Unduh Aplikasi

Dipanggil DPRK, Direktur RSUDCND: Kami Butuh Dukungan Bukan Cacian

Dipanggil DPRK, Direktur RSUDCND: Kami Butuh Dukungan Bukan Cacian
dr. Fathiyah, SpB

ACEH BARAT - Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Cut Nyak Dhien (RUSDCND) Meulaboh, dr. Fathiyah, SpB meminta Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Barat untuk memberikan dukungan terhadap RSUDCND Meulaboh dalam memberikan pelayanan.

Permintaan itu disampaikan Putri, saat menghadir Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi D, DPRK Setempat yang dipimpin Wakil Ketua Dua DPRK, Kamaruddin pada Rabu, (2/8) terkait dengan meninggalnya pasien berinisial B, warga Desa Lapang, Kecamatan Johan Pahlawan.

Dikatakan Putri, saat peritiswa meninggalnya pasien B, pihaknya selama ini bukannya diberikan dukungan namun malah dihujat tanpa tahu akar masalahnya.

Harusnya, kata dia, DPRK tidak menyudutkan pihak rumah sakit atas kasus tersebut, apalagi sampai ada anggota DPRK yang menyampaikan lebih baik berobat ke dukun dari pada ke rumah sakit.

“Ada pejabat yang ngomong tidak ada yang begini, tidak ada yang begitu. Itu pejabat yang ngomong begitu coba sekali turun tangan, ada tidak. Kalau saya bukan lagi tidak sanggup menguraikan air mata atas kematian, saya sudah kebal. Kami sudah kebal, kalau saya tidak kebal pak sudah saya tutup itu rumah sakit,” kata Direktur RSUDCND Meulaboh, dr. Putri Fathiyah, SpB dihadapan DPRK setempat.

Kata dia, pihak rumah sakit terus dihujat dan dipojokkan atas peristiwa meninggalnya pasien B.

Dikatakannya, hujatan-hujatan terus terjadi di media sosial namun pihaknya hanya bisa baca hujatan-hujatan tersebut tanpa mempersoalkannya.

“Kami selama ini terus dipojokkan baik media sosial, media mainstream. Memang ada beberapa media yang mengopinikan atau mendukung kami, Alhamdulillah. Tetapi bagaimana dengan merendahkan. Coba bapak lihat di media sosial bagaimana saya dihujat selaku direktur,” kata Putri.

Dikatakan Putri, saat ini rumah sakit tersebut membutuhkan dukungan moril dari semua kalangan baik terhadap manajerial maupun pelayanan di rumah sakit itu.

Dikatakannya petugas dari rumah sakit tersebut, terutama tenaga dokter datang dari berbagai wilayah di Indonesia bertugas di rumah sakit tersebut untuk melayani warga Aceh Barat dibidang kesehatan.

Menuruutnya, jika para dokter dari luar Aceh tersebut mengundurkan diri dan meninggalkan Aceh Barat maka rumah sakit tersebut tidak akan mampu melayani masyarakat jika yang tersisa hanya beberapa dokter asli kabupaten itu.

“Kalau semua mereka bubar maka tidak mungkin jika hanya putra Aceh Barat termasuk saya disitu mampu melakukan semuanya. Saya butuh mereka semuanya. Tolong, tolonglah dukung kami, kami butuh dukungan moril bukan materil,” ungkap Putri.

Dalam pertemuan itu, putri ikut menjelaskan terkait dengan kronologis awal pasien B masuk ke rumah sakit tersebut, mulai dari Instalasi Gawat Darurat hingga dipindahkan di Pinere, dan pasien dikatakannya terus dalam pengawasan medis.

Ia juga meminta kepada salah seorang anggota DPRK setempat untuk tidak membandingkan dokter dengan dukun, sebab kata dia untuk menjadi dokter harus menempuh jenjang pendidikan yang tidak singkat.

Bukan hanya waktu, dan materil, kata dia, untuk menjadi dokter dan tenaga medis lainnya seperti perawat juga harus mempersiapkan moril dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat

“Kami dalam bertugas bukan hanya 1 x24 jam, bahkan 24 jam sehari untuk terus melayani. Jadi apakah hujatan itu sebanding, tidak sebanding pak. Dengan diam saja tanpa komentar itu sudah cukup bagi kami, tidak ada dukungan itu tidak apa-apa, asal jangan caci maki,” sebut dia.

Komentar

Loading...