Unduh Aplikasi

Dongeng Gajah Menjelang Punah

Dongeng Gajah Menjelang Punah
Ilustrasi: ashleytan.wordpress.com

KEMATIAN gajah di areal perkebunan sawit di Aceh Timur tak bisa dianggap sebagai hal biasa. Gajah betina itu mati diduga karena diracun. Dan hingga saat ini, pihak Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh belum menemukan jenis racun apa yang digunakan untuk menghabisi nyawa mamalia terbesar di daratan Sumatera itu.

April lalu, di areal perkebunan milik PT Dwi Kencana Semesta, juga ditemukan bangkai gajah. Namun hingga kini, tak ada satupun pihak yang bertanggung jawab atas kejadian itu. Padahal, tempat kejadian perkara dapat dijadikan pintu masuk. Tapi memang, kasus ini tak mudah untuk diungkap.

Di Kerajaan Aceh, gajah adalah kendaraan penting sebagai armada bala tentara Aceh melawan penjajahan. Saat itu, nama gajah juga dijadikan sebagai sebuah batalion tentara peperangan di masa kerajaan Aceh. Sekarang kondisi itu berbalik. Masyarakat ditakuti oleh aksi gajah-gajah yang merusak perkebunan, persawahan milik mereka

Gajah sering dianggap sebagai hama oleh para pencari keuntungan. Hewan ini tak pernah dipandang sebagai bagian penting dalam perjalanan sejarah Aceh. Semua ini disebabkan oleh ketamakan masyarakat dan perusahaan pemilik lahan sawit yang mencaplok areal “operasi” gajah liar itu.

Penebangan hutan dan pembukaan lahan secara serampangan membuat gajah kehilangan habitat. Belum lagi suara mesin potong kayu yang kerap memicu perilaku “kasar” gajah. Saat mereka dianggap gangguan, satu-satunya cara adalah dengan memusnahkan “penyakit” bagi perkebunan sawit itu.

Kasus kematian gajah yang tak terungkap tentu lebih banyak lagi di pedalaman hutan Aceh. Namun kabarnya tak pernah sampai ke Banda Aceh. Caranya pun bermacam-macam, dari meracuni hingga menyetrum. Saat ini, gajah di Aceh diperkirakan hanya berkisar 500 ekor tersebar di hampir semua kabupaten, khususnya di kantong-kantong habitat utama, seperti di dataran rendah di Aceh Timur, Pidie, Aceh Jaya dan Aceh Selatan.

Tanpa keberanian BKSDA dan kepolisian dalam mengungkapkan kejahatan lingkungan ini, populasi gajah akan semakin menurun. Lembaga Konservasi Dunia (IUCN) bahkan menaikkan status keterancaman gajah Sumatera dari “genting” menjadi “kritis”, hanya selangkah dari status punah di alam’.

Alasan pembangunan perekonomian dalam pembangunan tidak boleh merusak ekosistem saat ini. Beberapa izin perkebunan ditolak karena bersinggungan langsung dengan lintasan satwa. Namun, dalam praktiknya, pemerintah tak pernah mengindahkan laporan ini. Karena itu, setiap kebijakan yang diambil, atas nama apapun, harus tetap memperhatikan keseimbangan lingkungan. Kita tentu tak mau gajah dan hewan-hewan langka lain hanya jadi dongeng pengantar tidur bagi anak cucu.

Komentar

Loading...