Unduh Aplikasi

Direktur RSUDCND Paparkan Hasil Investigasi Pasca Kematian Pasien B

Direktur RSUDCND Paparkan Hasil Investigasi Pasca Kematian Pasien B
Direktur RSUDCND Aceh Barat, dr. Putri Fathiyah. Foto: AJNN/Darmansyah Muda

ACEH BARAT - Manajemen Rumah Sakit Umum Daerah Cut Nyak Dhien (RSUDCND) Meulaboh melakukan investigas pasca meninggalnya pasien berinisial B, warga Desa Lapang, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat pada Rabu (24/8) malam, di Ruang Penyakit Infeksi New Emerging dan Re Emerging (Pinere).

Sebagaimana diketahui, pada saat pasien B meninggal dunia keluarga pasien sempat melakukan protes dan terjadi keributan karena pelayanan di rumah sakit itu dinilai buruk oleh keluarga pasien sehingga memicu keributan.

Dari hasil investigasi yang dilakukan pihak rumah sakit tersebut, Direktur RSUDCND Meulaboh, dr. Putri Fathiyah, SpB mengaku petugas medis yang bertugas saat itu telah melakukan berbagai upaya terhadap B.

Baca: Diduga Gejala Corona Tanpa Rapid dan Swab, Keluarga Pasien di RSUDCND Meulaboh Mengamuk

Dikatakannya, sejak pertama masuk, B yang divonis memiliki gejala tepapar Corona Virus Disease terus dibawah pengawasan dokter.

"Pasien B, sejak pertama masuk mulai dari IGD (Instalasi Gawat Darurat-red), Pemeriksaan dan screening di IGD dilakukan dokter Herdi, dokter petugas IGD. Riwayat anemnasa pasien didapati demam tinggi, menderita sesak nafas, batuk berdahak dan dialami pasien selama tiga hari sebelum masuk rumah sakit," kata Direktur RSUDCND Meulaboh, dr. Putri Fathiyah, SpB.

Sebelum B dibawa ke ruang Pinere, kata dia, dokter bertugas di IGD melakukan pemeriksaan, ditemukan adanya rongki diseluruh paru. Petugas melakukan pemasangan O2 lewat nasal kateter sebanyak 5 liter per menit.

Dan di IGD, kata dia, pasien juga sempat menjalani perawatan selama dua puluh menit, sebelum dipindahkan ke Pinere menggunakan ambulan, sekira pukul 01.30 WIB dini hari.

B, kata Putri, baru dibawa ke rumah sakit oleh keluarganya setelah tiga hari di rumah, dibawa dalam keadaan sesak dan setengah sadar, berdasarkan pengakuan dokter Herdi yang melakukan pemeriksaan.

"Pasien diduga tepapar Covid-19 Saat masuk lewat IGD, dengan screening ketat. Ada sepuluh keluhan lebih pasien sehingga dicurigai memiliki gejala Covid-19. Karena pemeriksaan itu, pasien dipindahkan ke Pinere," ungkapnya.

Di Pinere, kata dia, petugas terus melakukan pengawasan terhadap pasien. Guna memastikan kondisi B, kata dia, petugas terus memantau keadaan sesak yang dialami B dan saat itu dengan kesadaran masih menurun serta tekanan darah pasien 126/84 pernapasan 28 kali per menit.

"Hotriet 9 kali permenit dengan suhu tubuh 38,6 derajat celcius, dan didiagnosa dengan observasi febris dan dengan disebabkan Phenomia," cerita Putri.

Ungkap Putri, pada pagi hari sekira pukul 10.00 WIB dilakukan periksaan ulang oleh dokter Silvana yang merupakan spesialis paru, dan didapati gejala phenomia at causa Covid-19.

Usai dilakukan pemeriksaan pada pagi sekira pukuk 10.00 WIB oleh dokter Silviana, perawat terus melakukan pemantauan vital terhadap pasien.

"Pada pukul 11. 00 WIB dilakukan konsul dengan dokter anastesi dan dianjurkan pasang NGT dan kateter. Pada pukul 18.00 WIB, dokter umum juga melakukan kembali visiter hasil visiter terhadap pasien tidak didapatkan kemajuan terapi," sebutnya.

Pasien, kata dia, memang sempat direncanakan toraks foto atau foto dada, namun tidak dapat dilakukan lantaran semua petugas medis saat itu menjalani isolasi mandiri.

Kata dia, pihak rumah sakit sempat mencari petugas dari rumah sakit lain, untuk membantu melakukan poto ronsen namun tidak ditemukan.

Begitu juga dengan upaya swab, sebutnya, tidak dapat dilakukan karena ketiadaan petugas sebab salah seorang dokter patologi klinik RSUSCND Meulaboh, dokter HL sedang menjalani perawatan sebab terkonfirmasi Covid-19.

Pasien juga sempat dilakukan pemeriksaan di Laboratorium dengan hasil terjadi kelainan di sel darah putihnya.

Tidak hanya itu, Putri menjelaskan pasien sudah direncanakan rujuk, namun informasi dari Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin saat itu belum bisa menerima pasien rujukan sehingga pasien hanya dalam pemantauan.

Pada pukul 20.00 WIB, kata dia, dilakukan visiter kembali oleh dokter dan kesadaran pasien telah menurun penuh dengan istilah medis disebut dengan kesadaran penuh. Dan pada pasien dengan kesadaran cukup rendah peluang sadar sudah cukup kecil.

"Saat pasien dalam keadaan sekarat, terjadi pergantian shift jaga. Saat pergantian shift tersebut keluarga pasien membuat keributan," kata dia.

Dimana dalam kondisi petugas yang baru melakukan pergantian shift sedang menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap keluarga pasien, beriteriak dan memaki petugas, padahal memakai Alat APD lengkap, kata dia, membutuhkan waktu lama.

"Saat keluarga pasien melakukan perbuatan-perbuatan yang merendahkan petugas sedang menggunakan APD seperti mendobrak pintu, menendang kardus dan kursi, tapi para petugas tidak melakukan perlawanan meski telah direndahkan," ungkap Putri

Harusnya, kata dokter bedah itu ketika pasien dalam kondisi sekarat keluarga mendampingi dan mengcupkan kalimah suci seperti syahadat kepada pasien.

Akan tetapi dalam peristiwa tersebut, kata dia, sengaja direkam dan disebarluaskan sehingga pihak rumah sakit dibully oleh warga.

Lewat video tersebut, kata putri, kini di media sosial tersebar tentang hal tidak baik terhadap rumah sakit itu. Padahal, kata dia, petugas telah melakukan berbagai upaya.

Meski demikian, kata Putri pihaknya tidak memperpanjang persoalan itu ke ranah hukum, meski merasa disudutkan dan dicemarkan lewat video tersebut.

Komentar

Loading...