Unduh Aplikasi

Doni Monardo, Sosok Jenderal Yang Peduli Lingkungan Hidup (I)

Doni Monardo, Sosok Jenderal Yang Peduli Lingkungan Hidup (I)
Penulis bersama saat bertemu Doni Monardo yang saat itu (pertengahan 2017) masih menjabat Pangdam XVI/Pattimura. Foto: IST.

Oleh: Een Irawan Putra

Banyak yang bertanya, bagaimana awal mulanya saya mengenal sosok Letjen TNI Dr. (H.C) Doni Monardo.

Foto yang diambil pertengahan tahun 2017 inilah awal mulanya. Saat itu ia menjabat Pangdam XVI/Pattimura. Saya sedang berada di Ambon membantu perjuangan masyarakat Aru dalam gerakan #SaveAru dengan membuat nobar film dokumenter  tentang Aru di Universitas Pattimura. 

Ketika di Ambon, salah satu guru besar di IPB University menghubungi saya dan menyampaikan "Kau harus ketemu Doni Monardo. Dia sosok yang peduli lingkungan. Pasti kalian akan nyambung dan gerakan untuk peduli lingkungan akan semakin besar. Aku telpon sekarang agar kau bisa ketemu" katanya dalam bahasa Palembang.

Tentu saya harus menyiapkan mental untuk berjumpa dengan seorang perwira tinggi TNI. Apalagi seorang Panglima. Saya menjelaskan apa yang saya kerjakan selama 12 tahun terakhir dan kenapa saya memilih jalur ini. Melakukan investigasi, riset, advokasi dan membuat video-video dokumenter untuk membangun kesadaran dan kepedulian publik, pelaku usaha dan pejabat. Jika ini tidak dilakukan, berbagai kerusakan alam dan bencana akan melanda bangsa Indonesia.

Penulis bersama sejumlah rekan-rekannya saat bertemu Doni Monardo yang saat itu (pertengahan 2017) masih menjabat Pangdam XVI/Pattimura. Foto: IST.

Diluar dugaan, setelah saya menyampaikan itu semua. Dengan tegas ia menyatakan "Saya mendukung apa yang kamu lakukan. Hutan dan alam kita harus kita selamatkan. SDM dan penguasaan teknologi kita masih rendah. Satu-satu yang bisa kita andalkan di negara ini adalah kekayaan alamnya".

Tidak hanya itu, ia pun meminta saya membongkar jaringan perdagangan mercury di Maluku. Mulai dari Gunung Tembaga, Seram Bagian Barat hingga ke Sukabumi, Jawa Barat. Apa modusnya dan bagaimana dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat. Jika tidak dicegah, ini akan menjadi bom waktu bagi bangsa Indonesia.

Saya sampaikan, saya tahu kasus ini. Tapi ini mafia, jaringannya sangat kuat. Bagaimana safety dan security-nya? Salah satu jurnalis yang melakukan liputan tentang Gunung Botak saja harus dievakuasi ke Kodam lalu ke Makassar.

"Saya di belakang kamu dan satu Kodam ini di belakang kamu" tegasnya. Saya terperanjat. Kok bisa ada perwira tinggi TNI yang punya pemikiran seperti ini.

(Bersambung)


Penulis adalah Direktur Eksekutif Rekam Nusantara

HUT Pijay

Komentar

Loading...