Unduh Aplikasi

Dinilai Terlalu Murah, Warga Pidie Tolak Harga Ganti Rugi Lahan Pembangunan Tol

Dinilai Terlalu Murah, Warga Pidie Tolak Harga Ganti Rugi Lahan Pembangunan Tol
Foto: Ist

PIDIE - Pembebasan lahan untuk pembangunan infrakstrur jalan tol penghubung Sigli-Banda Aceh (Sibanceh) masih menuai polimik, pasalnya belasan warga selaku pemilik lahan tak terima harga yang telah ditetapkan pihak terkait.

Setidaknya belasan warga Gampong Trieng Gogo, Kecamatan Padang Tiji, Kabupaten Pidie yang terimbas pembangunan jalan tol mengaku perbandingan harga yang ditetapkan pihak terkait dibawah harga pasaran di kawasan itu.

"Harga tanah dan harga toko yang ditetapkan pihak terkait di bawah harga pasaran di kawasan itu," kata pemilik lahan dan ruko Buchari (50) kepada wartawan, Minggu (6/9).

Buchari mengatakan, tanah miliknya yang terimbas jalan tol di pinggir jalan Banda Aceh-Medan seluas 200 meter, begitu juga bangunan dua unit toko lantai dua, namun harga tanah yang dibandrol hanya Rp 415 ribu permeter sementara harga pasaran mencapai Rp 600 ribu permeter.

Sementara harga bangunan dua unit toko hanya dibandrol hanya 177 juta juga tidak sesuai dengan harga pasaran.

"Kami keberatan dengan harga yang ditetapkan pihak terkait karena tidak sesuai dengan harga pasaran," kata yang juga didampingi beberapa pemilik lahan lainnya yang bermasib sama.

Hal senada diungkapkan Hurriman (33), selaku pemilik tanah dan bangunan toko, dia menyayangkan sikap pemerintah yang dinilai telah merugikan pemilik lahan, pasalnya harga tanah dan bangunan ruko ditetapkan terlalu murah dari harga pasaran.

“Pernah kami komplain langsung ke Kanwil BPN Aceh agar dapat meninjau ulang penetapan harga tanah yang akan diganti rugi, namun hingga saat ini belum ditanggapi,” katanya.

Pada prinsipnya, pemilik lahan sangat mendukung pembangunan jalan Tol Sibanceh, namun pembebasan lahan tidak merugikan.

“Kami tegaskan akan tetap mempertahankan tanah dari proses pembebasan dan pembangunan jalan tol hingga penetapan harga tanah dapat ditinjau ulang," katanya.

Komentar

Loading...