Unduh Aplikasi

Dr Amri: Lakukan Audit Investigasi untuk Mengungkap Sengkarut di UPTD IBI Saree

Dr Amri: Lakukan Audit Investigasi untuk Mengungkap Sengkarut di UPTD IBI Saree
Kondisi sapi di UPTD IBI Saree. Foto: AJNN/Rahmat Fajri

BANDA ACEH - Alokasi pengadaan pakan ternak di UPTD IBI Saree dan UPTD IBI Ie Suum terdiri dari dua jenis yaitu pengadaan Konsentrat Ternak Ruminansia Rp 4,1 miliar serta pengadaan Hijauan Pakan Ternak Ruminansia sebesar Rp 2,9 miliar. Dengan demikian total alokasi anggaran pakan ternak untuk kedua UPTD tersebut sebesar Rp 7 miliar.

Berdasarkan keterangan kepala UPTD IBI Saree bahwa jumlah ternak sapi yang saat ini berada di UPTD IBI Saree sebanyak 480 ekor, sedangkan berdasarkan informasi yang diperoleh melalui laman Pemerintah Aceh, junlah sapi yang saat ini di UPTD IBI Ie Suum sebanyak 300 ekor yang terdiri dari 250 ekor sapi jenis Brahman Cross dan 50 ekor jenis sapi Bali.

Jika total anggaran pengadaan pakan untuk ke dua UPTD ini yaitu sebesar Rp 7 miliar dibagi dengan total jumlah sapi di ketua UPTD tersebut yang berjumlah 780, maka anggaran pakan setiap sapi per tahunnya sebesar Rp 8,97 juta. Jumlah tersebut belum termasuk pengadaan obat-obatan, serta vitamin.

Sebelumnya, masyarakat Aceh digegerkan oleh penampakan ratusan sapi di UPTD IBI Saree milik Dinas Peternakan Aceh. Sapi-sapi tersebut terlihat kurus seperti kurang asupan makanan serta tak terurus.

UPTD yang berlokasi di Saree, Kecamatan Lembah Seulawah, Aceh Besar ini merupakan unit teknis Dinas Peternakan Aceh yang tugas pokok dan fungsinya melakukan Inseminasi Buatan dan Inkubator.

Baca: Pergeseran Anggaran: Alokasi Pakan Rp 7,7 Miliar, Bibit Ternak Nihil

Kepala UPTD IBI Saree, Zulfadli juga menyebutkan bahwa pengadaan sapi itu sudah sejak tahun 2016 dan 2017.

Lebih lanjut, AJNN melakukan penelusuran terkait dengan pengadaan sapi di Dinas Peternakan Aceh tahun anggaran 2016 dan 2017. Untuk memperkecil cakupan wilayah, pengadaan sapi yang dimasukkan dalam kata kunci pencarian di laman LPSE dan SiRUP LKPP dibatasi hanya yang di lokasi Aceh Besar saja.

Berdasarkan penelusuran yang dilakukan, setidaknya terdapat 11 paket pekerjaan pengadaan sapi dengan total pagu sebesar Rp 22,4 miliar. Dari dokumen yang diperoleh baik pada laman LPSE Aceh yang didukung oleh tampilan dokumen pada laman SiRUP LKPP diperoleh total akumulasi pengadaan sapi berjumlah 1.386 ekor dari berbagai jenis.

Setelah 3 tahun sapi tersebut ditempatkan di UPTD IBI Saree ternyata jumlah sapi-sapi tersebut tidak bertambah, malah jumlahnya sangat jauh berkurang. Dari jumlah awal 1.386 ekor, tersisa hanya 490 ekor per Juni 2020.

Terkait berapa jumlah pasti sapi-sapi yang ada juga menimbulkan pertanyaan, dimana berdasarkan keterangan yang diperoleh oleh Ajnn.net dari Kepala UPTD IBI Saree maupun Kepala Dinas Peternakan Aceh tidak konsisten.

Dalam keterangannya, Kepala UPTD IBI Saree, Zulfadli, kepada AJNN Kamis, (4/6), menyebutkan jumlah sapi di peternakan yang Ia pimpin berjumlah 392 ekor dengan berbagai jenis, yakni ada sapi PO (peranakan ongole), Limousin, Simmental, Brahman, Bali dan juga ada sapi Aceh.

“Totalnya di data saya 392 ekor. PO pengadaan tahun 2016, Limousin, Simmental, Brahman dan Bali itu pengadaannya 2017, termasuk sapi Aceh juga. Terus kalau kerbau murah itu hibah dari Ditjen Peternakan lima ekor, satu betina empat jantan," tutur Zulfadli.

Sementara, saat wartawan berkunjung ke peternakan di Kecamatan Lembah Seulawah, Aceh Besar itu pada Jum’at,(5/6), saat dikonfirmasi Zulfadli kembali merevisi jumlah sapi yang terdapat di UPTD IBI Saree tersebut. Ia menyebutkan, terdapat 480 ekor sapi dari berbagai jenis.

Sehari kemudian melalui rilis yang diterima AJNN, Rahmadin, Kepala Dinas Peternakan Aceh menyampaikan klarifikasinya dengan menyebutkan bahwa jumlah sapi yang terdapat di UPTD IBI Saree sebanyak 490 ekor.

“Ada yang perlu kami klarifikasi supaya masyarakat menerima informasi yang utuh dan tidak terjadi bias. Luas UPTD Sare sekitar 19 hektar dan di dalamnnya terdapat 490 ekor sapi, yang menempati beberapa areal dan kandang. Masing-masing kandang ini beda peruntukannya,” tulis Rahmandi dalam klarifikasinya.

Kondisi sapi tersebut sangat berbanding terbalik dengan yang seharusnya jika mencermati alokasi anggaran setiap tahun yang digelontorkan melalui APBA untuk memenuhi kebutuhan pakan, vitamin, obat-obatan, vaksin serta fasilitas pendukung lainnya.

Untuk tahun 2019 saja Disnak Aceh melakukan pengadaan pakan untuk ternak di UPTD IBI Saree menggelontorkan anggaran sebesar Rp 3,5 miliar yang terdiri dari Paket Pengadaan pakan konsentrat untuk peternakan Saree, dengan pagu Rp 2,3 miliar. Paket pengadaan ini dimenangkan CV JAYA GUNA dengan nilai kontrak Rp 2,2 miliar. Pengadaan hijauan pakan rumanansia untuk Sapi di Saree. Pagunya Rp 1,8 miliar. Paket pengadaan ini dimenangkan CV Pin Technology dengan harga penawaran Rp 912 juta.

Lalu kegiatan pengadaan konsentrat untuk pakan Bull sapi Aceh (non tender) dengan pagu Rp 180 juta. Pengadaan ini dilaksanakan CV Firami Putra dengan kontrak Rp 107 juta. Pekerjaan fermentasi jerami pakan rumanansia di Saree (non tender). Pagu anggaran Rp 230 juta. Paket ini dikerjakan oleh CV Gaharu Mulia dengan kontrak Rp 121 juta. Terakhir, pekerjaan peningkatan padang pengembalaan di Saree (non tender) dengan pagu Rp 150 juta. Dimenangkan oleh CV Mulia Rifki dengan kontrak sebesar Rp 149 juta.

Disamping itu, Dinas Peternakan Aceh pada tahun 2019 lalu juga menganggarkan pengadaan obat-obatan, vaksin, vitamin, pupuk untuk tumbuhan pakan serta material dan peralatan Inseminasi Buatan (IB) untuk peternakan UPTD IBI Saree.

Anggaran yang dialokasikan sebesar Rp 2,9 miliar dengan 14 paket kegiatan. Lalu, pengadaan pupuk sebanyak 3 paket dengan anggaran Rp 252 juta.

Pengadaan obat-obatan dan vaksin terdiri dari pekerjaan pengadaan obat roburansia dan tonika pada ternak besar dan kecil sebesar Rp 300 juta, pengadaan obat antibakterial pada ternak besar dan kecil Rp 250 juta dan pengadaan multivitamin sebesar Rp 74 juta.

Kemudian, pengadaan obat penanggulangan penyakit septikimia epizotika ternak besar sebesar Rp 345 juta, obat anti defiensi, vitamin dan mineral pada ternak besar dan kecil Rp 468 juta, Obat pengobatan luka dan infeksi kulit untuk ternak Rp 280 juta, Obat Anthelmentika pada ternak besar dan kecil sebesar Rp 275 juta.

Pengadaan obat-obatan dan vitamin ternak Bull sebesar Rp 75 juta, Obat anti tympani / bloat pada ternak Rp 167 juta, Obat penyakit suraa untuk ternak Rp 180 juta, Vaksin hewan ternak Rp 140 juta, Obat Anthelmentika pada ternak untuk puskeswan Rp 100 juta, pengadaan pallet plastik Rp 150 juta dan Obat-obatan klinik hewan dengan pagu Rp 150 juta.

Sementara, anggaran yang dialokasikan untuk pengadaan pupuk terdiri dari pekerjaan perawatan kebun HMT dengan nilai pagu Rp 88 juta, paket pekerjaan pengadaan pupuk NPK sebanyak 10.000 kilogram dengan pagu Rp 70 juta, dan yang terakhir pengadaan pupuk Urea sebanyak 11.800 kilogram dengan anggaran Rp 94,4 juta.

Tahun 2020, Disnak Aceh juga mengalokasikan anggaran untuk pengadaaan pakan di UPTD Saree dan Ie Suum. Semula anggaran untuk kegiatan ini sebesar Rp 11.4 miliar, setelah pergeseran anggarannya turun menjadi Rp 8,5 miliar. Dari Rp 8,5 miliar ini alokasi anggaran yang berhubungan dengan pemenuhan pakan untuk ternak sapi terdiri dari pengadaan pupuk untuk padang penggembalaan dan kebun rumput sebesar 389,4 juta, pengadaan pupuk untuk pemeliharaan kebun HMT pola padat karya Rp 44 juta.

Kemudian kegiatan pengadaan bahan pakan ternak sebesar Rp 7,6 miliar yang terdiri dari pengadaan konsentrat ternak ruminansia di Saree dan Ie Suum Rp 4,5 miliar dan pengadaan hijauan ternak ruminansia di Saree dan Ie Suum Rp 3,1 miliar. Tetapi, berdasarkan penelusuran lebih lanjut di laman LPSE, pengadaan konsentrat ternak ruminansia di Saree dan Ie Suum nilainya menurun menjadi Rp 4,1 miliar. Demikian pula dengan nilai pengadaan hijauan ternak rumansia turun menjadi Rp 2,9 miliar. Dengan begitu, total pengadaan pakan tersisa Rp 7 miliar saja.

Selain itu pengadaan terdapat dalam kegiatan pengembangan laboratorium inseminasi buatan. Dalam kegiatan ini terdapat alokasi anggaran untuk pakan sebesar Rp 342 juta yang terdiri dari pengadaan fermentasi jerami sebesar Rp 92,5 juta, pengadaan konsentrat untuk pakan Bull sapi Aceh sebesar Rp 128,1 juta, pengadaan mineral blok/kotak ternak Bull sapi Aceh sebesar Rp 33,2 juta, pengadaan Molases Rp 35,7 juta, serta pengadaan molases pakan ternak UPTD IBI Rp 52,5 juta. Sehingga total alokasi anggaran untuk pengadaan pakan pada UPTD IBI Saree dan Ie Suum hanya sebesar Rp 7,7 miliar.

Baca: Anggaran Pakan Belasan Miliar, Sapi di Peternakan Saree Ditemukan Mati Kelaparan

Akademisi Unsyiah Dr. Amri M.Si yang merupakan Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis dari Universitas Syiah Kuala, menyoroti permasalahan sapi kurus yang kini jumlahnya tidak sesuai lagi jumlah pengadaan awal yang dilakukan Pemerintah Aceh pada kurun 2016 dan 2017.

Amri mendesak dilakukan Audit Investigasi, bukan Audit Normatif (audit biasa). Menurutnya, audit ini merupakan pemeriksaan dengan lingkup tertentu, periodenya tidak dibatasi, lebih spesifik pada area-area pertanggungjawaban yang diduga mengandung inefisiensi atau indikasi penyalahgunaan wewenang

“Segera lakukan audit investigasi guna mengetahui permasalahan yang terjadi guna mengungkap inefisiensi atau indikasi penyalahgunaan wewenang,” ujarnya.

Dengan audit investigasi maka periode pengelolaan ternak sapi baik di UPTD Saree maupun UPTD Ie Suum tidak dibatasi pada tahun anggaran tertentu saja misalnya hanya 2019, tapi juga bisa anggaran tahun 2016, 2017 dan 2018.

Amri menambahkan bahwa audit ini jangan dipersepsikan sebagai alat untuk mencari kesalahan atau penyimpangan semata, tapi juga untuk mengetahui mismanajemen yang terjadi guna menjadi masukan untuk perbaikan.

“Audit investigasi jangan dipersepsikan hanya untuk mencari-cari kesalahan atau penyimpangan, tapi hasil audit ini bisa untuk memperbaiki sistem dan kinerja UPTD dan Dinas Peternakan Aceh,” tutup Amri.

Komentar

Loading...