Unduh Aplikasi

Disleksia di Masa Pandemi

Disleksia di Masa Pandemi
Foto: Ist

Oleh: dr. Munadia, SpKFR

Belajar di masa pandemi merupakan tantangan baru bagi setiap anak terutama anak disleksia. Anak berusaha keras mengerahkan kemampuannya untuk berkonsentrasi, fokus pada satu titik ke arah laptop dalam jangka waktu lama untuk mengikuti proses pembelajaran jarak jauh secara online (daring = dalam jaringan). Belajar secara daring dalam jangka waktu yang sama seperti sekolah biasanya. Apakah cara belajar seperti ini adalah cara belajar yang tepat untuk anak disleksia? Apakah hal ini membuat proses belajar tetap efektif? Pertanyaan ini terus menjadi tanda tanya bagi semua pihak terutama orang tua yang tetap membayar iuran bulanan sekolah. Bagaimana anak disleksia yang membutuhkan pendampingan saat proses belajar? Dilema orang tua juga yang tidak sempat menemani anak belajar karena bekerja, hal ini terus menjadi beban pikiran yang tak tau kapan akan berakhir.

Disleksia adalah suatu kesulitan belajar spesifik yang terjadi pada anak  berintelektual normal bahkan bisa diatas normal. Mereka mengalami kesulitan dalam proses membaca, mengenal huruf, menggabungkan huruf perhuruf menjadi sebuah silabel hingga menjadi kata, yang disebabkan oleh gangguan bahasa (ekspresif) dalam mengenal bunyi fonem sejak dini, jauh sebelum sekolah dasar dimulai. Sayangnya orang tua dan guru sekolah usia dini belum mengenal gangguan bahasa yang terjadi pada anak Disleksia sampai mereka berada di usia membaca.

Di usia sekolah, anak disleksia yang tidak terintervensi bukan saja memperlihatkan kesulitan membaca, namun sudah disertai dengan kelainan penyerta lainnya seperti masalah perilaku berupa kecemasan, terganggunya percaya diri, tidak bisa diam, lebih agresif, suka memukul, tidak sopan, sulit kosentrasi, suka menunda sehingga sering terlambat. Kondisi ini mengkhawatirkan menurut pakar dari Asosiasi Disleksia Indonesia (ADI) karena mengenal anak disleksia di usia sekolah dasar dikatakan sudah terlambat. Hal ini disebabkan diagnosis disleksia jarang berdiri tunggal, kelainan penyerta yang sering bersama disleksia adalah disgrafia, diskalkulia, masalah fungsi eksekutif, dispraksia (gangguan koordinasi gerak) dan Attention Deficit Hyperactive Disorder (ADHD).  Anak disleksia perlu dikenali sebelum mereka gagal dalam proses membaca.    

Profesor Angela Fawcett, wakil presiden asosiasi disleksia dunia menyatakan bahwa anak disleksia membutuhkan waktu lebih lama dalam menguasai satu topik , misalnya anak normal membutuhkan waktu dua jam maka anak disleksia membutuhkan waktu dua jam kuadrat yaitu empat jam dalam menguasai topik yang sama. Anak disleksia mempunyai cara yang berbeda dalam berpikir dan belajar, inilah yang perlu dikenali dengan cepat sehingga kita dapat memberikan akomodasi dan fasilitas yang tepat untuk mendukung proses belajar mereka. Salah satunya adalah memberikan waktu lebih dalam menyelesaikan tugas, sehingga kerap mereka harus mengikuti kelas remedial dengan metode khusus yaitu metode multisensori yang ramah pada disleksia.

Nah bagaimana jika mereka belajar secara daring? Dimana proses belajar sangat cepat dengan interaksi individual yang minim. Siapakah yang akan memastikan bahwa anak disleksia ini sudah memahami pelajaran yang dipelajarinya atau tidak? Bagaimana jika anak disleksia yang tidak ditemani oleh orang tua saat belajar daring? Mereka bisa mengalihkannya dengan bermain game, mematikan suara guru, atau menutup videonya. Jika hal ini terus berlanjut, maka kita akan kehilangan generasi yang berfikir out of the box dikemudian hari. Dilema ini membuat orang tua semakin kebingungan menghadapi anaknya yang mulai menolak belajar dengan memperlihatkan perilaku semakin agresif, penolakan, dan jatuh kedalam kehidupan gadget yang sangat sulit dilepas. Sangat diharapkan kondisi kesulitan belajar pada disleksia ini diketahui oleh para pemangku kebijakan. 

Menunggu selesainya masa pandemi adalah sesuatu yang tidak dapat dipastikan. Orang tua segera harus menyusun strategi sendiri untuk anaknya yang disleksia untuk dapat belajar secara tepat. Jadikan masa pandemi adalah masa mengenal anak lebih dalam, pelajari karakternya dalam belajar, bagaimana cara ia memahami pelajarannya, pahami kesulitan yang dialaminya dan susunlah strategi. Anak disleksia membutuhkan pendamping yang memahaminya saat belajar, dan orang tua adalah orang pertama yang sangat berpotensi mengajar anaknya yang disleksia, bukan orang lain.

 Mulailah mengajar dari kemampuan si anak, bukan dari usianya. Orang tua perlu memahami tahapan perkembangan anak di semua area (motorik kasar dan halus, bahasa, sosial-emosi, kemandirian dan kognitif). Keterampilan fungsi eksekutif yang juga terganggu pada disleksia, perlu diasah dan dilatih di rumah dengan cara hidup disiplin. Anak mulai diberikan tanggung jawab dalam mengurus dirinya sendiri.

Hal utama yang harus dikuasai anak dibawah usia lima tahun adalah mampu mengurus dirinya dalam hal mandi sendiri, melepas dan memakai baju sendiri, mempersiapkan makan hingga makan sendiri. Jika ketrampilan dasar ini sudah dikuasai, berikan tanggung jawab membantu orang lain seperti menyiapkan tempat makan, mencuci piring sebelum makan, mematikan lampu setiap pagi, menyiram bunga, menyikat sepatu dan sandal, dan kegiatan lainnya yang biasa dikerjakan dirumah. Aturlah jadwal kegiatan anak bersama, biasakan anak bangun pagi seperti masa sebelum pandemi.

Bagi yang beragama muslim penerapan salat berjamaah tepat waktu sangat membantu belajar disiplin.  Tetaplah mengajarkan anak hidup teratur dalam semua hal di masa pandemi ini.  Proses melaksanakan keterampilan mengurus diri adalah hal yang dapat melatih kemampuan otak dalam proses memori, mengontrol emosi dan berpikir fleksibel yang merupakan tugas utama fungsi eksekutif di otak. Anak diajarkan secara teratur mengingat tahapan-tahapan dalam menyelesaikan tugas kemandiriannya. Proses memori, mengingat urutan, mencari pemecahan masalah, menentukan prioritas, menahan diri saat pekerjaan gagal untuk dapat melanjutkannya lagi adalah kelanjutan dari fungsi eksekutif yang harus mampu dikuasai oleh setiap individu untuk menjadi sukses di kemudian hari. 

Fungsi eksekutif adalah pondasi untuk belajar membaca nantinya, dimana anak harus mampu mengingat urutan bunyi huruf untuk digabungkan membentuk suatu kata, sementara otak secara fleksibel melakukan tugas ganda dengan mencoba memahami arti kata dan kalimat dalam waktu bersamaan. Kemampuan mengontrol diri untuk mempertahankan kosentrasi, duduk diam juga sangat dibutuhkan saat proses belajar membaca. Berikanlah anak jeda sesuai dengan kemampuan kosentrasinya, tugas yang diberikan dipecahkan menjadi kelompok-kelompok kecil untuk diselesaikan. Menyelesaikan tugas dapat diselingi dengan jeda bermain yang bermanfaat seperti menyusun puzzle dan lego, mengelir dan hal-hal yang menyenangkan anak, tanyakan pada anak apa yang ingin dilakukan. 

Keterampilan koordinasi gerak juga perlu diajarkan di usia dini untuk persiapan menulis nantinya. Salah satu cara melatih keterampilan ini adalah anak diberikan tugas semua aktifitas mengurus dirinya, seperti yang telah disebutkan diatas. Bermain bersama orang tua seperti belajar menggunting, melipat kertas, meronce adalah hal melatih koordinasi tangan kanan dan kiri. Kemampuan memegang pensil sudah bisa diajarkan di usia 3 tahun, dimana anak pada usia 4 tahun anak sudah mampu menulis nama pendeknya. 

Menurut dokter ahli saraf anak Sally Shaywitz di buku “Overcoming Dyslexia” perkembangan bahasa yang baik akan menentukan kemampuan membaca si anak dikemudian hari, terutama dalam penguasaan jumlah kosakata. Keterampilan membaca adalah hal yang harus dipelajari, karena tidak terjadi secara otomatis dan dibawa sejak lahir. Perbanyak dialog dan berinteraksi pada anak akan menambah wawasan anak dalam memahami setiap kata, selain juga menambah pembendaharaan kosakata.

Pada penelitian Hart B dan Risley TR di tahun 2003, jika anak mendengar 2153 jumlah kata perjam di usia bawah dua tahun dari orang tuanya, maka pada usia 3 tahun ia mampu menguasai 1116 kata dan pada usia 4 tahun 45 juta kata. Tanpa kita sadari kita telah menyiapkan anak membaca sebelum usia membacanya datang. Mulailah berinteraksi secara intens dengan anak kita di masa pandemi ini.  Membaca buku cerita setiap hari dan bermain game seperti ular tangga akan menambah pemahaman bahasa sosial yang akan digunakan nanti saat ia bergaul dengan temannya. 

Bulan Oktober adalah bulan disleksia dunia, banyak acara yang diadakan oleh Asosiasi Disleksia Indonesia secara gratis dalam mengkampanyekan mengenal dan cara belajar disleksia untuk masyarakat Indonesia, guru, dan profesi lainnya serta pemangku kebijakan untuk menyelamatkan generasi disleksia yang mampu berpikir kreatif seperti Albert Einstein, Ingvard Kamprad (penemu IKEA), Tom Cruise, Mohammad Ali, Abdullah Gymnastiar (AA Gym) dan masih banyak tokoh disleksia lainnya yang berhasil. Bagi teman-teman yang ingin mengikuti kegiatan ADI dapat membuka website www.asosiasidisleksiaindonesia.com   

Penulis adalah Ketua Asosiasi Disleksia Indonesia Cabang Aceh

Gemas-Dinas pendidikan aceh

Komentar

Loading...