Dituding Serobot Lahan Warga dan Belum Ada Izin, Begini Penjelasan PT PBM

Dituding Serobot Lahan Warga dan Belum Ada Izin, Begini Penjelasan PT PBM
Koordinator Legalitas dan Perizinan, PT PBM, Muhammad Ikbal. Foto: AJNN/Aidil Firmansyah.

ACEH BARAT - Koordinator Legalitas dan Perizinan, PT Prima Bara Mahadana (PT PBM), Muhammad Ikbal, memberi penjelasan tentang sejumlah tudingan dan masalah yang terjadi sebab perusahaan tersebut. Menurutnya, karena sudah mengantongi dua surat dari Provinsi dan Daerah, pastinya sudah bisa memulai aktivitas disana.

Baca: Tanah Dirampas, Tokoh Masyarakat Sebut PT PBM Masuk seperti Preman

Perihal tudingan warga dan DPRK, ia akan berkoordinasi dan menyampaikan hal tersebut kepada pimpinan perusahaan. Pertama surat dari Bupati Aceh Barat dikeluarkan pada Juli 2021 yakni penekanan kepada perusahaan untuk produksi, kemudian surat dari Pemerintah Aceh.

“Kalau untuk persoalan izin, kita sudah memiliki izin yang pertama Izin Usaha Pertambangan (IUP) tahun 2017, sampai hari ini berlaku. Jadi berdasarkan dua itu, kita selaku pihak perusahaan PT PBM mengambil inisiatif, dalam hal ini, makanya kita melakukan penambangan walaupun ada hal hal lain yang kurang,” kata Ikbal kepada sejumlah Wartawan, Senin (15/11/2021) usai RDP di DPRK Aceh Barat.

Menurut Iqbal, PT PBM awalnya akan melakukan ekspor Batubara via pelabuhan Jetty di Meulaboh. Karena beberapa kendala yang dihadapi, apalagi melintasi kawasan padat penduduk pihaknya mengambil inisiatif untuk melakukan pengiriman melalui Pelabuhan Calang, Aceh Jaya.

“Kalau untuk Stockpile kita kan itu karena kewenangannya pelabuhan otoritasnya kementerian perhubungan, tentu kita hanya mereka yang berhak mengurus izin. Kita tidak mengadakan stockpile disitu, terutama masalah lingkungan untuk mengajukan izin lingkungan baru,” ungkap Ikbal.

Baca Selanjutnya...
Halaman 123

Komentar Pembaca

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Loading...

Berita Terkini