Unduh Aplikasi

Doni Monardo, Sosok Jenderal Yang Peduli Lingkungan Hidup (V)

Doni Monardo, Sosok Jenderal Yang Peduli Lingkungan Hidup (V)
Foto: Ist

Oleh: Een Irawan Putra 

Tidak banyak yang tahu, ketika Mayjen TNI Doni Monardo menjabat Pangdam XVI/Pattimura ia pernah mengganti seluruh anggota TNI mulai dari babinsa, para pasi hingga perwira paling tinggi di salah satu Kodim. "Tidak mungkin bisa saya turun ke lapangan dan menutup aktivitas tambang emas ilegal ini jika anak buah saya sendiri terlibat" tegasnya. Namun, ia juga menyampaikan bahwa ia tidak bisa menyalahkan mereka, karena memang situasi atau keadaan yang membuat mereka terlibat. Saya pun mengamini. Bagaimana bisa menyapu lantai yang kotor jika sapunya tidak bersih.

Tidak banyak juga yang tahu bahwa selama aktif di TNI dan memegang tongkat komando ia tidak pernah mau menerima dana komando. Pernah mengusir salah satu pengusaha tambang dari ruangannya ketika pengusaha tersebut membawa satu kresek uang agar usaha tambangnya bisa tetap berjalan. Serta tidak mau "mundur" ketika teman satu angkatannya yang sudah bintang satu datang dengan salah satu pengusaha untuk mengajak menghentikan kegiatan Kodam menangkap para pelaku penambang mercury. "Yang perintahkan anggota menangkap mereka itu saya. Saya tidak akan mundur untuk menangkap mereka" tegasnya.

Komitmen yang sama juga ia sampaikan ketika akan menjabat Pangdam III/Siliwangi pada akhir 2017. Saat itu sebenarnya saya mengajaknya untuk kembali turun ke Ciliwung, karena ketika menjabat Danjen Kopassus ia menata Sungai Ciliwung di wilayah Cijantung. Namun, ia memberikan masukan agar kita urus dulu Citarum. Karena sungai ini diberitakan oleh banyak media internasional sebagai sungai terkotor di dunia. Sebagai seorang perwira tinggi, rasa kebangsaannya yang sangat tinggi merasa terusik dengan stigma tersebut.

Saat itu saya sampaikan "Benar nih mau serius urus Citarum? Karena akan ada banyak pihak yang merasa "terganggu" nantinya. Saya telah menelusuri Citarum beberapa tahun lalu. Ada ribuan pabrik tekstil yang sudah sangat nyaman membuang limbahnya sejak dari tahun 80-an. Sudah ganti Presiden, ganti menteri dan gonta-ganti Gubernur, limbah tidak pernah berhenti mengalir ke Citarum". Tanpa ragu ia menjawab " Saya akan hentikan mereka-mereka yang selama ini telah mengambil keuntungan dari rusaknya Citarum. Tunggu saya resmi menjabat, kita bergerak".

Malam tanggal 14 November 2017, pisah sambut jabatan dari Pangdam lama Mayjen TNI M Herindra ke Mayjen TNI Doni Monardo digelar di Graha Siliwangi. Dalam pidato pertamanya sosok Pangdam baru ini menyampaikan "Di Jawa Barat ini ada Gunung Gede Pangrango, Ada Gunung Halimun Salak. Ada DAS Citarum, DAS Ciliwung dan DAS Cisadane. Puluhan juta penduduk di DKI Jakarta dan Jawa Barat sangat bergantung padanya. Namun kondisinya sangat memprihatinkan. Sudah sangat kritis. Kita tidak lagi berperang dengan senjata, tapi kita akan berperang dengan kerusakan ekosistem. Inilah yang akan saya perangi".

Di hadapan Wakil Gubernur Jawa Barat, Kapolda, para Bupati, Wali Kota, dan para pejabat lainnya pidato itu disampaikan tanpa ada keraguan sama sekali. Saya yang duduk paling belakang tersenyum bangga. Baru sekali ini saya mendengar pidato seorang Panglima yang menyatakan akan berperang dengan kerusakan ekosistem.


Di penghujung acara, setelah semua tamu mengucapkan selamat datang di Jawa Barat, saya menghampiri. "Selamat. Pidatonya luar biasa" kata saya. Ia pun menarik tangan saya agar menjauh dari tamu "Eh, sudah benarkan pidato gw, En". "Sudah paling keren itu bang" jawab saya singkat. Lalu kami mendiskusikan beberapa langkah yang akan kami lakukan untuk merancang program penyelamatan DAS Citarum.

Saya yakin para tamu undangan yang hadir di Gedung Siliwangi malam itu pada bingung. Kok ada Pangdam yang pidatonya begitu. Sama bingungnya ketika saya pertama kali jumpa dengannya pada tahun 2017 lalu di Maluku. (Bersambung).

Penulis adalah Direktur Eksekutif Rekam Nusantara

HUT Pijay

Komentar

Loading...