus ditingkatkan.

“Pembangunan jalan tanpa diimbangi dengan sistem drainase, akan berakhir banjir karena aliran air tidak terhambat,” tuturnya.

Tambahnya, Pemerintah Kota Lhokseumawe harus segera mengevaluasi strategi sanitasi agar permasalah ini dapat segara teratasi. Karena kota tersebut merupakan, kawasan pantai dengan posisi kemiringan 0-3 % pastinya harus memiliki sistem drainase yang memadai.

“Sistem drainase bukan hanya dibangun. Tapi juga diawasi secara berkala agar tidak terjadi penyumbatan, sehingga kapasitas aliran tidak menurun. Penekanannya harus ada keseimbangan pembangunan jalan dengan pembangunan sistem drainase,” ujarnya.

Prakirawan BMKG Malikussaleh, Kharendra Muiz menyebutkan, puncak musim hujan akan terjadi pada bulan November dan Desember 2019. Sementara, hujan juga diperkirakan akan terjadi hingga Februari 2020 mendatang.

Wakil Wali Kota Lhokseumawe, Yusuf Muhammad, saat dikonfirmasi AJNN mengakui kalau Kota Lhokseumawe memang sering jadi langganan genangan air hujan. Bahkan sejauh ini, pihaknya sudah melakukan peninjauan sejumlah titik yang kerap menjadi langganan genangan itu.

“Kami memang mengakui, kalau genangan air kerab terjadi saat hujan tiba. Dan itu karena tidak berfungsinya drainase,” kata orang nomor dua di Kota Lhokseumawe itu.

Yusuf Muhammad menjelaskan, langkah yang sudah ditempuh oleh Pemko Lhokseumawe untuk menimimalisir genangan air tersebut yakni di jalan Perdagangan setahun lalu sudah dibangun sarana anti banjir.

“Kalau dulu airnya tergenang hingga sebulan, namun sekarang hanya bertahan beberapa jam saja,” ujarnya.

Dikatakan Yusuf, di kawasan Cunda pihaknya akan segera memperbaiki drainasenya. Karena, di dalam drainase tersebut rata-rata tersumbat dengan sampah buangan masyarakat.

“Kita perlu juga menyampaikan kepada masyarakat. Kalau Drainase itu bukanlah tong sampah. Hal ini perlu dibangun komunikasi bersama,” tuturnya.

Begitu juga di kawasan Blang Panyang, air yang turun dari penggunungan akan menutupi badan jalan, hal serupa juga terjadi di Batuphat. Saat ini, pihaknya mengaku sedang memikirkan solusi yang tepat untuk menuntaskan hal tersebut.

“Tahun 2020 mendatang, kita targetkan bebas banjir dan sampah. Dengan harapan tahun depan kita bisa mendapatkan penghargaan sebagai kota bersih di Indonesia,” ujarnya.

Komentar

Loading...