Unduh Aplikasi

Dituding Demo Cari Uang, Belasan Organisasi Pemuda Minta Bupati Tamiang Klarifikasi Pernyataannya

Dituding Demo Cari Uang, Belasan Organisasi Pemuda Minta Bupati Tamiang Klarifikasi Pernyataannya
Perwakilan 13 organisasi pemuda dan mahasiswa Aceh Tamiang saat memberikan keterangan kepada wartawan. Foto: For AJNN

ACEH TAMIANG - Tak terima aksi demo tolak UU Omnibus Law dituding ujung-ujungnya hanya untuk mencari uang. Sebanyak 13 perwakilan organisasi pemuda dan mahasiswa meminta Bupati Aceh Tamiang, Mursil, untuk membuat klarifikasi pernyataannya.

13 perwakilan organisasi pemuda dan mahasiswa yang mengatasnamakan dirinya "Gerakan Rakyat Tamiang Memanggil" itu, menilai pernyataan bupati Mursil telah membuat gerah mereka sebagai bagian yang ikut demo menolak UU Omnibus Law.

Apalagi pernyataan tentang ada sebagian pemuda yang meminta uang usai demo untuk beli tiket pergi ke Jakarta disampaikan oleh bupati di forum diskusi usai upacara sumpah pemuda, dihadiri banyak unsur.

Ketua KNPI Kota Kualasimpang, Hendra Cipta Darmawan, Sabtu (31/10) kepada sejumlah wartawan di sebuah warkop di Karang Baru, menjelaskan pada 28 Oktober 2020 di kantor Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga berlangsung upacara hari sumpah pemuda ke 92. Setelah upacara, dilanjutkan forum diskusi.

Saat diskusi itu, Hendra selaku Ketua KNPI Kota Kualasimpang menyarankan kepada bupati agar di Aceh Tamiang dibuat fasilitas sirkuit untuk pemuda yang hobi balap, sebagai upaya meminimalisir terjadinya kecelakaan di jalan raya.

Kata Hendra, saran dari dirinya itu mulanya disambut baik oleh Bupati Mursil dengan mengatakan 'sangat baik saran dari kamu. Namun setelah itu bupati menyinggung dengan menanyakan apakah para pemuda gak ikut aksi demo tolak UU Omnibus Law.

Kemudian Bupati mengatakan, terkait aksi demontrasi yang dilakukan pada 9 Oktober 2020 oleh mahasiswa dan pemuda, ada yang menemui dirinya meminta agar menandatangani petisi penolakan Undang-undang Omnibuslaw, waktu itu bupati mengaku menolak karena dirinya belum membaca naskah UU tersebut.

"Cuma ujung-ujung nya mereka meminta tiket keberangkatan ke Jakarta, kalau memang mereka hanya meminta uang kenapa harus demo dulu, kalau memang mau uang langsung saja jumpai saya secara pribadi, gak perlu harus pakai aksi demo segala karena banyak amplop kosong di ruangan saya," kata Hendra meniru pernyataan Bupati.

Terkait pernyataan itulah, pihaknya merasa keberatan dengan apa yang diutarakan oleh Bupati Mursil di dalam forum diskusi.

"Karena aksi demontrasi yang kami lakukan murni dari buah fikir dan hati kami, setelah melakukan konsolidasi akbar pada 7 Oktober 2020. Tidak ada pihak manapun yang kami minta untuk mendanai pergerakan ini, termasuk pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang," ungkapnya.

Untuk itu, sambung Hendra, pihaknya meminta kepada Bupati Aceh Tamiang untuk melakukan klarifikasi terkait pernyataan yang telah disampaikan dalam forum diskusi di halaman kantor Diapora waktu itu.

Permintaan yang sama juga disampaikan oleh Koordinator FL2MI Wilayah Aceh, Amiruddin, ia berharap Bupati Mursil membuat klarifikasi atas pernyataan itu.

Amiruddin mengaku tidak ada menemui bupati untuk meminta uang beli tiket pergi ke Jakarta setelah demo.

Sementara itu, Bupati Aceh Tamiang, Mursil yang dikonfirmasi AJNN via selulernya, Minggu (1/11) mengatakan, apa yang disampaikan oleh 13 perwakilan organisasi pemuda dan mahasiswa itu hanya sebuah upaya untuk membenturkan dirinya dengan mahasiswa.

"Itu ada upaya membenturkan saya dengan mahasiswa, itu saja tulisnya ya," jawa Bupati Mursil singkat.

Komentar

Loading...