Unduh Aplikasi

Dr Tedros, Mawardi Ali, dan Gabriel Garcia Marquez

Dr Tedros, Mawardi Ali, dan Gabriel Garcia Marquez
Ahmad Humam Hamid. Foto: Net

Oleh: Ahmad Humam Hamid

Dapatkah pandemi seperti virus Corona disamakan dengan cinta? Gabo, panggilan untuk novelis, sastrawan besar Amerika Latin - Gabriel Garcia Marquez - mengatakan “Ya”. Tentu saja yang dimaksud bukanlah persoalan kasih sayang, tetapi “sakit cinta” yang mampu membuat sesuatu yang janggal, jarang, dan aneh menjadi mungkin. Dan bagi Gabo itu adalah wabah.

Cinta telah membuat pemuda Florentino, pegawai kecil kantor telegraph mampu menunggu lebih setengah abad untuk dapat bersatu kembali dengan kekasihnya Fermina. Sang gadis, anak pedagang migrant Spanyol itu kawin “terpaksa” dengan seorang dokter terpandang dan kaya, Urbino di sebuah kota fiktif di pantai Karibia, mungkin kota Cartagena, Kolumbia pada kurun waktu 1879-1930.

Gabriel Garcia Marquez, pemenang nobel sastera pada tahun 1982 menulis banyak cerita pendek dan novel dengan setting Amerika Latin. One Hundred Years in Solitude dan Love in the Time of Cholera adalah dua dari novelnya yang sering disebut. Di dalam Love in the Time of Cholera diceritakan wabah cinta yang diderita secara fisik dan emosi oleh Florentino selama 51 tahun, 9 bulan, dan 4 hari. Dengan sentuhan genre realisme magis, Gabo merajut dengan apik wabah kolera menjadi metafora cinta, kegilaan, kegalauan, dan kematian. Dan memang bumi Amerika Latin pada tahun setting novel adalah tahun-tahun yang memakan korban kolera mendekati 200.000 kematian.

Ketika Florentino dan Fermina menyatu kembali, mereka berdua telah renta di dera usia, umur mereka berdua di atas tuju puluh tahun. Gabo menceritakan berbagai gejala “wabah” yang di derita oleh Florentino dalam masa penantian itu, perjuangan untuk menjadi penyair, perjuangan untuk menjadi kaya, dan petualangan percintaan yang jumlahnya ratusan yang pada hakekatnya bukanlah cinta yang sesungguhnya. Semua itu ditujukan hanya untuk menunggu, dan menunggu, Fermina. Mungkin bagi Gabo dan sebagian pengulas sastera itu adalah cinta sejati, namun tampil seperti wabah dengan bermacam wajah.

Saya tidak tahu apakah dalam beberapa bulan selama pandemi ini, Bupati Aceh Besar, Mawardi Ali membaca novel Gabo ini, mungkin naskah terjemahan bahasa Inggris dari bahasa Spanyol, atau mungkin saja terjemahan Indonesia dari penerbit Gramedia. Sebagaimana banyak pejabat-pejabat publik pembelajar lainnya dimanapun, bagi Mawardi, hal yang seperti ini, tentu bukan tak mungkin. Cobalah bertanya kepada orang seperti Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta tentang sejarah pandemi, dia akan mampu bercerita berhari-hari mulai dari wabah Justinus, pandemi black death, sampai dengan sejarah kolera yang menghantam Banten, Surabaya, dan Madura pada abad ke 19.

Mengasosasikan nama Mawardi dengan Gabo dalam tulisan ini sesungguhnya tidak lain karena salah satu pesan novel Love in the Time of Cholera adalah tentang asosiasi cinta dengan wabah, dan itu terpencar dari apa yang dlakukannya dua hari yang lalu di Jantho. Ia memulai sebuah pekerjaan penting. Test massal PCR-SWAB Covid-19 untuk Kabupaten Aceh Besar. Sepertinya cinta dan wabah yang ditulis ole Gabo puluhan tahun yang lalu akan “dikalibrasi” ulang oleh Mawardi untuk masyarakat Aceh Besar. Ia ingin menunjukkan dan menggunakan cinta untuk melindungi rakyatnya dari kepungan wabah, dari pandemi terbesar dan terparah awal abad ke 21, Covid-19.

Dua hari yang lalu Mawardi memulai sebuah pekerjaan “kecil” dari sebuah pekerjaan besar yang menjadi “jantung” dari pengendalian Covid-19. Di tengah-tengah mentalitas “belanda masih jauh” dikalangan pemegang mandat publik di seluruh Aceh, ia memulai suatu pekerjaan, test PCR-SWAB untuk 2000 warganya. Ini adalah kemajuan, setelah berbulan-bulan cerita dan berita yang dikemas dalam bentuk seruan dan imbauan, kemudian diharapkan akan mencerahkan publik tentang pandemi Covid-19 di seluruh Aceh.

Kita tidak tahu apakah Mawardi sempat membaca atau menonton Youtube yang memperlihat ekspresi kekecewaan dan setengah marah Direktur Jenderal WHO Dr Tedros Adhanom Ghebreyesu pada tanggal 17 Maret 2020. Bosan dengan lambatnya respons sejumlah pemimpin di berbagai negara Dr Tedros berpesan dengan tiga kata, “TEST, TEST, and TEST”

Tanpa harus menjadi ahli kesehatan publik, ataupun epidemologi sekalipun, jika orang mengikuti perjalanan Covid-19 dari berbagai media, maka apa yang diserukan oleh Dr Tedros akan segera dapat ditangkap dan dimengerti. Cuci tangan, masker, social distancing, hindari kerumunan adalah tindakan-tindakan yang “bobot perangnya" lebih bernuansa bertahan pada level individu atau kelompok kecil individu. Mesti ada langkah-langkah besar yang walaupun sifatnya bukan “menyerang” tetapi lebih berbentuk “membendung” pandemi pada skala yang lebih luas secara geografis atau administratif.

Usaha membendung itu hanya dapat dilakukan dengan adanya sebuah “pemetaan” perjalanan dan transmisi pandemi yang sering disebut dengan rantai penyebaran infeksi pandemi. Rantai infeksi itu hanya akan didapatkan dengan test. Informasi yang seperti inilah yang akan memberi perintah kepada “otoritas” dalam hal ini pemerintah untuk mengambil berbagai sikap dan tindakan, lhobmate-lockdown, karantina individu, karantina wilayah adminstratif, upaya preventif lainya, dan bahkan pelayanan lanjutan kepada individu positif.

Test massal yang berlanjut juga akan memberi informasi terkini tentang tingkat keparahan sekarang, dan berbagai prediksi skenario yang mungkin terjadi di hari-hari mendatang. Intinya test massal yang berlanjut dan dipadukan dengan berbagai instrument analisa epidemologi lainnya akan memberikan pedoman tidak hanya untuk informasi pandemi semata, tetapi juga sangat membantu otoritas dalam memperkuat strategi preventif, menyediakan informasi rantai pasok logistik pandemi, dan persiapan seandainya terjadi outbreak-ledakan penyakit.

Kegiatan otoritas untuk pengendalian yang hanya diekspresikan dalam domain seruan, anjuran, dan imbauan mengenai Covid-19 , jika berjalan dalam waktu yang terlalu lama sesungguhnya lebih kental wajah politiknya daripada wajah policy. Mustahil mengharapkan apapun yang dikerjakan oleh pejabat publik tidak ada politiknya, karena kursi dari orang yang menyatakan dan berbuat adalah “kursi politik.” Tetapi bermain terlalu lama dengan bumbu politik dalam kebijakan publik, apalagi untuk pandemi yang mematikan ini, akan membuat terlalu mahal harga yang mesti dibayar, yakni korban manusia.

Sayangnya, informasi terakhir tentang informasi infeksi dan transmisi Covid-19 di Aceh yang didapatkan dari sebuah test yang sistematis dan serius nyaris belum terjadi. Bahwa ada satu dua test yang telah dilakukan sebelumnya, ataupun temuan via beberapa tempat di rumah sakit daerah hanya mempunyai dua wajah, uji coba ataupun prosedural rumah sakit. Dan karenanya, angka-angka individu positif yang telah didapatkan selama ini nyaris tidak dapat dijadikan sebagai pegangan untuk pengendalian Covid-19 di Aceh.

Berbeda dengan kebijakan pembangunan lainnya yang dapat dikerjakan pada waktu yang lain, bahkan dikejar waktunya, pandemi ini menyangkut dengan nyawa manusia, tidak dapat dikembalikan. Oleh karena itu, ukuran keseriusan pengendalian Covid-19 dari setiap daerah dibuktikan dengan ada atau tidaknya test, kecil atau besarnya test, dan test yang berlanjut atau berhenti.

Untuk berpindah dari ranah politik ke policy-kebijakan-maka yang diperlukan adalah data, dan data yang sangat penting dan “genting” untuk Covid-19 hanya didapatkan melalui test. Hal inilah yang dikerjakan oleh Mawardi, meninggalkan politik menuju policy, dan khusus untuk seluruh Aceh, di tengah “miskinnya“ wajah policy untuk Covid-19, ini adalah prestasi. Karena itulah nama Mawardi sekali ini layak disatu kalimatkan dengan Dr Tedros, sang komandan WHO.

Ketika saya menulis ini ada teman yang sempat baca dan berkomentar “terlalu besar bobot novel dari seorang pemenang nobel untuk disandingkan dengan apa yang dilakukan oleh Mawardi. Saya menantang pendapat itu dan saya persilahkan rekan itu untuk membantah tulisan saya di media secara terbuka. Dia tersenyum ringan walaupun akhirnya ia terbahak-bahak. Saya beralasan apa yang dilakukan oleh Bupati Aceh Besar itu adalah kisah nyata, upaya nyata menyelamatkan manusia yang di dalam novel hanya dilakoni oleh tokoh dan lokasi fiktif.

Walaupun belum mencapai titik puncak, dan mudah-mudahan tidak terjadi, kisah nyata tentang pandemi itu kini sedang di Aceh Besar, di Aceh, di Indonesia, di Afrika, dan bahkan di seluruh dunia. Individu, keluarga, dan publik dimana-mana kini dihadapkan dengan teka teki, kekuatiran, kesunyian, frustrasi, ancaman, kekecewaan, dan tidak tahu bagaimana harus memperbaharui harapan, agar selamat keluar dari ancaman pandemi ini.

Mawardi tidak sedang menjadi Florentino, Urbino, apalagi menjadi Fermina. Ia mungkin sedang mempersiapkan dirinya sebagai Gabo yang bukan sastrawan. Ia sedang menulis Love in the Time of Covid 19. Settingnya bukan di Pantai Karibia, Amerika Latin. Setting awalnya di Jantho dan terus mengalir ke seluruh Aceh Besar. Mudah-mudahan dia berhasil.

Penulis adalah Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Komentar

Loading...