Unduh Aplikasi

Diplomasi Kopi Gubernur Nova

Diplomasi Kopi Gubernur Nova
Ilustrasi: 123rf

PEMBICARAAN di Warung Kopi Solong Pango, kemarin siang, antara Gubernur Aceh, dan Ketua Partai Demokrat Aceh, Nova Iriansyah, dengan para petinggi partai politik di Aceh mengalir apa adanya. Bahkan dalam kesempatan itu, Nova menyatakan keinginannya meminang Mawardi Ali, Bupati Aceh Besar dan Ketua Partai Amanat Nasional, sebagai calon wakil gubernur.

Mawardi menganggap hal itu sebagai lelucon. Namun satu hal yang ditangkap dari pembicaraan itu adalah betapa cairnya suasana pertemuan itu. Ini adalah kejutan-kejutan lain setelah beberapa bulan terakhir, khususnya sebelum pelantikan Nova sebagai Gubernur Aceh, terjadi kebekuan komunikasi antara para pemimpin partai politik di Aceh. 

Apa yang terjadi di Solong itu harus dihargai sebagai sebuah proses politik yang baik. Sebagai seorang pemimpin tertinggi di kelompoknya, para ketua partai, yang hadir dalam pertemuan itu berusaha membuka diri. Menjadi mata dan telinga untuk menemukan hal-hal baru yang dibutuhkan dalam pembangunan, tentu saja lewat proses politik. 

Keberadaan para pemimpin partai politik dalam pertemuan itu juga menunjukkan keinginan untuk mengedepankan dialog. Karena memang komunikasi adalah alat utama dalam bernegosiasi. Ini adalah kunci yang menjadikan sesuatu lebih baik. Saat seseorang terbuka untuk berkomunikasi, ini artinya akan terjalin hubungan untuk memahami perbedaan penafsiran yang sering berujung pada permusuhan. 

Pertemuan para petinggi partai politik juga akan membuka banyak kesempatan dan kemungkinan. Terutama di saat Aceh dihadapkan pada sejumlah persoalan regulasi yang menghambat perkembangan Aceh. 

Diplomasi kopi ini harus berlanjut dengan kesepakatan untuk menomorsatukan kepentingan Aceh. Tak ada lagi Partai Demokrat, Partai Amanat Nasional, Partai Golkar, Partai NasDem, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan atau partai-partai lain. 

Jangan lagi ada permusuhan yang mengorbankan banyak kepentingan rakyat Aceh. Di saat-saat susah seperti ini, Aceh membutuhkan pemimpin yang berinisiatif untuk menyatukan dan menjaga semangat persatuan itu. Bukan untuk kepentingan partai semata atau golongan mereka saja. 

Dan yang terpenting, setiap pemimpin partai politik yang ada di Aceh harus menunjukkan kerendahan hati, satu sama lain. Mengedepankan kearifan ketimbang ego. Dan semangat pertemuan di Solong Pango itu bukan sekadar perjamuan sesaat yang hilang setelah gelas kopi dicuci.

Komentar

Loading...