Unduh Aplikasi

DKP Aceh Tepis Tuduhan Perlakuan Tidak Manusiawi Terhadap Pedagang di Lampulo

DKP Aceh Tepis Tuduhan Perlakuan Tidak Manusiawi Terhadap Pedagang di Lampulo
Pedagang ikan dan masyarakat saat berunjuk rasa di gedung Pos Pelayanan Kesyahbandaran di Pelabuhan Perikanan yang terletak di Lampulo, Senin (22/3). Foto: AJNN/Mulyana Syahrial.

BANDA ACEH - Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Aceh mengklarifikasi terkait aksi masyarakat di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Lampulo, Banda Aceh atas dugaan ulah oknum Pegawai Negeri Sipil (PNS) dinas terkait yang bersikap arogan terhadap pedagang di TPI Lampulo.

Menurut KA UPTD PPS Kutaraja Lampulo, Oni kandi, sebelum kejadian aksi, pihak petugas penertiban di pelabuhan perikanan PPS Kutaraja sedang menjalankan tugasnya sesuai Surat Keputusan nomor : 900/0213.1/7/2001.

Baca: Oknum Pegawai DKP Aceh Arogan, Warga Lampulo Gelar Aksi

Dimana, kata Oni Kandi, pedagang makanan dan pedagang ikan yang ilegal (enceran) tidak diperbolehkan berjualan. Sebab, yang diperbolehkan berdagang hanya pedagang grosir dalam skala besar maupun menengah.

"Sebenarnya tidak seperti yang mereka katakan, ngak logis juga lah, masak kami melakukan arogan yang tidak manusiawi, tidak mungkinlah," kata Oni Kandi, saat dihubungi AJNN, Senin (22/3).

Oni Kandi menceritakan, sebelum kejadian anarkis, petugas penertiban di pelabuhan perikanan PPS Kutaraja mengingatkan pedagang untuk tidak berjualan di tempat yang tidak dibolehkan.

Kemudian, ungkap Oni Kandi, pihak petugas mengarahkan supaya pedagang untuk segera berpindah tempat.

"Petugas mengambil tindakan tegas berupa mengambil paksa dagangannya, namun pedagang melakukan perlawanan sehingga pihak petugas mengembalikan dagangannya, bahkan pihak pedagang sendiri memberi ancaman kepada petugas," tutur Oni Kandi.

Oni Kandi mengatakan, ketika petugas sedang mejalankan tugasnya pihak yang tidak berkompeten atau tidak berkepentingan juga membantu dan memberi perlawanan kepada petugas. Sehingga petugas langsung mengamankan dirinya kedalam kantor pelayanan SPB.

"Sehinga masa semua berkumpul untuk memberi perlawanan dan petugas tidak berani memberi perlawanan di karenakan masa yang terlalu banyak, bahkan petugas langsung menghubungi pihak yang berwajib," sebutnya.

Komentar

Loading...