Unduh Aplikasi

Dirjen Kemenag Kaget Situs Karantina Haji di Sabang Dibiarkan Terbengkalai

Dirjen Kemenag Kaget Situs Karantina Haji di Sabang Dibiarkan Terbengkalai
Situs Karantina Haji di Pulau Rubiah yang terbengkalai dan tidak terurus, Foto: AJNN.Net/Rahmat Fajri

BANDA ACEH - Direktur Pelayanan Haji Luar Negeri Kemenag, Sri Ilham Lubis mengaku terkejut mendengar bangunan karantina haji di Pulau Rubiah, Sabang yang telah menjadi situs sejarah itu tidak terawat dan dibiarkan terbengkalai oleh pemerintah daerah.

Saat Sri Ilham mengunjungi lokasi bangunan bersejarah itu, ia kaget ketika melihat tempat bersejarah itu diselimuti semak belukar dan banyak ditumbuhi ilalang setinggi pinggang orang dewasa.

Dirinya juga baru mengetahui bahwa gedung karantina jamaah haji Indonesia tersebut ada di Pulau Rubiah, dan dibangun sejak 1920 semasa kolonial Belanda.

Setelah meninjau kondisi bangunan secara keseluruhan, Sri Ilham cukup prihatin milihat gedung bersejarah itu tidak tersentuh perawatan bahkan renovasi dari pemerintah.

“Kalau kami lihat bangunan ini memprihatinkan, atapnya sudah roboh, jalannya sudah pecah-pecah, retak, jadi memprihatinkan,” kata Sri Ilham saat mengunjungi situs karantina haji di Pulau Rubiah, Selasa (24/6).

Seharusnya, kata Sri Ilham, jika terawat, bangunan itu bisa dimanfaatkan mengingat kilas balik perjalanan haji di Indonesia. Namun, jika kondisinya seperti ini, maka sangat perlu dilakukan renovasi serta pemugaran kembali oleh yang berwenang.

"Jika ini dipugar, jamaah haji bisa tahu bagaimana sejarahnya dulu jamaah haji dari Pulau Sumatera, ketika kembali menunaikan ibadah haji, mereka sempat singgah karantina disini," ujarnya.

Baca: Situs Karantina Haji di Pulau Rubiah Rusak dan Tak Terawat

Memang, berdasarkan informasi yang diterima Sri, bangunan karantina haji yang dibangun sejak 1920 itu sebelumnya pernah dipugar. Tetapi karena tidak terawat, gedungnya kembali rusak.

"Plafonnya roboh, dindingnya sudah retak, halamannya ditumbuhi ilalang dan banyak sampah dedaunan di dalam ruangan," tuturnya.

Meski sudah berusia tua, ada sisi yang masih manandakan bahwa bangunan itu dibangun pada zaman Belanda. Yaitu mulai dari lantainya hingga ventilasi udara yang masih asli dan bentuk jendela di bangunan itu.

“Saya benar-benar takjub, melihat bangunan ini masing-masing dibangun dari zaman Belanda dulu sampai sekarang,” ujar Sri Ilham.

Terkait kondisi tersebut, Sri berharap masyarakat Aceh bersama unsur pemerintahan terkait agar dapat agar membangun dan merenovasi. Untuk kemudian dapat dilestarikan sebagai tempat wisata religi atau napak tilas dan manasik haji.

“Kami mendorong pihak pemda dan Kanwil agar bisa merenovasi, sehingga masyarakat bisa datang ke sini. Akses juga perlu dibenah," pungkas Sri Ilham.

Untuk diketahui, berdasarkan tulisan yang tertera pada monumen di lokasi bangunan tersebut dijelaskan bahwa gedung karantina haji itu merupakan bangunan asrama haji di zaman kolonial yang terletak di pulau rubiah, Sabang, Aceh. Pada tahun 1920, pulau rubiah ini dijadikan sebagai tempat karantina bagi jamaah haji yang baru pulang dari Mekkah.

Karantina haji pulau Rubiah adalah objek bersejarah dalam riwayat perjalanan haji Indonesia, dan tempat ini merupakan pusat karantina haji pertama di Indonesia.

Komentar

Loading...