Unduh Aplikasi

DPRA Bakal Kaji Kembali Hukuman Cambuk bagi Pelaku Perkosaan dan Pelecehan Seksual

DPRA Bakal Kaji Kembali Hukuman Cambuk bagi Pelaku Perkosaan dan Pelecehan Seksual
Anggota DPRA, Darwati A Gani. Foto: For AJNN

BANDA ACEH - Dewan Perwakilan Rakyat Aceh bakal mengkaji kembali terkait hukuman cambuk kepada pelaku perkosaan dan pencabulan. Pasalnya hukuman cambuk selama ini tidak memberikan efek jera kepada pelaku.

Anggota DPRA, Darwati A Gani mengatakan penggunaan Qanun Jinayah telah membuat pelaku pencabulan dan perkosaan lebih banyak dihukum cambuk, bukan dihukum penjara atau denda.  

“Kebijakan seperti ini sangat merugikan korban. Hukuman cambuk saja sangatlah ringan, ini tidak memberi efek jera bagi pelaku,” kata Darwati A Gani, yang merupakan anggota Komisi I  membidangi Hukum, Politik, Pemerintahan dan Keamanan.

Pasalnya, kata Darwati, setelah hukuman selesai, pelaku akan kembali berada di tengah-tengah masyarakat dan ini memberi peluang pelaku mengulangi kembali perbuatan bejatnya. 

Belum lagi korban yang masih mengalami trauma dan ketakutan, karena dalam beberapa kasus, pelaku kembali datang kepada korban untuk mengancam karena telah melaporkannya.

Politisi PNA mengaku kalau pihaknya sudah menggelar pertemuan dengan LBH dan KontraS, bahkan dalam waktu dekat ini, pihaknya telah merencanakan untuk mengadakan pertemuan dengan pihak terkait seperti kepolisian, Mahkamah Syar’iyah, para akademisi dan pegiat sipil untuk mencermati perkembangan kasus yang terjadi di Aceh.

“Kami juga akan mengkaji kembali efektifitas penerapan hukuman cambuk bagi pelaku pemerkosaan dan pelecehan seksual,” ungkapnya.

Baca: Dek Gam Sorot Hukuman Cambuk bagi Pelaku Pencabulan

Menurutnya yang sangat terpenting adalah perhatian terhadap psikologis korban perkosaan dan pencabulan. Karena itu menyangkut dengan masa depan korban.

“Yang lebih penting lagi, kita juga harus perhatikan psikologis dan masa depan korban perkosaan. Kalau selama ini hanya sebatas menghukum pelaku,” ujarnya.

Istri Irwandi Yusuf ini juga menyorot kasus pembunuhan terhadap bocah 9 tahun di Aceh Timur, yang dibunuh oleh pelaku perkosaan terhadap ibunya.

“Ini kasus yang sangat keji, saya pribadi mengutuk kejadian itu, dan meminta pelaku dihukum dengan hukuman yang berat,” tegasnya. 

Data dari Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Provinsi Aceh menunjukkan telah terjadi 30 kasus perkosaan terhadap perempuan pada tahun 2018, dan 33 kasus terjadi pada tahun 2019. 

Sedangkan kasus pelecehan seksual terhadap perempuan pada tahun 2018 terjadi sebanyak 19 kasus dan pada tahun 2019 sebanyak 20 kasus.

Sementara untuk kasus perkosaan terhadap anak pada tahun 2018 sebanyak 96 kasus dan tahun 2019 sebanyak 91 kasus. Sedangkan kasus pelecehan seksual terhadap anak sebanyak 203 kasus pada tahun 2018 dan pada tahun 2019 sebanyak 166 kasus. 

Komentar

Loading...