Unduh Aplikasi

Dinkes Aceh Barat dan Tim Gugus Dinilai Tak Serius Cegah Penyebaran Corona

Dinkes Aceh Barat dan Tim Gugus Dinilai Tak Serius Cegah Penyebaran Corona
Ilustrasi. Foto: Net

ACEH BARAT - Salah seorang keluarga dari penderita Corona Virus Disease (Covid-19), Afrizal Abdul Rasyid (40), mengeluhkan sikap dinas kesehatan dan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupate Aceh Barat.

Pasalnya, GTPP Covid-19 dan dinas kesehatan setempat dinilai tidak respon terhadap warga yang terpapar Covid-19. Seperti yang dialami oleh kakak dan abang sepupunya yang saat ini berdomisili di Krueng Tinggai, Kecamatan Samatiga. Dimana hingga saat ini tidak mendapat penanganan apapun meski telah dinyatakan positif Covid-19 dari hasil swab yang keluar 5 September lalu.

“Saya merasakan sendiri ada dua keluarga saya yang terpapar Covid-19 berdasarkan hasil swab yang keluar tanggal 5 september kemarin. Tapi selama isolasi mandiri tidak diperhatikan apa-apa,” kata Afrizal, Kamis (10/9).

Ia mengungkapkan kalau dua keluarga yang terpapar Covid-19 itu sedang menjalani isolasi mandiri di rumah, dimana untuk kebutuhan obat dan vitamin selama ini terpaksa membeli dengan uang pribadi, karena tidak diperhatikan oleh dinas kesehatan setempat.

Tidak hanya itu, selama proses isolasi mandiri dua keluarganya tersebut tidak dapat menjalani aktivitas di luar rumah, namun tidak pernah mendapat bantuan sembako dari pemerintah, baik tingkat kabupaten maupun desa.

“Abang sepupu saya dan kakak sepupu saya yang terkena Covid-19 tidak bisa keluar beraktivitas tapi juga tidak ada bantuan apa-apa selama tidak bisa bekerja,” ungkapnya.

Kata dia, selama ini tim gugus tugas dan dinas kesehatan tidak melakukan swab terhadap keluarga besarnya yang sempat bersentuhan langsung dengan kakak dan abang sepupunya tersebut. Namun saat itu dinas kesehatan sempat menjanjikan akan melakukan swab terhadap 10 orang keluarganya, namun janji tersebut tidak kunjung dilakukan.

“Ada sekitar 10 orang waktu itu keluarga saya yang memiliki gejala kearah covid. Sempat dijanjikan swab pada tanggal 5 September, tapi hingga kini melewati masa-masa kritis dari serangan virus itu tidak juga kunjung di swab,” ujar Afrizal.

Saat itu, kata dia, sebanyak 10 orang keluarganya itu juga sempat dua kali mendatangi laboratorium milik Dinas Kesehatan Aceh Barat, namun tidak ada petugas, dan saat datang kedua kalinya petugas memberikan alasan lain, sehingga swab kembali batal dilakukan.

Yang paling parah, kata dia, usai ada dua orang keluarganya yang terkonfirmasi positif Covid-19, dan ada sepuluh orang yang menunjukkan gejala, namun dinas kesehatan tidak melakukan tindakan apapun.

“Harusnya ada screening yang dilakukan sehingga dapat diketahui siapa saja yang kontak langsung dengan kakak sepupu dan abang sepupu saya ini. Termasuk mungkin ada warga desa setempat. Tapi ini tidak dilakukan,” kata dia.

Ia mengaku khawatir dengan kondisi tersebut dan bisa saja virus bercode SARAS-CoV-2 itu menyebar dengan cepat di Kabupaten Aceh Barat, karena lemahnya kinerja dinas dan GTPP Covid-19 Aceh Barat.

“Jadi saya harap agar dilakukan swab untuk 10 orang ini juga, dan saya juga minta dilakukan screening agar mudah dilakukan tracking terhadap mereka yang pernah kontak erat dengan abang sepupu dan kakak sepupu saya. Kalau 10 ini sedang melakukan isolasi mandiri, termasuk istri saya juga menjalani isolasi mandiri setelah merasakan gejala,” sebut dia.

Afrizal mengaku apa yang disampaikan ini untuk mencegah agar tidak semakin banyak warga Aceh Barat terpapar Covid-19. Menurutnya Covid-19 bukan lah penyakit aib yang harus mengucilkan penderitanya.

“Jadi saya ingin menjadikan ini pengalaman bagi kita, dan meminta petugas untuk serius dalam penanganan. Jangan anggap ini aib karena ini bukan penyakit aib,” imbuhnya.

Komentar

Loading...