Unduh Aplikasi

Doni Monardo, Sosok Jenderal Yang Peduli Lingkungan Hidup (III)

Doni Monardo, Sosok Jenderal Yang Peduli Lingkungan Hidup (III)
Gunung Tembaga, lokasi penambangan batu cinnabar, bahan baku membuat mercury. Foto: IST.

Oleh: Een Irawan Putra

Kaget, sekaligus geleng-geleng kepala ketika pertama kali sampai di puncak Gunung Tembaga. Ada sekitar 2000 penambang batu cinnabar, bahan baku membuat mercury. Jarak antar lubang sekitar 50-100 meter. Kedalaman lubang beragam, ada yang 20 meter. Ada yang mencapai 100 meter. Sebagian dari mereka adalah mantan penambang di Gunung Botak. 

Di atas gunung ini sudah seperti pemukiman baru. Lengkap dengan aliran listrik, bilik-bilik tempat tinggal, warung, dan gemuruh musik dangdut dan remix jika malam hari tiba. Minuman keras dan sebagainya tidak perlu lagi ditanya.

Untuk memastikan keamanan dan keselamatan saya dan tim, ada 6 orang prajurit TNI yang mengawal kami. Dipimpin seorang Mayor Infantri yang sebelumnya adalah mantan Kasdim Masohi. Tentu, untuk bisa mendapatkan cerita yang baik dan narasumber yang mau berbicara terbuka, tanpa paksaan, saya meminta para prajurit ini menjauh dari lokasi kami bekerja. Cukup pantau dan awasi dari kejauhan. 

Saya berusaha membangun hubungan yang baik dan penuh rasa kepercayaan dengan seluruh narasumber. Termasuk seorang perempuan asal Surabaya yang menjadi penampung besar logam berat ini.

Diluar dugaan, semua informasi di lapangan kami peroleh. Siapa nama-nama pembeli di Sentul, Sukabumi, Tangerang hingga beberapa tempat di Jawa Timur. Sekali kirim jumlahnya tidak tanggung-tanggung, mencapai belasan ton. Saat itu harganya Rp 120 ribu per kilogram. Semua harus dibayar dimuka, baru barang dikirim. Bisa dihitung berapa miliar uangnya dalam satu bulan.

Bahkan saya dan videographer saya dipersilahkan masuk ke dalam lubang jika ingin tahu bagaimana metode mengumpulkan batu cinnabar. Lubang dengan kedalaman 20 meter ini saya masuki, ketika saya tanyakan apakah videographer saya berani masuk. 

Penulis bersama rekannya saat memasuki lubang penambangan cinnabar. Foto: IST.

Dengan diameter lubang hanya bisa jongkok dan merangkak, kami menelusuri lubang tersebut. Panasnya luar biasa. Semua kamera yang kami bawa berembun. Saya terpaksa naik lagi ke atas untuk ambil kamera gopro dan handphone.

Kami menginap di Gunung Tembaga ini selama tiga hari dua malam. Tidur bersama para penambang dan penadah. Di situasi seperti inilah, kadang kita harus tidur "satu selimut" dengan musuh. Menyampaikan secara terbuka, bahwa mereka punya penghidupan, kita pun demikian. Harus mampu bernegosiasi bahwa kehidupan seluruh mahluk hidup di muka bumi ini akan terancam jika mereka tetap memaksakan cara penghidupan mereka.

Hasil dari perjalanan di Gunung Tembaga inilah saya berikan kepada seorang jurnalis senior Harian Kompas. Berharap Harian Kompas mau mengangkat isu ini. Jika tidak dicegah, Indonesia akan darurat mercury dalam beberapa tahun ke depan. Usulan saya ternyata disetujui dalam rapat redaksi Harian Kompas.

Tidak lama setelah itu, Harian Kompas menjadikan headline selama satu minggu lebih tentang ancaman mercury bagi masyarakat Indonesia. Seluruh jurnalis Harian Kompas diminta melakukan liputan tentang ancaman mercury di tempat mereka bertugas. (Bersambung).

Penulis adalah Direktur Eksekutif Rekam Nusantara

HUT Pijay

Komentar

Loading...