Unduh Aplikasi

Doni Monardo, Sosok Jenderal Yang Peduli Lingkungan Hidup (VI)

Doni Monardo, Sosok Jenderal Yang Peduli Lingkungan Hidup (VI)
Foto: Ist

Oleh: Een Irawan Putra

Bagi mereka yang pernah menjadi anggotanya atau pernah bekerja bersamanya, pastinya tahu bahwa jika ia memiliki komitmen pasti akan ia kerjakan hingga tuntas.
Satu hari setelah serah terima jabatan Pangdam III/Siliwangi ia langsung turun ke Citarum. Selanjutnya mengundang semua kalangan ke markasnya. Mulai dari komunitas yang peduli lingkungan, komunitas sungai, tokoh masyarakat, tokoh budaya, LSM, media, hingga para pejabat dari pemerintah daerah dan kementerian/lembaga. Tujuannya satu, ia ingin mendengarkan masukan dan saran dari tamunya. Tidak cukup sehari, besoknya diundang lagi. Dari pagi hingga malam ia tetap fokus duduk dan mendengarkan. Bagi saya, sikap ini yang tidak banyak dimiliki oleh para pejabat kita.


Saat itu saya menanyakan "Apa nanti yang akan membedakan program Citarum yang pernah ada? Bagaimana memastikan program ini akan berkelanjutan atau terus berjalan jika Doni Monardo tidak lagi menjadi Pangdam III/Siliwangi?" Beberapa tahun sebelumnya telah ada berbagai program untuk memperbaiki Citarum. Namun, tidak ada yang hasilnya maksimal. Tidak lagi dijalankan ketika pejabatnya telah berganti. Bahkan, negara pernah berhutang ratusan juta dollar untuk menjalankan program tersebut.

"Saya tidak yakin Bang Doni menjabat Pangdam dalam waktu lama. Mungkin hanya beberapa bulan saja. Oleh karena itu, jika program ini mau dijalankan, harus menjadi mandatori. Siapapun nanti Gubernurnya, Pangdamnya, Kapoldanya ataupun menterinya, wajib menjalankan program ini. Yang bisa memberikan mandat kepada mereka semua hanyalah Presiden".

Setelah mendengar berbagai masukan, ia mengundang beberapa pakar dan ahli hukum. Meminta masukan untuk merancang draft Peraturan Presiden untuk menjalankan program ini. Sekaligus menjadi dasar hukum bagi anggota TNI untuk membantu menyelamatkan DAS Citarum.

Sebenarnya, sekitar dua minggu menjabat Pangdam, seorang pejabat di Istana Negara menghubunginya. Menyampaikan bahwa ia harus segera bergeser, naik bintang tiga dan menempati sebuah posisi baru. Namun, ia menyampaikan permohonan untuk bisa diberikan waktu untuk menjalankan program penyelamatan DAS Citarum. Mungkin di dalam hati, sang pejabat bilang begini "Ditawari bintang tiga, kok malah ngga mau".

Berkali-kali ia turun ke Citarum, mulai dari hulu hingga hilir. Melakukan pemantauan udara dengan helikopter. Serta terus-menerus bertemu dengan berbagai macam kelompok masyarakat. Meminta dukungan berbagai kalangan pejabat negara. Ketika Presiden Jokowi berkunjung ke Bandung, ia menyampaikan niatnya untuk menyelamatkan Citarum. Bahkan dengan fasih ia menyampaikan apa saja permasalahannya, kenapa harus segera diselamatkan dan langkah-langkah apa yang perlu dilakukan.

Pada kunjungan ke Bandung berikutnya tanggal 16 Januari 2018, Presiden membuat rapat terbatas (ratas) tingkat menteri sekaligus bertemu dengan para pemerhati lingkungan khusus untuk membahas permasalahan DAS Citarum. Saya ikut hadir pada ratas yang dilaksanakan di Grha Wiksa Putlisbang PUPR tersebut. Kepada Kepala KSP (saat itu) Teten Masduki dan Menteri LHK Siti Nurbaya, saya menyampaikan, seharusnya jika memang akan mengeluarkan Perpres untuk Citarum, saya harap Perpres tersebut tidak hanya untuk Citarum, namun setidaknya mencakup 14 DAS Prioritas Nawa Cita. Mereka menyampaikan nanti akan terlalu luas, dicoba dulu untuk Citarum.

Tanggal 22 Februari 2018, Presiden Jokowi mengunjungi Cisanti, Hulu Citarum. Selain menanam pohon manglid, Presiden juga mendeklarasikan program Citarum, dan ia akan komit mendukung penuh program ini. Targetnya tujuh tahun DAS Citarum akan berubah.

Tanggal 15 Maret 2018 Perpres tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan DAS Citarum disahkan. Tidak lama setelah Pepres dikeluarkan, tanggal 6 April 2018, Doni Monardo dilantik sebagai Sekjen Dewan Ketahanan Nasional (Wantannas). Resmi menyandang pangkat sebagai Letnan Jenderal. Pangkat bintang tiga yang sempat ditunda karena urusan Citarum. (Bersambung)

Penulis adalah Direktur Eksekutif Rekam Nusantara

Komentar

Loading...